<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Suluk |</title>
	<link>http://suluk.blogsome.com</link>
	<description>Herry Mardian's site: Kumpulan artikel, renungan, tulisan, dan jurnal tentang Allah, jati diri, makna Al-Qur'an, makna agama dan makna hidup.</description>
	<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 16:22:18 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Ayat &#8216;Mengharap Wajah-Nya&#8217;</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/11/18/ayat-mengharap-wajah-nya/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/11/18/ayat-mengharap-wajah-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 04:30:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/11/18/ayat-mengharap-wajah-nya/</guid>
		<description><![CDATA["Siapa yang beramal demi pahala, niscaya akan letih dengan harapan. Siapa yang beramal karena takut siksa, niscaya akan letih dengan prasangka baik. Siapa yang beramal <i>demi Wajah-Nya</i>, niscaya tiada letih baginya." ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>INGAT ungkapan Imam An-Nifari berikut ini?</p>
	<blockquote><p>&#8220;Siapa yang beramal demi pahala, niscaya akan letih dengan harapan. Siapa yang beramal karena takut siksa, niscaya akan letih dengan prasangka baik. Siapa yang beramal <i>demi Wajah-Nya</i>, niscaya tiada letih baginya.&#8221; </p>
	<p>(Imam An-Nifari)</p></blockquote>
	<p>Beramal demi &#8216;wajah-Nya&#8217;. Sebenarnya &#8216;beramal demi wajah-Nya&#8217; cukup jelas ayatnya di Qur&#8217;an. Ungkapan sufi besar tersebut kongruen dengan, salah satunya, ayat berikut&mdash;yang sayangnya tersamar oleh interpretasi bahasa Indonesianya.<a id="more-192"></a></p>
	<p>Kalau kita perhatikan Al-Quran Surat <i>Al-Lail</i> [92] : 20, biasanya interpretasi bahasa Indonesianya dituliskan sebagai berikut:</p>
	<blockquote><p>&#8220;Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena <u>mencari keridhaan</u> Tuhannya yang Maha Tinggi.&#8221;</p></blockquote>
	<p>Sementara kalau kita perhatikan teks arabnya,<br />
<img src='/images/92_20.jpg' alt='Q.S. 92 : 20' /></p>
	<blockquote><p><i>&#8220;Illabtighaa&#8217;a wajhi rabbihil a&#8217;la&#8221;</i></p></blockquote>
	<p>Ada kata <i>&#8216;wajhi Rabbihi&#8217;</i> (wajah Rabb-nya) di ayat tersebut. Terjemahan literalnya, tanpa interpretasi,  sebenarnya adalah,</p>
	<blockquote><p>&#8220;Kecuali yang mengharap wajah Rabb-nya yang Mahatinggi.&#8221;</p></blockquote>
	<p><i>&#8220;Ibtigha&#8221;</i> adalah &#8216;mengharap&#8217;, &#8216;mengejar&#8217;, &#8216;menghasratkan&#8217;, &#8216;menginginkan&#8217; atau &#8216;mencari&#8217;. </p>
	<p>&#8220;Mengharap/mencari wajah <i>Rabb</i>-nya&#8221;. Menarik ya? Dan ayat itu disambung dengan,<br />
<img src='/images/92_21.jpg' alt='Q.S. 92 : 21' /></p>
	<blockquote><p>&#8220;(Dan) sungguh, akan meraih <i>keridhaan</i>&#8221; </p>
	<p>(<i>interpretasi Depag:</i> &#8216;dan kelak dia sungguh-sungguh akan meraih <u>kepuasan</u>&#8216;) .&#8221;</p></blockquote>
	<p>Siapa itu, mereka yang &#8216;mengejar/mencari wajah Rabb-nya&#8217; itu? Kita sama-sama buka Qur&#8217;an surah 92 saja, lah ya?</p>
	<p>Semoga bermanfaat <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/11/18/ayat-mengharap-wajah-nya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Masuklah Pada-Ku Seorang Diri</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/11/12/masuklah-pada-ku-seorang-diri/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/11/12/masuklah-pada-ku-seorang-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 06:49:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/11/12/masuklah-pada-ku-seorang-diri/</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya, jika engkau mendatangi-Ku berbekal amal perbuatanmu, maka akan Aku sambut dengan penagihan dan perhitungan. Jika engkau mendatangi-Ku berbekal ilmu, maka akan Aku sambut dengan tuntutan! Dan jika engkau mendatangi-Ku dengan <i>ma'rifat</i>, maka sambutan-Ku adalah <i>hujjah</i>, padahal <i>hujjah</i>-Ku pastilah tak terkalahkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/allah_gr__.jpg' alt='Allah' align='right' style='padding:0 55px 0 20px'/></p>
	<p>Allah berseru pada hamba-Nya,</p>
	<blockquote><p><i>&#8220;Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu!</p>
	<p>Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!</p>
	<p>Engkau melihat kepada amal perbuatanmu, walau baik sekalipun, tak layak bagi-Ku untuk memandangnya. Maka janganlah engkau masuk kepada-Ku besertanya!</p>
	<p>Sesungguhnya, jika engkau mendatangi-Ku berbekal amal perbuatanmu, maka akan Aku sambut dengan penagihan dan perhitungan. Jika engkau mendatangi-Ku berbekal ilmu, maka akan Aku sambut dengan tuntutan! Dan jika engkau mendatangi-Ku dengan </i>ma&#8217;rifat<i>, maka sambutan-Ku adalah </i>hujjah<i>, padahal </i>hujjah<i>-Ku pastilah tak terkalahkan.</i></blockquote>
<a id="more-191"></a></p>
	<blockquote><p><i>Hendaklah engkau singkirkan </i>ikhtiar<i> (ikut mengatur dan menentukan kehendak-Nya untuk dirimu&mdash;red), pasti akan aku singkirkan darimu tuntutan. Hendaklah engkau tanggalkan ilmumu, amalmu, </i>ma&#8217;rifat<i>-mu, sifatmu dan </i>asma<i> (nama) mu dan segala yang ada (ketika mendatangi-Ku), supaya engkau bertemu dengan Aku seorang diri.</p>
	<p>Bila engkau menemui-Ku, dan masih ada diantara Aku dan engkau salah satu dari hal-hal itu, &mdash;padahal Aku-lah yang menciptakan semua itu, dan telah Aku singkirkan semua itu darimu karena cinta-Ku untuk mendekat kepadamu, sehingga janganlah membawa semua itu ketika mendatangi-Ku&mdash;, jika masih saja engkau demikian, maka tiada lagi kebaikanmu yang tersisa darimu.</p>
	<p>Kalau saja engkau mengetahui, ketika engkau memasuki-Ku, pastilah engkau bahkan akan memisahkan diri dari para malaikat, sekalipun mereka semua saling bahu-membahu untuk membantumu, karena keraguanmu itu (bahwa ada penolongmu dihadapan-Nya selain Dia&mdash;red.), maka hendaklah jangan ada lagi penolong selain Aku.</p>
	<p>Jangan pernah engkau melangkah ke luar rumah tanpa mengharap keridhaan-Ku, sebab Aku-lah yang  menunggumu (di luar rumah&mdash;red.) untuk menjadi penuntunmu.</p>
	<p>Temuilah Aku dalam kesendirianmu, sekali atau dua kali setelah engkau menyelesaikah shalatmu, niscaya akan Aku jaga engkau di siang dan malam harimu, akan Aku jaga pula hatimu, akan Aku jaga pula urusanmu, dan juga keteguhan kehendakmu.</p>
	<p>Tahukah engkau bagaimana caranya engkau datang menemui-Ku seorang diri? Hendaknya engkau menyaksikan bahwa sampainya hidayah-Ku kepadamu adalah karena </i>kepemurahan-Ku<i>. Bukan amalmu yang menyebabkan engkau menerima ampunan-Ku, bukan pula ilmumu.</p>
	<p>Kembalikan pada-Ku buku-buku ilmu pengetahuanmu, pulangkan pada-Ku catatan-catatan amalmu, niscaya akan aku buka dengan kedua tangan-Ku, Kubuat ia berbuah dengan pemberkatan-Ku, dan akan kulebihkan semuanya itu karena kepemurahan-Ku.&#8221;</i></p></blockquote>
	<p>(Dari kitab <i>&#8216;Al-Mawaqif wal Mukhtabat&#8217;</i>, Imam An-Nifari, dengan beberapa kalimat yang diperbaiki tata bahasanya.)
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/11/12/masuklah-pada-ku-seorang-diri/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Imam An-Nifari: Makna Al-Islam</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/11/10/imam-an-nifari-makna-al-islam/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/11/10/imam-an-nifari-makna-al-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 06:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Pengetahuan Islam Dasar</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/11/10/imam-an-nifari-makna-al-islam/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Allah berseru kepada hamba-Nya:
	&#8220;Hendaklah engkau menyerah kepada-Ku dengan sepenuh hatimu, dan menyerah kepada perantara-perantara dengan tubuhmu, supaya engkau bersama-Ku dengan kemauan kerasmu, dan bersama selain-Ku dengan akal budimu.

	Maka engkau senantiasa menghimpun kemauan kerasmu atas-Ku, tiada bagian bagi selain-Ku terhadap dirimu melainkan hanya kehadiranmu bersamanya, dengan akal budimu saja. 
	Maka janganlah engkau bersuka ria atas karunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/allah21_.jpg' alt='Allah' /></p>
	<p>Allah berseru kepada hamba-Nya:</p>
	<blockquote><p>&#8220;Hendaklah engkau menyerah kepada-Ku dengan sepenuh hatimu, dan menyerah kepada perantara-perantara dengan tubuhmu, supaya engkau bersama-Ku dengan kemauan kerasmu, dan bersama selain-Ku dengan akal budimu.</blockquote>
<a id="more-190"></a></p>
	<blockquote><p>Maka engkau senantiasa menghimpun kemauan kerasmu atas-Ku, tiada bagian bagi selain-Ku terhadap dirimu melainkan hanya kehadiranmu bersamanya, dengan akal budimu saja. </p>
	<p>Maka janganlah engkau bersuka ria atas karunia yang dianugerahkan-Nya kepadamu, dan jangan mudah marah kepada orang yang menyakiti hatimu. Jangan pula bermegah karena kejayaanmu, dan menepuk dada menyombongkan ilmu pengetahuanmu.</p>
	<p>Waspadalah, jangan tertipu oleh karunia-Ku, dan jangan putus harapanmu karena ujian-Ku, dan jangan jinak bermanja-manja dengan sesuatu selain-Ku.</p>
	<p>Laksanakanlah apa yang menjadi perintah-Ku tanpa menoleh kebelakang, maka jika demikian halmu sama dengan malaikat-Ku yang berkemauan teguh.</p>
	<p>Bila engkau berlengah-lengah menanti perintah-Ku&mdash;sedangkan engkau sudah mengetahui&mdash;, maka jika demikian engkau terang-terangan menentang perintah-Ku.&#8221;</p></blockquote>
	<p>Imam An-Nifari (Muhammad ibnu Abd Jabbar bin al Husain an-Nifary), <i>Ra&#8217;aytullah</i>.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/11/10/imam-an-nifari-makna-al-islam/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rumi: Kepalamu Adalah Tangga</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/11/08/rumi-kepalamu-adalah-tangga/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/11/08/rumi-kepalamu-adalah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 16:45:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Puisi</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/11/08/rumi-kepalamu-adalah-tangga/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Hari ini kulihat Sang Tercinta, seri semarak segala perkara itu; Ia lepas menuju ke langit bagai ruh Mustafa. 1)
	Karena wajah-Nya, matahari menjadi malu, daerah langit terharu-biru sekacau kalbu; lantaran cerlangnya, air dan tanah lempung lebih bercahaya dari api menyala.
	Aku berkata, &#8220;Berikan padaku tangga, agar aku dapat naik ke langit pula.&#8221; Jawab-Nya, &#8220;kepalamu ialah tangga; purukkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/mevlevisemazen.png' alt='sema'  align='right'  style='padding:5px 15px 0 0' /></p>
	<blockquote><p>Hari ini kulihat Sang Tercinta, seri semarak segala perkara itu; Ia lepas menuju ke langit bagai ruh Mustafa. <i><span class="add">1)</span></i></p>
	<p>Karena wajah-Nya, matahari menjadi malu, daerah langit terharu-biru sekacau kalbu; lantaran cerlangnya, air dan tanah lempung lebih bercahaya dari api menyala.</p>
	<p>Aku berkata, &#8220;Berikan padaku tangga, agar aku dapat naik ke langit pula.&#8221; Jawab-Nya, &#8220;kepalamu ialah tangga; purukkan kepalamu lebih rendah dari kakimu.&#8221; <i><span class="add">2)</span></blockquote>
</i> <a id="more-188"></a></p>
	<blockquote><p>Bila kautempatkan kakimu lebih tinggi dari kepalamu, maka kakimu akan berada di atas kepala bintang-bintang; bila kau menyibak angkasa, injakkan kakimu di angkasa, nah, mulailah!</p>
	<p>Seratus jalan ke angkasa&mdash;langit pun menjadi jelas bagimu; membubunglah kau di setiap samar fajar ke langit raya, bagai sebuah doa. <i><span class="add">3)</span></i></p></blockquote>
	<p>: : : : : : : :<br />
<span class="add"><br />
K e t e r a n g a n :<br/>&nbsp;<br/>1) Rujukan pada Mi&#8217;raj Nabi Muhammad. Mustafa adalah panggilan untuk Beliau.<br/>2) Sujud<br/>3) Q.S. <i>Adz-Dzâriyât</i> [51] : 18), <i>&#8220;Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”</i> <br/>&nbsp;<br/>* Terjemahan oleh Hartojo Andangdjaja, dari Rumi, Jalaluddin; <b><i>Kasidah Cinta</i></b>, 1982: Budaya Jaya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/11/08/rumi-kepalamu-adalah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Junaid Al-Baghdadi: Makna &#8216;Berjihad dalam Kami&#8217;</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/11/07/junaid-al-baghdadi-makna-berjihad-dalam-kami/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/11/07/junaid-al-baghdadi-makna-berjihad-dalam-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 16:48:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/11/07/junaid-al-baghdadi-makna-berjihad-dalam-kami/</guid>
		<description><![CDATA[	
	&#8220;Dan orang-orang yang berjihad dalam Kami, sungguh, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama para Al-Muhsiniin (mereka yang ihsan*)&#8221; (Q.S. Al-Ankabut [29] : 69)
	&#8220;Ayat itu bermakna, &#8216;mereka yang berjuang melawan hawa nafsunya dan bertaubat sungguh-sungguh hanya demi Kami, pastilah akan Kami tuntun mereka pada jalan-jalan yang menyampaikan mereka pada kebenaran (Al-Haqq) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div id="centering_id"><img src='/images/029_069.gif' alt='QS 29 : 69' /></div>
	<blockquote><p>&#8220;Dan orang-orang yang berjihad dalam Kami, sungguh, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama para <i>Al-Muhsiniin</i> (mereka yang <i>ihsan*</i>)&#8221; (Q.S. <i>Al-Ankabut</i> [29] : 69)</p></blockquote>
	<blockquote><p><i>&#8220;Ayat itu bermakna, &#8216;mereka yang berjuang melawan hawa nafsunya dan bertaubat sungguh-sungguh hanya demi Kami, pastilah akan Kami tuntun mereka pada jalan-jalan yang menyampaikan mereka pada kebenaran (</i>Al-Haqq<i>) &#8216;. Sesungguhnya tak seorang pun mampu berjuang melawan musuh yang ada di luar dirinya kecuali jika ia pun berjuang melawan musuh-musuh yang ada dalam dirinya. </i></p></blockquote>
	<p><a id="more-187"></a></p>
	<blockquote><p><i>Maka, siapapun yang dianugerahi kemenangan atas apa-apa yang ada di dalam dirinya, ia pasti akan menang atas lawan-lawannya. Dan siapapun yang dikalahkan oleh apa-apa yang ada di dalam dirinya, musuh-musuhnya pun pasti akan mengalahkannya.&#8221;</i></p></blockquote>
	<p>(Junaid Al-Baghdadi, 830-910 M)</p>
	<p>: : : : : : : </p>
	<p><br/>* <i>Ihsan</i> lebih dari sekedar bermakna &#8216;baik&#8217;. Apa sebenarnya pengertian <i>ihsan</i> atau <i>muhsin</i> itu? Monggo dibaca di sini: <a href="http://suluk.blogsome.com/2006/10/13/pengertian-ihsan/">http://suluk.blogsome.com/2006/10/13/pengertian-ihsan/</a><br/>&nbsp;<br/>** <i>Al-Muhsiniin</i> adalah mereka yang ke-<i>ihsan</i>-annya sudah tetap.<br/>&nbsp;<br/>*** Ayat 29 : 69 dalam terjemahan Depag diinterpretasikan dengan kalimat yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kalimat tekstual Qur&#8217;an Arabnya (mungkin demi memudahkan pembaca), dengan terjemahan sebagai berikut:<br />
<blockquote>&#8220;Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik.&#8221;</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/11/07/junaid-al-baghdadi-makna-berjihad-dalam-kami/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Akar Ketidakyakinan</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/11/06/akar-ketidakyakinan/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/11/06/akar-ketidakyakinan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 03:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/11/06/akar-ketidakyakinan/</guid>
		<description><![CDATA["Ketika manusia hidup, mereka mengkhawatirkan kematian. Ketika kenyang, mereka khawatir kelaparan. Maka ketidakyakinanlah yang selalu mereka peroleh. Para orang suci tak lagi memikirkan yang telah berlalu, dan tidak menghawatirkan apa yang belum terjadi. Tak juga mereka terpaku pada masa kini. Merekalah yang terus menapaki Jalan Kesejatian dari 'saat ini' ke 'saat ini' berikutnya."]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/Bodhidarma_.jpg'  align='left' style='padding:0 15px 0 0'/></p>
	<p>: :</p>
	<p><i>&#8220;Ketika manusia hidup, mereka mengkhawatirkan kematian. Ketika kenyang, mereka khawatir kelaparan. Maka ketidakyakinanlah yang selalu mereka peroleh. Para orang suci tak lagi memikirkan yang telah berlalu, dan tidak menghawatirkan apa yang belum terjadi. Tak juga mereka terpaku pada masa kini. Merekalah yang terus menapaki Jalan Kesejatian dari </i>&#8217;saat ini&#8217;<i> ke </i>&#8217;saat ini&#8217; berikutnya<i>.&#8221;</i></p>
	<p>(Bodhidharma, Patriarkh ke-28, pendiri ordo Zen, dan pencipta kungfu Shaolin)</p>
	<p>: :</p>
	<p><span class="add">Gambar dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bodhidharma">wikipedia</a>. Terjemahan oleh Herry Mardian.</span></p>
	<p>:</p>
	<p><span class="add"><a href="http://suluk.blogsome.com/2009/11/06/akar-ketidakyakinan/#comments">Komentar</a></span>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/11/06/akar-ketidakyakinan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pohon dan Buahnya</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/11/02/pohon-dan-buahnya/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/11/02/pohon-dan-buahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Tanya Jawab</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/11/02/pohon-dan-buahnya/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang murid bertanya pada Bawa Muhaiyaddeen, “Bisakah Guru menjelaskan kondisi spiritualku, di mana aku sedang berada saat ini?”

Sang Guru menjawab, “Sebuah benih haruslah ditanam di saat yang tepat. Ketika ia mulai tumbuh, akarnya menyelusup jauh ke dalam tanah, memeluk dari semua penjuru. Segera benihnya tumbuh menjadi sebuah pohon. Seiring perjalanan waktu, pohonnya akan semakin membesar, lalu berbunga dan berbuah. Tatkala berbuah, buahnya tampak tidak lagi memiliki ikatan dengan tanah. Walaupun pohonnya terikat ke dengan tanah, namun buahnya justru terhubung kepada manusia dan seluruh mahkluk hidup.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><span class="add">Oleh <b>Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen</b><br />
(diterjemahkan oleh <a href="http://surrender2god.wordpress.com/">Dimas Tandayu</a> dan Herry Mardian).</span></p>
	<blockquote><p>Anakku, hidupmu pun demikian. Walaupun kau telah tumbuh begitu tinggi, sama seperti pohon: keterikatan akalmu, pemikiranmu, dan hasratmu masih pada bumi dan keduniaan. Seperti itulah kondisimu saat ini.</blockquote>
 <img src='/images/pohonkepel.jpg' alt='pohon kepel' align='right' style='padding:0 10px 0 0'/> </p>
	<p>SEORANG MURID bertanya pada Bawa Muhaiyaddeen, “Bisakah Guru menjelaskan kondisi spiritualku, di mana aku sedang berada saat ini?”</p>
	<p>Sang Guru menjawab, “Sebuah benih haruslah ditanam di saat yang tepat. Ketika ia mulai tumbuh, akarnya menyelusup jauh ke dalam tanah, memeluk dari semua penjuru. Segera benihnya tumbuh menjadi sebuah pohon. Seiring perjalanan waktu, pohonnya akan semakin membesar, lalu berbunga dan berbuah. Tatkala berbuah, buahnya tampak tidak lagi memiliki ikatan dengan tanah. Walaupun pohonnya terikat ke dengan tanah, namun buahnya justru terhubung kepada manusia dan seluruh makhluk hidup. <a id="more-184"></a></p>
	<p>Anakku, hidupmu pun demikian. Walaupun kau telah tumbuh begitu tinggi, sama seperti pohon: keterikatan akalmu, pemikiranmu, dan hasratmu masih pada bumi dan keduniaan. Seperti itulah kondisimu saat ini.</p>
	<p>Tapi anakku, kau memiliki sebuah penghubung dalam <i>qalb</i>-mu, di dalam hatimu, yang berfikir tentang Tuhan dan mencari-Nya. Akan aku jelaskan cara mengembangkan hubungan tersebut. Ikutilah arahan ini baik-baik.</p>
	<p>Sebanyak apa pun keterikatanmu pada dunia, jika kau ingin menemukan Tuhan, jika kau ingin menapaki jalan menuju-Nya; engkau, doa-doamu dan ibadahmu harus seperti pohon. Walaupun sebuah pohon terikat ke tanah, ia memberikan buahnya untuk semua mahluk. Walaupun kau terikat pada dunia seperti pohon, niatmu harus seperti niat sebuah pohon terhadap buahnya: doa-doamu, pengabdianmu, ibadah-ibadahmu, keunggulan-keunggulanmu maupun semua yang kau lakukan harus terhubung dengan Tuhan, dan kau harus melakukan pekerjaanmu dengan diniatkan untuk kemaslahatan semua makhluk, bukan untuk dirimu sendiri. Maka setelah itu, barulah kau akan berjalan dengan baik ketika menapaki jalan menuju-Nya.&#8221;</p>
	<p>[]
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/11/02/pohon-dan-buahnya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Introvert</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/09/16/introvert/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/09/16/introvert/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 16:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/09/16/introvert/</guid>
		<description><![CDATA[PERNAH kenal seseorang yang selalu butuh waktu menyendiri, beberapa jam setiap harinya? Yang menyukai obrolan-obrolan tenang seputar perasaan atau gagasan? Yang bisa begitu dahsyat ketika memberikan presentasi di hadapan banyak orang namun tampak canggung ketika ngobrol-ngobrol kecil dalam kelompok, atau <i>skill</i> basa-basinya agak lemah dan ecek-ecek? Yang harus diseret-seret untuk datang ke pesta, lalu perlu seharian penuh untuk pemulihan diri? Yang justru mengeluh, mengrenyitkan alis, menghela nafas atau meringis; jika disapa dengan cara diledek atau digoda oleh orang yang sebenarnya bermaksud beramah-tamah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><span class="add">Oleh <b>Jonathan Rauch</b>, diterjemahkan oleh <b>Hery Mardian</b></span><br/><span class="add"><a href="http://www.theatlantic.com/doc/200303/rauch">http://www.theatlantic.com/doc/200303/rauch</a></span></p>
	<p><img src='/images/aloof9.jpg' alt='introvert' align='left' style='padding:5px 20px 5px 0px;' />PERNAH kenal seseorang yang selalu butuh waktu menyendiri, beberapa jam setiap harinya? Yang menyukai obrolan-obrolan tenang seputar perasaan atau gagasan? Yang bisa begitu dahsyat ketika memberikan presentasi di hadapan banyak orang namun tampak canggung ketika ngobrol-ngobrol kecil dalam kelompok, atau <i>skill</i> basa-basinya agak lemah dan ecek-ecek? Yang harus diseret-seret untuk datang ke pesta, lalu perlu menghabiskan waktu sisanya untuk pemulihan diri? Yang justru mengeluh, mengrenyitkan alis, menghela nafas atau meringis; jika disapa dengan cara diledek atau digoda oleh orang yang sebenarnya bermaksud beramah-tamah?<a id="more-183"></a></p>
	<p>Kalau iya, apa menurut anda orang ini &#8220;terlalu serius&#8221;? Atau perlu ditanya, &#8220;kamu baik-baik aja?&#8221; Atau mungkin dia memang sengaja menjaga jarak, angkuh, tak sopan atau tidak bisa membawa diri? Bahkan diperlukan usaha dua kali lebih keras lagi untuk membuatnya mau menjelaskan ada apa sebenarnya.</p>
	<p>Kalau jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas adalah &#8220;ya&#8221;, maka hampir pasti anda sudah bertemu dengan seorang <i>introvert</i>&mdash;dan hampir pasti pula bahwa anda tidak memperlakukan dia sebagaimana seharusnya. </p>
	<p>Di tahun-tahun belakangan ini, sains sudah mempelajari banyak hal tentang perilaku maupun kebutuhan para introvert. Bahkan sudah diketahui pula&mdash;melalui pemindaian otak&mdash;bahwa otak orang-orang introvert mengolah informasi dengan cara yang berbeda dengan orang lain (saya tidak sedang mengada-ada!). </p>
	<p>Kalau anda ternyata belum tahu fakta ini, anda memang tidak sendirian. Keberadaan orang-orang introvert mungkin sangat umum, tapi di Amerika, termasuk di dunia, mereka adalah golongan yang paling banyak disalahpahami dan dibuat merasa tertekan .</p>
	<p>Saya sungguh-sungguh tahu itu. Nama saya Jonathan, dan saya seorang introvert. </p>
	<p>Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya mengingkari ini. Lagipula saya adalah orang yang memiliki kemampuan sosial yang baik. Saya sama sekali bukan orang yang pemurung atau tidak suka orang lain. Umumnya, saya jauh dari pemalu. Saya sangat menyukai obrolan-obrolan panjang tentang pemikiran-pemikiran mendalam, atau tentang hal-hal menarik yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Namun akhirnya saya mengenali hal itu pada diri saya, dan tetap tampil dengan membuka diri sebagai seorang introvert pada teman-teman maupun rekan kerja. Dengan cara ini saya terbebas dari banyak sekali kesalahpahaman atau labelisasi yang menyakitkan. </p>
	<p>Kini, saya ingin menjelaskan apa yang harus anda ketahui sehingga anda bisa memberikan respon yang tepat sekaligus mendukung pada keluarga, teman maupun rekan kerja anda yang introvert. Perhatikan: pasti ada dari mereka yang anda kenal, anda hormati, atau yang dengannya anda berinteraksi setiap hari, adalah seorang introvert; sementara bisa jadi anda malah &#8220;menyiksanya&#8221; bila tak paham rambu-rambunya.<br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Apa itu introversi?</h3>
	<p>Dalam tampilan modernnya, konsep ini diperkenalkan tahun 1920-an oleh Carl Jung, psikolog yang terkenal itu. Hari ini introversi adalah salah satu tiang utama dalam banyak tes identifikasi kepribadian, termasuk tes Myers-Briggs Type Indicator yang sangat banyak digunakan itu. </p>
	<p>Para introvert tidak mesti pemalu. Orang pemalu merasa cemas, takut, atau mengutuki dirinya sendiri dalam lingkungan sosial; sedangkan para introvert biasanya tidak demikian. Para introvert juga bukan orang yang misantropik atau pembenci umat manusia, walaupun ada beberapa dari kami yang sepakat dengan kata-kata Sartre, &#8220;Neraka adalah adanya orang lain ketika sarapan.&#8221; Namun akan lebih tepat jika dikatakan bahwa <i>(berinteraksi dengan) orang lain itu melelahkan bagi para introvert.</i> </p>
	<p>Para ekstrovert menjadi &#8220;hidup&#8221; dengan kehadiran orang lain, dan akan layu serta kehilangan kecemerlangan mereka jika sendirian.  Ekstrovert kerap tampak seperti bosan dengan dirinya sendiri. Tinggalkan seorang ekstrovert sendirian selama dua menit, maka ia akan segera meraih ponselnya. Sebaliknya, setelah satu atau dua jam bersosialisasi, kami para introvert membutuhkan saat-saat <i>off</i> sejenak untuk mengisi ulang batere kami. Saya sendiri, rumus kebutuhan saya adalah dua jam <i>off</i> untuk setiap satu jam bersosialisasi. </p>
	<p>Ini sama sekali bukan anti-sosial. Ini juga bukan tanda depresi, dan tidak membutuhan tindakan medis apa pun. Bagi para introvert, dibiarkan sendiri menyelami pikirannya itu sama menyegarkannya dengan tidur, dan sama bergizinya seperti makan. Motto kami, &#8220;Saya senang, kamu senang, sama-sama senang&mdash;sedikit tapi sering.&#8221;<br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Berapa banyak orang introvert?</h3>
	<p>Saya melakukan riset mendalam untuk menjawab pertanyaan ini, di Google. Jawabannya: sekitar 25 persen dari seluruh populasi. Atau kurang dari setengah. Atau, &mdash;favorit saya&mdash;<i>&#8220;Kelompok minoritas di kalangan umum, tapi mayoritas di kalangan manusia berbakat&#8221;</i>.</p>
	<p><center><img src='/images/famousintroverts.jpg' align='center' alt='Famous Introverts' /></center><br/><center><span class='add'>Mahatma Gandhi, Albert Einstein, Michael Jordan, J. K. Rowling (Harry Potter), Steven Spielberg, Bunda Theresa, dan Bill Gates adalah introvert. </span></center><br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Apakah para introvert kerap disalahpahami?</h3>
	<p>Sangat, di mana-mana. Seakan-akan itu memang sudah jadi porsi kami. &#8220;Sangat sulit bagi seorang ekstrovert untuk memahami introvert,&#8221; tulis pakar pendidikan Jill D. Burruss dan Lisa Kaenzig (mereka jugalah yang menjadi sumber kutipan kalimat favorit di akhir paragraf sebelumnya). Namun para introvert mampu memahami ekstrovert dengan sangat mudah, karena para ekstrovert menggunakan begitu banyak waktu mereka untuk berusaha keras menunjukkan siapa dirinya&mdash;dengan pembicaraan yang begitu banyak dan kadang tak bisa dihindari&mdash;ketika berinteraksi dengan orang lain. Mereka begitu terbukanya, seperti seekor anak anjing yang sedang lucu-lucunya. </p>
	<p>Namun sayangnya jalan ini hanya jalan satu arah. Para ekstrovert hanya memiliki pemahaman yang sedikit, atau bahkan sama sekali tidak memahami, persoalan introversi. Mereka berasumsi bahwa kebersamaan, khususnya jika bersama mereka (yang ekstrovert), adalah hal yang selalu lebih menyenangkan bagi semua orang. Mereka tidak mampu membayangkan bagaimana mungkin ada manusia yang butuh untuk sendirian; bahkan kerap justru merasa tersinggung kepada mereka yang mengemukakan kebutuhan menyendirinya ini. Sesering saya berusaha menjelaskan hal ini kepada para ekstrovert, saya belum pernah benar-benar merasa yakin bahwa mereka sungguh-sungguh memahami. Biasanya mereka cuma mendengarkan sesaat, lalu kembali menggonggong dan mendengking lucu.<br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Apa para introvert tersisih?</h3>
	<p>Apa boleh buat, saya harus mengatakan &#8220;ya&#8221;. Lihat satu hal, bahwa para ekstrovert sudah terlalu banyak terwakili dalam dunia politik, profesi yang sangat menyenangkan hanya bagi mereka yang gemar bicara kesana kemari. Lihat George W. Bush. Lihat Bill Clinton. Mereka seperti sangat penuh daya hidup ketika keberadaannya disekitar orang lain. Jika mengingat kembali beberapa introvert yang berhasil menyentuh puncak di dunia politik&mdash;Calvin Coolidge, Richard Nixon&mdash;justru menegaskan hal tersebut. Pengecualian, mungkin Ronald Reagan, yang terkenal menjaga jarak emosional maupun kehidupan pribadinya, bisa jadi merupakan tanda adanya garis introvert yang dalam (saya pernah baca, banyak sekali aktor adalah introvert; dan banyak introvert, ketika bersosialisasi, merasa seperti sedang akting), para introvert tidak dipandang &#8220;berbakat alami&#8221; dalam dunia politik. </p>
	<p>Maka, ekstrovert lebih mendominasi dunia publik. Ini sebenarnya patut disayangkan. Jika para introvert yang menjalankan kepemimpinan di dunia, agaknya dunia akan menjadi tempat yang lebih tenang, lebih waras dan lebih damai. Konon Coolidge pernah bilang, &#8220;Tahukah anda, bahwa empat dari lima persoalan hidup akan hilang jika kita bisa duduk diam dan tenang?&#8221; (Ia juga konon pernah bilang, &#8220;Kalau seseorang diam, maka ia tidak akan diminta untuk mengulangi.&#8221; Satu hal yang paling tidak disukai introvert selain berbicara tentang dirinya, adalah mengulangi apa yang diucapkannya). </p>
	<p>Karena kebutuhan akan bicara dan perhatian yang tak habis-habisnya, para ekstrovert lebih dominan dalam kehidupan sosial sehingga standar-standar pun ditetapkan secara ekstrovert. Dalam masyarakat ekstrovertis kita ini, orang yang terbukalah yang dianggap normal, sehingga orang semua orang ingin menjadi terbuka. Sifat &#8220;terbuka&#8221; menjadi ciri kebahagiaan, percaya diri, atau kemampuan memimpin. Orang yang ekstrovert kerap disebut dengan kata-kata &#8220;besar hati&#8221;, &#8220;menularkan kebahagiaan&#8221;, &#8220;hangat&#8221;, &#8220;empatik&#8221;. &#8220;Sosok yang disukai semua&#8221; menjadi sebuah pujian. Introvert, sebaliknya, umumnya dideskripsikan dengan kata-kata seperti &#8220;terlalu berhati-hati&#8221;, &#8220;penyendiri&#8221;, &#8220;lambat&#8221;, &#8220;tak suka bicara&#8221;, &#8220;tak butuh orang lain&#8221;, &#8220;pilih-pilih teman&#8221;&mdash;kata-kata yang sempit, tak ramah, kata-kata yang bermakna miskin secara emosional, atau kepribadian yang kerdil. </p>
	<p>Para perempuan introvert, menurut saya, adalah yang paling menderita. Dalam lingkungan tertentu, khususnya di dunia barat, seorang pria bisa tidak terlalu bermasalah dengan julukan-julukan yang menggambarkan sifat-sifat yang &#8220;kukuh tapi diam&#8221;. Namun perempuan introvert, karena tidak memiliki alternatif itu, akan lebih cenderung dianggap sebagai tidak percaya diri, menarik diri, atau angkuh.<br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Apakah para introvert sombong atau arogan?</h3>
	<p>Sangat jarang. Agaknya kesalahpahaman umum ini disebabkan oleh para introvert yang cenderung lebih cerdas, lebih perenung, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan lebih sensitif dibandingkan ekstrovert. Juga, karena kurangnya kemampuan introvert dalam berbasa-basi, kekurangan yang kerap menjadi bahan celaan oleh para ekstrovert. Introvert cenderung berfikir sebelum berbicara, sementara ekstrovert cenderung berfikir dengan bicara. Ini menjadi sebab kenapa rapat orang ekstrovert tidak akan bisa memakan waktu kurang dari enam jam. </p>
	<p>&#8220;Para introvert&#8221;, tulis seorang pintar bernama Thomas P. Crouser dalam sebuah resensi onine dari buku berjudul <i>&#8220;Why Should Extroverts Make All the Money?&#8221;</i> (judul <i>itu</i> juga tidak saya buat-buat),  &#8220;seringkali dikacaukan konsentrasinya dan dibuat bingung oleh dialog-dialog &#8217;setengah internal&#8217; yang biasanya ditampilkan para ekstrovert. Sementara para introvert tidak akan mengeluhkan hal ini secara terbuka, mereka hanya akan mengalihkan pandangan mata dan &#8216;diam-diam mengutuki kegelapan&#8217;.&#8221; Begitulah memang. </p>
	<p>Yang terburuk adalah, ekstrovert benar-benar tak menyadari tekanan yang mereka timpakan kepada para introvert. Kadang, sambil megap-megap mencari nafas di dalam tebalnya asap pembicaraan ekstrovert yang 98-persen-bebas-kandungan-makna itu, seorang introvert bisa bertanya-tanya apakah para ekstrovert benar-benar pernah mencoba untuk mendengarkan dirinya sendiri berbicara. Namun demikian, introvert dengan teguh kukuh berlapis baja tetap berupaya menahan dan menanggung derita ini, karena buku-buku etiket&mdash;tak ragu lagi, pasti ditulis oleh ekstrovert&mdash;menulis bahwa tidak balik membalas candaan itu tidak sopan, dan membiarkan adanya jeda diam di tengah pembicaraan adalah hal yang menimbulkan kecanggungan. </p>
	<p>Kami hanya bisa berharap bahwa kelak, ketika keadaan kami ini sudah bisa dipahami secara lebih luas, ketika gerakan &#8220;tegakkan hak asasi kaum introvert&#8221; ternyata sudah berkembang dan berbuah, bukan lagi dianggap sebagai suatu hal yang tidak sopan jika seseorang mengatakan, &#8220;Saya introvert. Anda orang yang menyenangkan, dan saya senang bersama anda. Tapi sekarang, tolong diam, ssssshhht.&#8221;<br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Bagaimana cara menunjukkan pada para introvert di kehidupan saya, bahwa saya mendukung dan menghargai pilihannya?</h3>
	<p>Pertama, mohon dipahami bahwa itu <i>bukan pilihan</i>. Itu bukan sebuah gaya hidup yang dipilih. Itu adalah <i>orientasi kepribadian</i>.</p>
	<p>Kedua, ketika melihat seorang introvert sedang diam dan menyelami pikirannya sendiri, tidak perlu bertanya, &#8220;Ada apa?&#8221; atau &#8220;Kamu baik-baik saja?&#8221;</p>
	<p>Ketiga, tidak perlu berkata apa-apa juga, sih.</p>
	<p>[]</p>
	<p><span class="add">(Jonathan Rauch adalah korensponden untuk <a href="http://www.theatlantic.com">&#8220;The Atlantic&#8221;</a> penulis senior di &#8220;National Journal&#8221;)</span></p>
	<p>: : : : : : : :</p>
	<p><span class="add">Lihat juga:
<ul>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Extraversion_and_introversion"/>http://en.wikipedia.org/wiki/Extraversion_and_introversion</a></li>
	<li><a href="http://www.infj.com/INFJ_Introversion.htm"/>http://www.infj.com/INFJ_Introversion.htm</a></li>
	<li><a href="http://giftedkids.about.com/od/glossary/g/introvert.htm"/>http://giftedkids.about.com/od/glossary/g/introvert.htm</a></li>
	<li><a href="http://psychology.suite101.com/article.cfm/the_introvert"/>http://psychology.suite101.com/article.cfm/the_introvert</a></li>
</ul>
</span></p>
	<p><span class="add"><b>Keterangan:</b><br/>Gambar diambil dari <a href="http://watung.org/2007/01/27/introvert/">http://watung.org/2007/01/27/introvert/</a>. Lukisan paling atas adalah ‘Aloof’ karya <a href="http://www.cwaughart.com/">Aaron Waugh</a>. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/09/16/introvert/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Hati (2)</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/09/01/pendidikan-hati-2/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/09/01/pendidikan-hati-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 07:03:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/09/01/pendidikan-hati-2/</guid>
		<description><![CDATA[Tetapi apakah sebenarnya “diuji” itu? Seorang guru menguji para siswanya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka, mengetahui tingkat pemahaman mereka. Si guru tidak tahu sedalam apa para siswanya telah belajar. Tapi bukankah Allah mengetahui? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><span class="add">Dikutip dari sebagian isi Bab III buku <a href="http://suluk.blogsome.com/2008/12/06/cinta-bagai-anggur-sudah-bisa-dipesan/"><b>“Cinta Bagai Anggur”</b></a>, dengan seijin penerbit.</span></p>
	<blockquote><p>Tetapi apakah sebenarnya “diuji” itu? Seorang guru menguji para siswanya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka, mengetahui tingkat pemahaman mereka. Si guru tidak tahu sedalam apa para siswanya telah belajar. Tapi bukankah Allah mengetahui? </p></blockquote>
	<p>SETIAP nabi mempunyai tugas spesifik. Peran Nabi Isa a.s. adalah untuk menampilkan tiadanya kepemilikan dan kepedulian akan keduniawian.<br />
<a id="more-182"></a><br />
Ucapan maupun perbuatan para nabi dan para kekasih Allah tidak berasal dari diri mereka sendiri. Mereka sudah tidak lagi memiliki kehendak diri. Mereka hanya mengekspresikan kehendak Allah. Bahkan para wali, yang lebih rendah dari para Nabi pun, juga mencapai jenjang tersebut. Mereka melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya, dan berkata-kata dengan lisan-Nya. Mereka melangkah dengan kaki-Nya dan menggenggam dengan tangan-Nya. </p>
	<p>Seperti itu pula, Nabi Isa  pun tidak memiliki kehendak diri. Beliau adalah ekspresi dari kehendak Tuhan atas suatu fungsi maupun tujuan yang spesifik. Ini pun  berlaku bahkan bagi orang biasa—yah, mungkin orang biasa yang “biasa-biasa”-nya tidak keterlaluan—yaitu orang-orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah.</p>
	<p>Pada diri Nabi Sulaiman a.s., kehendak Tuhan termanifestasikan dalam bentuk kekayaan dan kekuasaan. Nabi Isa a.s. adalah sultan bagi qalb dan jiwa, sementara Nabi Sulaiman a.s. mengombinasikan penguasaan atas keduniawian dan keruhanian.</p>
	<p>Kalau di dunia ini engkau adalah seorang sultan, manusia tidak akan puas atau sepakat dengan kepemimpinanmu. Ini sangat sulit. Nabi Musa a.s pada suatu ketika pernah mengeluh kepada Allah, “Aku berusaha melaksanakan kehendak-Mu, tetapi semua orang kini justru sedang menentang aku.” Allah pun berfirman, “Hai Musa, engkau hanyalah darah dan daging. Padahal Aku, Akulah pencipta mereka. Aku yang memenuhi setiap kebutuhan mereka. Jangankan kepada engkau, bahkan terhadap Aku pun mereka selalu menentang!”</p>
	<p>Itulah mengapa Allah tetap tersembunyi, setidaknya dari sebagian besar kita (beberapa dari kita manusia, bahkan hingga hari ini, bisa “melihat” Dia!). Bisakah engkau bayangkan jika Allah bisa dilihat begitu saja, seperti para nabi? Kita akan berlari menangis kepada-Nya, “Tolonglah perhatikan, aku belum punya anak satu pun. Aku tidak punya uang cukup. Aku kehilangan pekerjaan.” Yang lainnya lagi berkata, “Aku tidak puas dengan keadilan-Mu!” Itulah mengapa Allah tersembunyi, demi ketenangan dan kedamaian. Paling tidak, Allah tersembunyi dari mereka yang suka mengeluhkan “pelayanan”-Nya.</p>
	<p>Nah, kembali pada kisah kita sebelumnya, perhatikanlah: kehendak manusia sangatlah lemah. Jangan membohongi dirimu sendiri dengan mengatakan bahwa engkau yang mencari dan engkau yang akan menemukan.  Ibrahim bin Adham dipanggil oleh Al-Haqq. Namun dia harus terlebih dulu diajari oleh orang yang membajak lahan di atap istananya, dan oleh seekor burung gagak yang menyuapi lelaki yang terikat. Tapi jangan lupa, kau harus memerhatikan tanda-tanda. Melihat saja tidak cukup, engkau harus memerhatikan. Mendengar saja tidak cukup, engkau harus memahami. </p>
	<p>Akhirnya, suatu hari Ibrahim bin Adham pergi meninggalkan istananya dan menuju ke padang penggembalaan. Ia bertemu dengan seorang gembala berpakaian kumal yang bertambalan di sana-sini. Walaupun di luar ia compang-camping, namun gembala itu telah menemukan Tuhan dalam kesendiriannya di padang rumput. Di dalamnya, ia telah menjadi seorang yang sangat kaya dan tampan. Sedangkan Sultan Ibrahim bin Adham, walaupun ia mengenakan busana sutra, di dalamnya compang-camping karena ia belum menemukan Al-Haqq. Ibrahim bin Adham kemudian meminta si gembala untuk saling bertukar pakaian, yang lalu menerima tawarannya. </p>
	<p>Sang Sultan pun akhirnya berbalik dari penghadapannya kepada keduniawian. Kerajaannya, harta dan kekuasaannya, pakaian-pakaian dan kedudukannya adalah hijab-hijab penghalang antara dia dan Tuhannya. Ia robek semua itu dan mencampakkannya. Tapi tentu saja, ia harus memiliki semua hal itu dulu sebelum bisa mencampakkannya. </p>
	<p>Lalu melangkahlah ia ke arah mana pun yang dikatakan kepadanya.</p>
	<p>Ibrahim bin Adham dituntun kepada seorang Sultan Kebenaran, seorang guru: seorang syaikh. Di bawah perintah gurunya, Ibrahim bin Adham memulai jihad terbesarnya—yaitu  perang melawan syahwat dan hawa nafsunya sendiri.  </p>
	<p>Dalam pembimbingannya sebagai seorang pejalan, guru Ibrahim bin Adham memberinya tugas untuk berkelana di dunia, supaya ia bisa mengerti dari mana ia berasal. </p>
	<p>Dalam latihan semacam ini, engkau seperti membaca sebuah buku untuk pertama kalinya lalu mengerti beberapa hal. Lalu engkau membacanya lagi, dan mengerti beberapa hal lainnya. Kemudian, engkau membacanya untuk ketiga kalinya, dan masih juga engkau temukan beberapa hal yang lain lagi. Sang Syaikh menyuruh Ibrahim bin Adham pergi untuk membaca buku tentang kehidupan lampaunya sendiri, sehingga dia dapat memahaminya pada tingkat yang lebih tinggi.</p>
	<p>Buku teragung adalah dunia ini, kehidupan ini. Baca, baca, dan bacalah lagi. Bagian terbanyak dari isi buku itu adalah masa lampaumu. Sejalan dengan pembacaan ulangmu yang terus-menerus, kau akan menemukan ia berubah, dan kau akan menemukan dirimu sendiri. Ia adalah buku yang sangat besar, menjangkau dari bumi ini hingga ke pojok-pojok terjauh dari seluruh langit.</p>
	<p>Ibrahim bin Adham telah kembali ke kota Balkh pada suatu malam yang dingin di musim salju. Dia lalui malam itu dengan melaksanakan shalat Isya di Masjid Agung yang didirikannya semasa ia masih menjadi sultan.</p>
	<p>Malam merupakan saat yang sangat penting bagi para pencari. Waktu untuk shalat Isya di masjid dimulai kira-kira satu jam setelah terbenamnya matahari, dan biasanya berlanjut sampai dua setengah jam kemudian. Setelah menyelesaikan ibadah mereka pada Allah, sebagian orang langsung pulang ke rumah untuk bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai. Mereka menatap mata dan menciumi wangi rambut orang-orang terkasih mereka. Itu pun sebuah ibadah—mencintai istri dan anak-anak. Di malam hari pula, para wali besar serta para nabi biasanya mencurahkan diri mereka sepenuhnya untuk shalat dan beribadah kepada Allah. </p>
	<p>Sedangkan Ibrahim bin Adham, setelah ia menyelesaikan shalat Isya-nya, sama sekali tidak memiliki satu tempat pun untuk dituju. Dia bergumam kepada dirinya sendiri, “Ini adalah rumah Allah, dan aku dulu membangunnya agar senantiasa terbuka kepada semua orang. Akan kucari sebuah sudut kecil untuk duduk, sekadar sebagai tempat tafakur dan beristirahat.”</p>
	<p>Kemudian datanglah penjaga masjid. Kebetulan, belum lama berselang karpet masjid itu baru saja dicuri. Si penjaga menemukan sang “Bekas Sultan”, kini telah menjadi seorang darwis kumal, lalu berkata, “Ha! Ini dia si pencuri karpet, sekarang sembunyi di sini mau mengambil lagi!” Ia menyambar kaki Ibrahim bin Adham lalu menyeret kepalanya menuruni tangga masjid yang terdiri dari seratus anak tangga. Kepala Ibrahim bin Adham pun membentur anak tangga itu satu demi satu. Dan di sepanjang tangga menurun ke bawah, bersama setiap rasa sakit di kepalanya karena terbentur anak tangga, dia bersyukur pada Allah. Ketika telah sampai di anak tangga terbawah, dia katakan pada dirinya sendiri, “Wah, sayang sekali, seharusnya dulu kusuruh buat anak tangga lebih banyak lagi.”</p>
	<p>Karena keberserahdiriannya pada Kehendak Ilahiah, bersama dengan setiap penderitaan yang dirasakannya, naik pulalah tingkat kesucian nafs -nya. Oleh karena Ibrahim bin Adham telah meninggalkan dunia, tertinggal pula derita-derita alam dunia. Demikianlah, engkau juga harus mengalami penderitaan-penderitaan dunia ini agar tingkat kesucian jiwamu meningkat.</p>
	<p>Semua kitab suci mengatakan bahwa kita dihadirkan ke dunia ini untuk diuji. Engkau bisa menemukan pernyataan ini di dalam ajaran Musa a.s., ajaran Isa a.s., dan dalam ajaran Muhammad s.a.w.</p>
	<p>Tetapi apakah sebenarnya “diuji” itu? Seorang guru menguji para siswanya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka, mengetahui tingkat pemahaman mereka. Si guru tidak tahu sedalam apa para siswanya telah belajar. Tapi bukankah Allah mengetahui? Allah mengetahui dengan sempurna kemampuan, pemahaman, dan tingkat kesadaran kita. Mengapa Allah menguji, adalah untuk membuat kita mengetahui. Ujian menunjukkan pada kita sendiri di mana kita berada, dan juga membuat yang lain tahu di mana kedudukan mereka, melalui ujian masing-masing.</p>
	<p>Orang-orang yang menanggung ujian-ujian terberat adalah para kekasih Allah—para  nabi, para wali, dan para guru-guru milik Allah. Mereka adalah simbol-simbol kasat mata bagi umat manusia, yang tugasnya adalah untuk menampilkan alasan kehadiran kita di dunia ini.</p>
	<p>Akhirnya, Ibrahim bin Adham berhasil melewati hampir semua ujian yang diatur untuknya oleh syaikhnya, lalu pulanglah dia ke kota tempat tinggal syaikhnya tersebut. Sebelum kedatangannya, syaikhnya berbicara kepada murid-muridnya yang lain. Kau tahu, para syaikh mengetahui peristiwa-peristiwa yang datang dan pergi, dalam diri mereka maupun di luar diri mereka. Sang Syaikh menugaskan seluruh muridnya untuk pergi ke semua pintu gerbang kota. “Kalau kalian melihat Ibrahim bin Adham pulang, jangan biarkan dia masuk. Tinjulah dia, tendanglah. Ludahi, pukul, buat dia jatuh.” Ketika Ibrahim bin Adham sampai di salah satu gerbang kota, saudara-saudara seperguruannya melakukan berbagai hal yang kejam kepadanya. Dia pergi ke gerbang lain, tetapi perlakuan saudara-saudaranya di sana pun sama saja buruknya. Dia pergi ke gerbang yang ketiga dan disambut dengan cara yang sama. Ibrahim bin Adham menegaskan, “Dengar! Apa pun yang akan kalian lakukan terhadapku—walaupun kalian menumpahkan darahku atau mencoba membunuhku—tidak akan ada seorang pun yang bisa menghalangiku menjumpai Syaikh.”</p>
	<p>Ketika akhirnya dia berhasil melewati gerbang kota, para saudaranya terus-menerus menendangi kedua tumitnya, meski dia telah mencapai rumah syaikhnya. Para pejalan tetap saja menendang, menendang, dan menendang. Ibrahim bin Adham tidak berkata sepatah pun. Dia terus saja berusaha untuk mencapai rumah syaikhnya. Ketika seorang darwis yang masih muda—yang agak terlalu bersemangat—menendang begitu keras sehingga kulit bagian belakang tumitnya terkelupas. Ibrahim bin Adham berbalik dan berkata dengan tenang, “Mengapa kalian lakukan semua ini kepadaku? Bukankah kalian tahu bahwa aku pun saudaramu? Aku juga seorang darwis. Apakah kalian masih saja menganggapku Sultan Balkh?”</p>
	<p>Para darwis kemudian melaporkan hal ini kepada Syaikh, yang kemudian mengatakan, “Nah, lihatlah, dia belum berhasil mencapai maqam tertinggi. Dia masih belum melupakan siapa dirinya sebelumnya. Cita rasa kesultanan, nikmatnya kekuasaan seorang raja masih tertinggal di ingatan pangkal lidahnya dan dalam kenangannya.” []</p>
	<p>: : : : : : : : :</p>
	<p><img src="http://suluk.blogsome.com/images/CBAsmallblog.jpg" alt="CBA cover" /></p>
	<p><span class="add">Judul: <b>“Cinta Bagai Anggur:</b> Tuangan Hikmah Dari Seorang Guru Sufi di Amerika.”<br />
Karya: Syaikh Muzaffer Ozak, dikompilasikan oleh Syaikh Ragip Frager<br />
Alih bahasa: Nadia Dwi Insani, Herry Mardian, Herman Soetomo<br />
Penerbit: Pustaka Prabajati</p>
	<p>17 x 23 cm, 202 hal.<br />
ISBN: 978-979-15115-0-6<br />
Harga: Rp. 48.000,-</span></p>
	<p>Yang masih menanyakan di mana memperoleh buku ini, bisa dipesan di :</p>
	<p>Irene Rosnovian (022)730-19-19, +62-812-2325-192.<br />
irene.husni2 [at] gmail [dot] com</p>
	<p>Avan Noer (021)7076-5799, 0812-902-3152<br />
avan [at] iss [dot] co [dot] id</p>
	<p>Nanang Sobari (Apuy), 0856-240-67-250.<br />
http://tokobukusobari.blogsome.com/</p>
	<p>PS: Di bandung kemarin saya juga lihat buku ini ada di toko buku Togamas, berdampingan dengan buku <a href="http://suluk.blogsome.com/2008/02/17/guru-sejati-dan-muridnya-sudah-diluncurkan/"><b>Guru Sejati dan Muridnya</b></a>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/09/01/pendidikan-hati-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
