Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Wednesday, March 5, 2008

Dulu, Dulu Sekali, Saya Pernah Mengalaminya

Oleh Septina Ferniati, ibu dua anak, tinggal di Bandung.

dead of hunger

DENGAN si sulung Ilalang saya baru saja habiskan waktu berdua. Setelah dia tuntaskan PR-nya, dan saya sudah sangat capek menekuni terjemahan, kami berinisiatif cari makan. Bukan karena kami kebanyakan uang. Namun karena di rumah saya tidak masak banyak. Tahu tumis bawang jahe sudah habis sejak sarapan, siang pun diisi dengan acara makan spageti pemberian seorang teman istimewa. Jadi sore ke malam memang tidak ada apa-apa. Maka harus ke luar.

Meski gerimis, kami semangat. Saya susui dulu si bungsu yang baru enam belas bulan usianya, sampai tertidur. Ayahnya di rumah, tidur bareng dia. Lalu kami ke luar, agak jauh dari rumah, karena saya dan Ilalang ingin ke Surabi Imut.
(selanjutnya…)

Friday, February 22, 2008

Cinta

Oleh Zaenal M. — Yayasan Paramatha

Barangkali ada orang berkata: “Tuhan telah mengambil orang yang kukasihi.” Itu karena engkau berpikir bahwa dialah satu-satunya kekasihmu dan engkau adalah orang yang mencintainya; padahal cinta Tuhan meliputi segala sesuatu dan cinta-Nya itu lebih besar dari yang engkau miliki.

“AKU adalah khazanah terpendam; Aku cinta (hubb) dikenal, maka Aku ciptakan makhluk.” (Hadits Qudsi)

Karena cinta Ilahi (divine love), alam semesta hadir, demikianlah pada awalnya kita harus memandang “cinta”. Tanpa cinta segenap petala langit dan bumi akan lenyap binasa. Daya ini merayap menuruni lereng penciptaan dan manifestasi Ilahi, mulai dari martabat yang tertinggi hingga yang paling kasar (alam materi), dan merasukinya tanpa kecuali.
(selanjutnya…)

Sunday, February 17, 2008

‘Guru Sejati dan Muridnya’ Sudah Diluncurkan

cover guru sejati

“Bawa Muhaiyaddeen tidak mendidik muridnya untuk menjadi Islamolog maupun pengkaji tasawuf yang hafal pelbagai istilah rumit, dan menjadikan para muridnya menang dalam setiap perdebatan ilmiah. Yang Bawa lakukan adalah mendidik para muridnya untuk hidup dan ‘bernafas’ dalam teori-teori tersebut sehingga esensinya mampu ditangkap oleh murid-muridnya.”

BERIKUT kutipan ‘Visi Buku Ini’ dari Pustaka Prabajati, sebagaimana tertulis dalam bukunya:

“…Buku ini langka karena di masa ini cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan literatur konkrit tentang cara seorang Mursyid sejati dalam memberikan bimbingan kepada para muridnya, dengan muatan yang mampu menggambarkan interaksi mereka dengan baik. Umumnya literatur yang tersedia dalam mengulas hal tersebut, biasanya ada dalam konteks masa Islam klasik, dengan gaya bahasa maupun istilah yang tidak mudah dipahami oleh pembaca umum. Kadang bimbingannya ditulis dalam bentuk hikayat. Selain itu, karena perbedaan masa yang terpaut jauh dengan masa kita sekarang, biasanya buku-buku tersebut memerlukan interpretasi yang lebih dalam lagi untuk bisa diturunkan dalam level kehidupan kita sehari-hari di masa kini.
(selanjutnya…)

Monday, January 14, 2008

Balap Kelereng

Oleh Herry Mardian

“…dan diri-diri mereka pun hilang, perlahan-lahan berubah menjadi ucapan-ucapan shalat yang beterbangan satu demi satu ke arah Tuhan mereka.”

INGAT nggak, ketika kita kecil, mungkin di suasana perayaan tujuh belasan di kampung? Di sebuah lintasan rumput atau tanah, ada beberapa lintasan yang dibatasi tali rafia. Kita, yang masih kanak-kanak, ada di salah satu lintasan tersebut. Di depan wajah kita, ada sebuah sendok yang kita gigit pangkalnya. Di cekungan sendok itu ada kelereng. Kita jaga mati-matian supaya kelereng itu tidak jatuh dari sendok, selama kita berjalan secepat mungkin menuju garis finish di depan sana.
(selanjutnya…)

Sunday, November 18, 2007

Pengenalan Diri: Pengetahuan dan Kebahagiaan

Oleh Alfathri Adlin.

(Tulisan ini dimuat di harian Kompas, Sabtu 17 November 2007)

Kearifan kuno ihwal kaitan antara pengetahuan dan pengenalan diri tersebut kini sudah benar-benar terlupakan. Pengetahuan lebih sering dikembangkan bukan untuk mengenal diri manusia sendiri, melainkan untuk mengetahui, atau bahkan mengeksploitasi, segala hal selain diri manusia.

DALAM sebuah film yang ditayangkan oleh satu stasiun televisi swasta diceritakan kisah seorang Ibrahim Al-Haqq dari Turki. Ibrahim mengalami peristiwa yang agak ganjil, yakni melihat seseorang di kejauhan yang selalu berteriak-teriak: “… di mana engkau… di mana engkau…?”

Begitu sering orang di kejauhan itu terlihat. Bahkan, semakin hari sosok tersebut semakin terlihat dekat, atau terlihat di sela-sela kerumunan orang. Ibrahim semakin penasaran, hingga ia bertanya kepada sahabatnya: “Siapakah orang gila yang setiap hari selalu berteriak-teriak mencari seseorang itu?”

Akan tetapi, sang sahabat malah balik bertanya: “Orang gila yang mana? Aku tidak melihatnya.” Bagi Ibrahim tetap saja sosok tersebut terlihat, semakin dekat, semakin dekat hingga akhirnya dia pun berhadapan langsung dengan sosok tersebut. Betapa terkejutnya Ibrahim melihat sosok tersebut, yang ternyata adalah dirinya sendiri. Ia memberi banyak wejangan kepada Ibrahim, antara lain sebuah ungkapan, “Fungsi pengetahuan adalah untuk mengenal diri”.
(selanjutnya…)

Thursday, August 2, 2007

Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis

Oleh Herry Mardian

SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat ‘Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan ‘yang manis-manis’? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).
(selanjutnya…)

Friday, July 20, 2007

Bangkit Dari Keterpurukan

Sebuah cuplikan buku renungan Herry Mardian, tertanggal 31 Januari 2004.

bangkit

…….”BERSULUK itu bangkit dari keterpurukan,” katanya padaku dengan lembut, bertahun-tahun yang lalu. Dan baru sekarang dapat kuraba sedikit makna dari kata-kata itu. Bangkit dari keterpurukan, adalah dari keterpurukan jiwa dan keterpurukan jasad. Keterpurukan ukhrawi, dan keterpurukan duniawi.
(selanjutnya…)

Wednesday, July 11, 2007

Rasa Cinta Yang Salah

cinta yang berkurang

[Tanya]

Ass Wr. Wb.

Mas Her, mau tanya. Saya sudah menikah, dan pasangan saya baik sekali. Tapi kenapa ya, belakangan ini saya merasa sedang tidak terlalu mencintainya, dan ada saja kekurangan dia di mata saya sekarang. Bahkan mulai tumbuh rasa ’suka’ kepada sahabat saya yang lain? Saya setengah mati menahan rasa ini, tapi rasa itu tetap ada.
(selanjutnya…)

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites