<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Suluk .:.</title>
	<link>http://suluk.blogsome.com</link>
	<description>Herry Mardian's site: Kumpulan artikel, renungan, tulisan, dan jurnal tentang Allah, jati diri, makna Al-Qur'an, makna agama dan makna hidup.</description>
	<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 08:16:06 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Akar Ketidakyakinan</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/11/06/akar-ketidakyakinan/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/11/06/akar-ketidakyakinan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 03:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/11/06/akar-ketidakyakinan/</guid>
		<description><![CDATA["Ketika manusia hidup, mereka mengkhawatirkan kematian. Ketika kenyang, mereka khawatir kelaparan. Maka ketidakyakinanlah yang selalu mereka peroleh. Para orang suci tak lagi memikirkan yang telah berlalu, dan tidak menghawatirkan apa yang belum terjadi. Tak juga mereka terpaku pada masa kini. Merekalah yang terus menapaki Jalan Kesejatian dari 'saat ini' ke 'saat ini' berikutnya."]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/Bodhidarma_.jpg'  align='left' style='padding:0 15px 0 0'/></p>
	<p>: :</p>
	<p><i>&#8220;Ketika manusia hidup, mereka mengkhawatirkan kematian. Ketika kenyang, mereka khawatir kelaparan. Maka ketidakyakinanlah yang selalu mereka peroleh. Para orang suci tak lagi memikirkan yang telah berlalu, dan tidak menghawatirkan apa yang belum terjadi. Tak juga mereka terpaku pada masa kini. Merekalah yang terus menapaki Jalan Kesejatian dari </i>&#8217;saat ini&#8217;<i> ke </i>&#8217;saat ini&#8217; berikutnya<i>.&#8221;</i></p>
	<p>(Bodhidharma, Patriarkh ke-28, pendiri ordo Zen, dan pencipta kungfu Shaolin)</p>
	<p>: :</p>
	<p><span class="add">Gambar dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bodhidharma">wikipedia</a>. Terjemahan oleh Herry Mardian.</span></p>
	<p>:</p>
	<p><span class="add"><a href="http://suluk.blogsome.com/2009/11/06/akar-ketidakyakinan/#comments">Komentar</a></span>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/11/06/akar-ketidakyakinan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pohon dan Buahnya</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/11/02/pohon-dan-buahnya/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/11/02/pohon-dan-buahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Tanya Jawab</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/11/02/pohon-dan-buahnya/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang murid bertanya pada Bawa Muhaiyaddeen, “Bisakah Guru menjelaskan kondisi spiritualku, di mana aku sedang berada saat ini?”

Sang Guru menjawab, “Sebuah benih haruslah ditanam di saat yang tepat. Ketika ia mulai tumbuh, akarnya menyelusup jauh ke dalam tanah, memeluk dari semua penjuru. Segera benihnya tumbuh menjadi sebuah pohon. Seiring perjalanan waktu, pohonnya akan semakin membesar, lalu berbunga dan berbuah. Tatkala berbuah, buahnya tampak tidak lagi memiliki ikatan dengan tanah. Walaupun pohonnya terikat ke dengan tanah, namun buahnya justru terhubung kepada manusia dan seluruh mahkluk hidup.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><span class="add">Oleh <b>Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen</b><br />
(diterjemahkan oleh <a href="http://surrender2god.wordpress.com/">Dimas Tandayu</a> dan Herry Mardian).</span></p>
	<blockquote><p>Anakku, hidupmu pun demikian. Walaupun kau telah tumbuh begitu tinggi, sama seperti pohon: keterikatan akalmu, pemikiranmu, dan hasratmu masih pada bumi dan keduniaan. Seperti itulah kondisimu saat ini.</blockquote>
 <img src='/images/pohonkepel.jpg' alt='pohon kepel' align='right' style='padding:0 10px 0 0'/> </p>
	<p>SEORANG MURID bertanya pada Bawa Muhaiyaddeen, “Bisakah Guru menjelaskan kondisi spiritualku, di mana aku sedang berada saat ini?”</p>
	<p>Sang Guru menjawab, “Sebuah benih haruslah ditanam di saat yang tepat. Ketika ia mulai tumbuh, akarnya menyelusup jauh ke dalam tanah, memeluk dari semua penjuru. Segera benihnya tumbuh menjadi sebuah pohon. Seiring perjalanan waktu, pohonnya akan semakin membesar, lalu berbunga dan berbuah. Tatkala berbuah, buahnya tampak tidak lagi memiliki ikatan dengan tanah. Walaupun pohonnya terikat ke dengan tanah, namun buahnya justru terhubung kepada manusia dan seluruh makhluk hidup. <a id="more-184"></a></p>
	<p>Anakku, hidupmu pun demikian. Walaupun kau telah tumbuh begitu tinggi, sama seperti pohon: keterikatan akalmu, pemikiranmu, dan hasratmu masih pada bumi dan keduniaan. Seperti itulah kondisimu saat ini.</p>
	<p>Tapi anakku, kau memiliki sebuah penghubung dalam <i>qalb</i>-mu, di dalam hatimu, yang berfikir tentang Tuhan dan mencari-Nya. Akan aku jelaskan cara mengembangkan hubungan tersebut. Ikutilah arahan ini baik-baik.</p>
	<p>Sebanyak apa pun keterikatanmu pada dunia, jika kau ingin menemukan Tuhan, jika kau ingin menapaki jalan menuju-Nya; engkau, doa-doamu dan ibadahmu harus seperti pohon. Walaupun sebuah pohon terikat ke tanah, ia memberikan buahnya untuk semua mahluk. Walaupun kau terikat pada dunia seperti pohon, niatmu harus seperti niat sebuah pohon terhadap buahnya: doa-doamu, pengabdianmu, ibadah-ibadahmu, keunggulan-keunggulanmu maupun semua yang kau lakukan harus terhubung dengan Tuhan, dan kau harus melakukan pekerjaanmu dengan diniatkan untuk kemaslahatan semua makhluk, bukan untuk dirimu sendiri. Maka setelah itu, barulah kau akan berjalan dengan baik ketika menapaki jalan menuju-Nya.&#8221;</p>
	<p>[]
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/11/02/pohon-dan-buahnya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Introvert</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/09/16/introvert/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/09/16/introvert/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 16:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/09/16/introvert/</guid>
		<description><![CDATA[PERNAH kenal seseorang yang selalu butuh waktu menyendiri, beberapa jam setiap harinya? Yang menyukai obrolan-obrolan tenang seputar perasaan atau gagasan? Yang bisa begitu dahsyat ketika memberikan presentasi di hadapan banyak orang namun tampak canggung ketika ngobrol-ngobrol kecil dalam kelompok, atau <i>skill</i> basa-basinya agak lemah dan ecek-ecek? Yang harus diseret-seret untuk datang ke pesta, lalu perlu seharian penuh untuk pemulihan diri? Yang justru mengeluh, mengrenyitkan alis, menghela nafas atau meringis; jika disapa dengan cara diledek atau digoda oleh orang yang sebenarnya bermaksud beramah-tamah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><span class="add">Oleh <b>Jonathan Rauch</b>, diterjemahkan oleh <b>Hery Mardian</b></span><br/><span class="add"><a href="http://www.theatlantic.com/doc/200303/rauch">http://www.theatlantic.com/doc/200303/rauch</a></span></p>
	<p><img src='/images/aloof9.jpg' alt='introvert' align='left' style='padding:5px 20px 5px 0px;' />PERNAH kenal seseorang yang selalu butuh waktu menyendiri, beberapa jam setiap harinya? Yang menyukai obrolan-obrolan tenang seputar perasaan atau gagasan? Yang bisa begitu dahsyat ketika memberikan presentasi di hadapan banyak orang namun tampak canggung ketika ngobrol-ngobrol kecil dalam kelompok, atau <i>skill</i> basa-basinya agak lemah dan ecek-ecek? Yang harus diseret-seret untuk datang ke pesta, lalu perlu menghabiskan waktu sisanya untuk pemulihan diri? Yang justru mengeluh, mengrenyitkan alis, menghela nafas atau meringis; jika disapa dengan cara diledek atau digoda oleh orang yang sebenarnya bermaksud beramah-tamah?<a id="more-183"></a></p>
	<p>Kalau iya, apa menurut anda orang ini &#8220;terlalu serius&#8221;? Atau perlu ditanya, &#8220;kamu baik-baik aja?&#8221; Atau mungkin dia memang sengaja menjaga jarak, angkuh, tak sopan atau tidak bisa membawa diri? Bahkan diperlukan usaha dua kali lebih keras lagi untuk membuatnya mau menjelaskan ada apa sebenarnya.</p>
	<p>Kalau jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas adalah &#8220;ya&#8221;, maka hampir pasti anda sudah bertemu dengan seorang <i>introvert</i>&mdash;dan hampir pasti pula bahwa anda tidak memperlakukan dia sebagaimana seharusnya. </p>
	<p>Di tahun-tahun belakangan ini, sains sudah mempelajari banyak hal tentang perilaku maupun kebutuhan para introvert. Bahkan sudah diketahui pula&mdash;melalui pemindaian otak&mdash;bahwa otak orang-orang introvert mengolah informasi dengan cara yang berbeda dengan orang lain (saya tidak sedang mengada-ada!). </p>
	<p>Kalau anda ternyata belum tahu fakta ini, anda memang tidak sendirian. Keberadaan orang-orang introvert mungkin sangat umum, tapi di Amerika, termasuk di dunia, mereka adalah golongan yang paling banyak disalahpahami dan dibuat merasa tertekan .</p>
	<p>Saya sungguh-sungguh tahu itu. Nama saya Jonathan, dan saya seorang introvert. </p>
	<p>Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya mengingkari ini. Lagipula saya adalah orang yang memiliki kemampuan sosial yang baik. Saya sama sekali bukan orang yang pemurung atau tidak suka orang lain. Umumnya, saya jauh dari pemalu. Saya sangat menyukai obrolan-obrolan panjang tentang pemikiran-pemikiran mendalam, atau tentang hal-hal menarik yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Namun akhirnya saya mengenali hal itu pada diri saya, dan tetap tampil dengan membuka diri sebagai seorang introvert pada teman-teman maupun rekan kerja. Dengan cara ini saya terbebas dari banyak sekali kesalahpahaman atau labelisasi yang menyakitkan. </p>
	<p>Kini, saya ingin menjelaskan apa yang harus anda ketahui sehingga anda bisa memberikan respon yang tepat sekaligus mendukung pada keluarga, teman maupun rekan kerja anda yang introvert. Perhatikan: pasti ada dari mereka yang anda kenal, anda hormati, atau yang dengannya anda berinteraksi setiap hari, adalah seorang introvert; sementara bisa jadi anda malah &#8220;menyiksanya&#8221; bila tak paham rambu-rambunya.<br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Apa itu introversi?</h3>
	<p>Dalam tampilan modernnya, konsep ini diperkenalkan tahun 1920-an oleh Carl Jung, psikolog yang terkenal itu. Hari ini introversi adalah salah satu tiang utama dalam banyak tes identifikasi kepribadian, termasuk tes Myers-Briggs Type Indicator yang sangat banyak digunakan itu. </p>
	<p>Para introvert tidak mesti pemalu. Orang pemalu merasa cemas, takut, atau mengutuki dirinya sendiri dalam lingkungan sosial; sedangkan para introvert biasanya tidak demikian. Para introvert juga bukan orang yang misantropik atau pembenci umat manusia, walaupun ada beberapa dari kami yang sepakat dengan kata-kata Sartre, &#8220;Neraka adalah adanya orang lain ketika sarapan.&#8221; Namun akan lebih tepat jika dikatakan bahwa <i>(berinteraksi dengan) orang lain itu melelahkan bagi para introvert.</i> </p>
	<p>Para ekstrovert menjadi &#8220;hidup&#8221; dengan kehadiran orang lain, dan akan layu serta kehilangan kecemerlangan mereka jika sendirian.  Ekstrovert kerap tampak seperti bosan dengan dirinya sendiri. Tinggalkan seorang ekstrovert sendirian selama dua menit, maka ia akan segera meraih ponselnya. Sebaliknya, setelah satu atau dua jam bersosialisasi, kami para introvert membutuhkan saat-saat <i>off</i> sejenak untuk mengisi ulang batere kami. Saya sendiri, rumus kebutuhan saya adalah dua jam <i>off</i> untuk setiap satu jam bersosialisasi. </p>
	<p>Ini sama sekali bukan anti-sosial. Ini juga bukan tanda depresi, dan tidak membutuhan tindakan medis apa pun. Bagi para introvert, dibiarkan sendiri menyelami pikirannya itu sama menyegarkannya dengan tidur, dan sama bergizinya seperti makan. Motto kami, &#8220;Saya senang, kamu senang, sama-sama senang&mdash;sedikit tapi sering.&#8221;<br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Berapa banyak orang introvert?</h3>
	<p>Saya melakukan riset mendalam untuk menjawab pertanyaan ini, di Google. Jawabannya: sekitar 25 persen dari seluruh populasi. Atau kurang dari setengah. Atau, &mdash;favorit saya&mdash;<i>&#8220;Kelompok minoritas di kalangan umum, tapi mayoritas di kalangan manusia berbakat&#8221;</i>.</p>
	<p><center><img src='/images/famousintroverts.jpg' align='center' alt='Famous Introverts' /></center><br/><center><span class='add'>Mahatma Gandhi, Albert Einstein, Michael Jordan, J. K. Rowling (Harry Potter), Steven Spielberg, Bunda Theresa, dan Bill Gates adalah introvert. </span></center><br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Apakah para introvert kerap disalahpahami?</h3>
	<p>Sangat, di mana-mana. Seakan-akan itu memang sudah jadi porsi kami. &#8220;Sangat sulit bagi seorang ekstrovert untuk memahami introvert,&#8221; tulis pakar pendidikan Jill D. Burruss dan Lisa Kaenzig (mereka jugalah yang menjadi sumber kutipan kalimat favorit di akhir paragraf sebelumnya). Namun para introvert mampu memahami ekstrovert dengan sangat mudah, karena para ekstrovert menggunakan begitu banyak waktu mereka untuk berusaha keras menunjukkan siapa dirinya&mdash;dengan pembicaraan yang begitu banyak dan kadang tak bisa dihindari&mdash;ketika berinteraksi dengan orang lain. Mereka begitu terbukanya, seperti seekor anak anjing yang sedang lucu-lucunya. </p>
	<p>Namun sayangnya jalan ini hanya jalan satu arah. Para ekstrovert hanya memiliki pemahaman yang sedikit, atau bahkan sama sekali tidak memahami, persoalan introversi. Mereka berasumsi bahwa kebersamaan, khususnya jika bersama mereka (yang ekstrovert), adalah hal yang selalu lebih menyenangkan bagi semua orang. Mereka tidak mampu membayangkan bagaimana mungkin ada manusia yang butuh untuk sendirian; bahkan kerap justru merasa tersinggung kepada mereka yang mengemukakan kebutuhan menyendirinya ini. Sesering saya berusaha menjelaskan hal ini kepada para ekstrovert, saya belum pernah benar-benar merasa yakin bahwa mereka sungguh-sungguh memahami. Biasanya mereka cuma mendengarkan sesaat, lalu kembali menggonggong dan mendengking lucu.<br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Apa para introvert tersisih?</h3>
	<p>Apa boleh buat, saya harus mengatakan &#8220;ya&#8221;. Lihat satu hal, bahwa para ekstrovert sudah terlalu banyak terwakili dalam dunia politik, profesi yang sangat menyenangkan hanya bagi mereka yang gemar bicara kesana kemari. Lihat George W. Bush. Lihat Bill Clinton. Mereka seperti sangat penuh daya hidup ketika keberadaannya disekitar orang lain. Jika mengingat kembali beberapa introvert yang berhasil menyentuh puncak di dunia politik&mdash;Calvin Coolidge, Richard Nixon&mdash;justru menegaskan hal tersebut. Pengecualian, mungkin Ronald Reagan, yang terkenal menjaga jarak emosional maupun kehidupan pribadinya, bisa jadi merupakan tanda adanya garis introvert yang dalam (saya pernah baca, banyak sekali aktor adalah introvert; dan banyak introvert, ketika bersosialisasi, merasa seperti sedang akting), para introvert tidak dipandang &#8220;berbakat alami&#8221; dalam dunia politik. </p>
	<p>Maka, ekstrovert lebih mendominasi dunia publik. Ini sebenarnya patut disayangkan. Jika para introvert yang menjalankan kepemimpinan di dunia, agaknya dunia akan menjadi tempat yang lebih tenang, lebih waras dan lebih damai. Konon Coolidge pernah bilang, &#8220;Tahukah anda, bahwa empat dari lima persoalan hidup akan hilang jika kita bisa duduk diam dan tenang?&#8221; (Ia juga konon pernah bilang, &#8220;Kalau seseorang diam, maka ia tidak akan diminta untuk mengulangi.&#8221; Satu hal yang paling tidak disukai introvert selain berbicara tentang dirinya, adalah mengulangi apa yang diucapkannya). </p>
	<p>Karena kebutuhan akan bicara dan perhatian yang tak habis-habisnya, para ekstrovert lebih dominan dalam kehidupan sosial sehingga standar-standar pun ditetapkan secara ekstrovert. Dalam masyarakat ekstrovertis kita ini, orang yang terbukalah yang dianggap normal, sehingga orang semua orang ingin menjadi terbuka. Sifat &#8220;terbuka&#8221; menjadi ciri kebahagiaan, percaya diri, atau kemampuan memimpin. Orang yang ekstrovert kerap disebut dengan kata-kata &#8220;besar hati&#8221;, &#8220;menularkan kebahagiaan&#8221;, &#8220;hangat&#8221;, &#8220;empatik&#8221;. &#8220;Sosok yang disukai semua&#8221; menjadi sebuah pujian. Introvert, sebaliknya, umumnya dideskripsikan dengan kata-kata seperti &#8220;terlalu berhati-hati&#8221;, &#8220;penyendiri&#8221;, &#8220;lambat&#8221;, &#8220;tak suka bicara&#8221;, &#8220;tak butuh orang lain&#8221;, &#8220;pilih-pilih teman&#8221;&mdash;kata-kata yang sempit, tak ramah, kata-kata yang bermakna miskin secara emosional, atau kepribadian yang kerdil. </p>
	<p>Para perempuan introvert, menurut saya, adalah yang paling menderita. Dalam lingkungan tertentu, khususnya di dunia barat, seorang pria bisa tidak terlalu bermasalah dengan julukan-julukan yang menggambarkan sifat-sifat yang &#8220;kukuh tapi diam&#8221;. Namun perempuan introvert, karena tidak memiliki alternatif itu, akan lebih cenderung dianggap sebagai tidak percaya diri, menarik diri, atau angkuh.<br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Apakah para introvert sombong atau arogan?</h3>
	<p>Sangat jarang. Agaknya kesalahpahaman umum ini disebabkan oleh para introvert yang cenderung lebih cerdas, lebih perenung, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan lebih sensitif dibandingkan ekstrovert. Juga, karena kurangnya kemampuan introvert dalam berbasa-basi, kekurangan yang kerap menjadi bahan celaan oleh para ekstrovert. Introvert cenderung berfikir sebelum berbicara, sementara ekstrovert cenderung berfikir dengan bicara. Ini menjadi sebab kenapa rapat orang ekstrovert tidak akan bisa memakan waktu kurang dari enam jam. </p>
	<p>&#8220;Para introvert&#8221;, tulis seorang pintar bernama Thomas P. Crouser dalam sebuah resensi onine dari buku berjudul <i>&#8220;Why Should Extroverts Make All the Money?&#8221;</i> (judul <i>itu</i> juga tidak saya buat-buat),  &#8220;seringkali dikacaukan konsentrasinya dan dibuat bingung oleh dialog-dialog &#8217;setengah internal&#8217; yang biasanya ditampilkan para ekstrovert. Sementara para introvert tidak akan mengeluhkan hal ini secara terbuka, mereka hanya akan mengalihkan pandangan mata dan &#8216;diam-diam mengutuki kegelapan&#8217;.&#8221; Begitulah memang. </p>
	<p>Yang terburuk adalah, ekstrovert benar-benar tak menyadari tekanan yang mereka timpakan kepada para introvert. Kadang, sambil megap-megap mencari nafas di dalam tebalnya asap pembicaraan ekstrovert yang 98-persen-bebas-kandungan-makna itu, seorang introvert bisa bertanya-tanya apakah para ekstrovert benar-benar pernah mencoba untuk mendengarkan dirinya sendiri berbicara. Namun demikian, introvert dengan teguh kukuh berlapis baja tetap berupaya menahan dan menanggung derita ini, karena buku-buku etiket&mdash;tak ragu lagi, pasti ditulis oleh ekstrovert&mdash;menulis bahwa tidak balik membalas candaan itu tidak sopan, dan membiarkan adanya jeda diam di tengah pembicaraan adalah hal yang menimbulkan kecanggungan. </p>
	<p>Kami hanya bisa berharap bahwa kelak, ketika keadaan kami ini sudah bisa dipahami secara lebih luas, ketika gerakan &#8220;tegakkan hak asasi kaum introvert&#8221; ternyata sudah berkembang dan berbuah, bukan lagi dianggap sebagai suatu hal yang tidak sopan jika seseorang mengatakan, &#8220;Saya introvert. Anda orang yang menyenangkan, dan saya senang bersama anda. Tapi sekarang, tolong diam, ssssshhht.&#8221;<br />
&nbsp;<br/></p>
	<h3>Bagaimana cara menunjukkan pada para introvert di kehidupan saya, bahwa saya mendukung dan menghargai pilihannya?</h3>
	<p>Pertama, mohon dipahami bahwa itu <i>bukan pilihan</i>. Itu bukan sebuah gaya hidup yang dipilih. Itu adalah <i>orientasi kepribadian</i>.</p>
	<p>Kedua, ketika melihat seorang introvert sedang diam dan menyelami pikirannya sendiri, tidak perlu bertanya, &#8220;Ada apa?&#8221; atau &#8220;Kamu baik-baik saja?&#8221;</p>
	<p>Ketiga, tidak perlu berkata apa-apa juga, sih.</p>
	<p>[]</p>
	<p><span class="add">(Jonathan Rauch adalah korensponden untuk <a href="http://www.theatlantic.com">&#8220;The Atlantic&#8221;</a> penulis senior di &#8220;National Journal&#8221;)</span></p>
	<p>: : : : : : : :</p>
	<p><span class="add">Lihat juga:
<ul>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Extraversion_and_introversion"/>http://en.wikipedia.org/wiki/Extraversion_and_introversion</a></li>
	<li><a href="http://www.infj.com/INFJ_Introversion.htm"/>http://www.infj.com/INFJ_Introversion.htm</a></li>
	<li><a href="http://giftedkids.about.com/od/glossary/g/introvert.htm"/>http://giftedkids.about.com/od/glossary/g/introvert.htm</a></li>
	<li><a href="http://psychology.suite101.com/article.cfm/the_introvert"/>http://psychology.suite101.com/article.cfm/the_introvert</a></li>
</ul>
</span></p>
	<p><span class="add"><b>Keterangan:</b><br/>Gambar diambil dari <a href="http://watung.org/2007/01/27/introvert/">http://watung.org/2007/01/27/introvert/</a>. Lukisan paling atas adalah ‘Aloof’ karya <a href="http://www.cwaughart.com/">Aaron Waugh</a>. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/09/16/introvert/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Hati (2)</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/09/01/pendidikan-hati-2/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/09/01/pendidikan-hati-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 07:03:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/09/01/pendidikan-hati-2/</guid>
		<description><![CDATA[Tetapi apakah sebenarnya “diuji” itu? Seorang guru menguji para siswanya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka, mengetahui tingkat pemahaman mereka. Si guru tidak tahu sedalam apa para siswanya telah belajar. Tapi bukankah Allah mengetahui? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><span class="add">Dikutip dari sebagian isi Bab III buku <a href="http://suluk.blogsome.com/2008/12/06/cinta-bagai-anggur-sudah-bisa-dipesan/"><b>“Cinta Bagai Anggur”</b></a>, dengan seijin penerbit.</span></p>
	<blockquote><p>Tetapi apakah sebenarnya “diuji” itu? Seorang guru menguji para siswanya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka, mengetahui tingkat pemahaman mereka. Si guru tidak tahu sedalam apa para siswanya telah belajar. Tapi bukankah Allah mengetahui? </p></blockquote>
	<p>SETIAP nabi mempunyai tugas spesifik. Peran Nabi Isa a.s. adalah untuk menampilkan tiadanya kepemilikan dan kepedulian akan keduniawian.<br />
<a id="more-182"></a><br />
Ucapan maupun perbuatan para nabi dan para kekasih Allah tidak berasal dari diri mereka sendiri. Mereka sudah tidak lagi memiliki kehendak diri. Mereka hanya mengekspresikan kehendak Allah. Bahkan para wali, yang lebih rendah dari para Nabi pun, juga mencapai jenjang tersebut. Mereka melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya, dan berkata-kata dengan lisan-Nya. Mereka melangkah dengan kaki-Nya dan menggenggam dengan tangan-Nya. </p>
	<p>Seperti itu pula, Nabi Isa  pun tidak memiliki kehendak diri. Beliau adalah ekspresi dari kehendak Tuhan atas suatu fungsi maupun tujuan yang spesifik. Ini pun  berlaku bahkan bagi orang biasa—yah, mungkin orang biasa yang “biasa-biasa”-nya tidak keterlaluan—yaitu orang-orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah.</p>
	<p>Pada diri Nabi Sulaiman a.s., kehendak Tuhan termanifestasikan dalam bentuk kekayaan dan kekuasaan. Nabi Isa a.s. adalah sultan bagi qalb dan jiwa, sementara Nabi Sulaiman a.s. mengombinasikan penguasaan atas keduniawian dan keruhanian.</p>
	<p>Kalau di dunia ini engkau adalah seorang sultan, manusia tidak akan puas atau sepakat dengan kepemimpinanmu. Ini sangat sulit. Nabi Musa a.s pada suatu ketika pernah mengeluh kepada Allah, “Aku berusaha melaksanakan kehendak-Mu, tetapi semua orang kini justru sedang menentang aku.” Allah pun berfirman, “Hai Musa, engkau hanyalah darah dan daging. Padahal Aku, Akulah pencipta mereka. Aku yang memenuhi setiap kebutuhan mereka. Jangankan kepada engkau, bahkan terhadap Aku pun mereka selalu menentang!”</p>
	<p>Itulah mengapa Allah tetap tersembunyi, setidaknya dari sebagian besar kita (beberapa dari kita manusia, bahkan hingga hari ini, bisa “melihat” Dia!). Bisakah engkau bayangkan jika Allah bisa dilihat begitu saja, seperti para nabi? Kita akan berlari menangis kepada-Nya, “Tolonglah perhatikan, aku belum punya anak satu pun. Aku tidak punya uang cukup. Aku kehilangan pekerjaan.” Yang lainnya lagi berkata, “Aku tidak puas dengan keadilan-Mu!” Itulah mengapa Allah tersembunyi, demi ketenangan dan kedamaian. Paling tidak, Allah tersembunyi dari mereka yang suka mengeluhkan “pelayanan”-Nya.</p>
	<p>Nah, kembali pada kisah kita sebelumnya, perhatikanlah: kehendak manusia sangatlah lemah. Jangan membohongi dirimu sendiri dengan mengatakan bahwa engkau yang mencari dan engkau yang akan menemukan.  Ibrahim bin Adham dipanggil oleh Al-Haqq. Namun dia harus terlebih dulu diajari oleh orang yang membajak lahan di atap istananya, dan oleh seekor burung gagak yang menyuapi lelaki yang terikat. Tapi jangan lupa, kau harus memerhatikan tanda-tanda. Melihat saja tidak cukup, engkau harus memerhatikan. Mendengar saja tidak cukup, engkau harus memahami. </p>
	<p>Akhirnya, suatu hari Ibrahim bin Adham pergi meninggalkan istananya dan menuju ke padang penggembalaan. Ia bertemu dengan seorang gembala berpakaian kumal yang bertambalan di sana-sini. Walaupun di luar ia compang-camping, namun gembala itu telah menemukan Tuhan dalam kesendiriannya di padang rumput. Di dalamnya, ia telah menjadi seorang yang sangat kaya dan tampan. Sedangkan Sultan Ibrahim bin Adham, walaupun ia mengenakan busana sutra, di dalamnya compang-camping karena ia belum menemukan Al-Haqq. Ibrahim bin Adham kemudian meminta si gembala untuk saling bertukar pakaian, yang lalu menerima tawarannya. </p>
	<p>Sang Sultan pun akhirnya berbalik dari penghadapannya kepada keduniawian. Kerajaannya, harta dan kekuasaannya, pakaian-pakaian dan kedudukannya adalah hijab-hijab penghalang antara dia dan Tuhannya. Ia robek semua itu dan mencampakkannya. Tapi tentu saja, ia harus memiliki semua hal itu dulu sebelum bisa mencampakkannya. </p>
	<p>Lalu melangkahlah ia ke arah mana pun yang dikatakan kepadanya.</p>
	<p>Ibrahim bin Adham dituntun kepada seorang Sultan Kebenaran, seorang guru: seorang syaikh. Di bawah perintah gurunya, Ibrahim bin Adham memulai jihad terbesarnya—yaitu  perang melawan syahwat dan hawa nafsunya sendiri.  </p>
	<p>Dalam pembimbingannya sebagai seorang pejalan, guru Ibrahim bin Adham memberinya tugas untuk berkelana di dunia, supaya ia bisa mengerti dari mana ia berasal. </p>
	<p>Dalam latihan semacam ini, engkau seperti membaca sebuah buku untuk pertama kalinya lalu mengerti beberapa hal. Lalu engkau membacanya lagi, dan mengerti beberapa hal lainnya. Kemudian, engkau membacanya untuk ketiga kalinya, dan masih juga engkau temukan beberapa hal yang lain lagi. Sang Syaikh menyuruh Ibrahim bin Adham pergi untuk membaca buku tentang kehidupan lampaunya sendiri, sehingga dia dapat memahaminya pada tingkat yang lebih tinggi.</p>
	<p>Buku teragung adalah dunia ini, kehidupan ini. Baca, baca, dan bacalah lagi. Bagian terbanyak dari isi buku itu adalah masa lampaumu. Sejalan dengan pembacaan ulangmu yang terus-menerus, kau akan menemukan ia berubah, dan kau akan menemukan dirimu sendiri. Ia adalah buku yang sangat besar, menjangkau dari bumi ini hingga ke pojok-pojok terjauh dari seluruh langit.</p>
	<p>Ibrahim bin Adham telah kembali ke kota Balkh pada suatu malam yang dingin di musim salju. Dia lalui malam itu dengan melaksanakan shalat Isya di Masjid Agung yang didirikannya semasa ia masih menjadi sultan.</p>
	<p>Malam merupakan saat yang sangat penting bagi para pencari. Waktu untuk shalat Isya di masjid dimulai kira-kira satu jam setelah terbenamnya matahari, dan biasanya berlanjut sampai dua setengah jam kemudian. Setelah menyelesaikan ibadah mereka pada Allah, sebagian orang langsung pulang ke rumah untuk bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai. Mereka menatap mata dan menciumi wangi rambut orang-orang terkasih mereka. Itu pun sebuah ibadah—mencintai istri dan anak-anak. Di malam hari pula, para wali besar serta para nabi biasanya mencurahkan diri mereka sepenuhnya untuk shalat dan beribadah kepada Allah. </p>
	<p>Sedangkan Ibrahim bin Adham, setelah ia menyelesaikan shalat Isya-nya, sama sekali tidak memiliki satu tempat pun untuk dituju. Dia bergumam kepada dirinya sendiri, “Ini adalah rumah Allah, dan aku dulu membangunnya agar senantiasa terbuka kepada semua orang. Akan kucari sebuah sudut kecil untuk duduk, sekadar sebagai tempat tafakur dan beristirahat.”</p>
	<p>Kemudian datanglah penjaga masjid. Kebetulan, belum lama berselang karpet masjid itu baru saja dicuri. Si penjaga menemukan sang “Bekas Sultan”, kini telah menjadi seorang darwis kumal, lalu berkata, “Ha! Ini dia si pencuri karpet, sekarang sembunyi di sini mau mengambil lagi!” Ia menyambar kaki Ibrahim bin Adham lalu menyeret kepalanya menuruni tangga masjid yang terdiri dari seratus anak tangga. Kepala Ibrahim bin Adham pun membentur anak tangga itu satu demi satu. Dan di sepanjang tangga menurun ke bawah, bersama setiap rasa sakit di kepalanya karena terbentur anak tangga, dia bersyukur pada Allah. Ketika telah sampai di anak tangga terbawah, dia katakan pada dirinya sendiri, “Wah, sayang sekali, seharusnya dulu kusuruh buat anak tangga lebih banyak lagi.”</p>
	<p>Karena keberserahdiriannya pada Kehendak Ilahiah, bersama dengan setiap penderitaan yang dirasakannya, naik pulalah tingkat kesucian nafs -nya. Oleh karena Ibrahim bin Adham telah meninggalkan dunia, tertinggal pula derita-derita alam dunia. Demikianlah, engkau juga harus mengalami penderitaan-penderitaan dunia ini agar tingkat kesucian jiwamu meningkat.</p>
	<p>Semua kitab suci mengatakan bahwa kita dihadirkan ke dunia ini untuk diuji. Engkau bisa menemukan pernyataan ini di dalam ajaran Musa a.s., ajaran Isa a.s., dan dalam ajaran Muhammad s.a.w.</p>
	<p>Tetapi apakah sebenarnya “diuji” itu? Seorang guru menguji para siswanya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka, mengetahui tingkat pemahaman mereka. Si guru tidak tahu sedalam apa para siswanya telah belajar. Tapi bukankah Allah mengetahui? Allah mengetahui dengan sempurna kemampuan, pemahaman, dan tingkat kesadaran kita. Mengapa Allah menguji, adalah untuk membuat kita mengetahui. Ujian menunjukkan pada kita sendiri di mana kita berada, dan juga membuat yang lain tahu di mana kedudukan mereka, melalui ujian masing-masing.</p>
	<p>Orang-orang yang menanggung ujian-ujian terberat adalah para kekasih Allah—para  nabi, para wali, dan para guru-guru milik Allah. Mereka adalah simbol-simbol kasat mata bagi umat manusia, yang tugasnya adalah untuk menampilkan alasan kehadiran kita di dunia ini.</p>
	<p>Akhirnya, Ibrahim bin Adham berhasil melewati hampir semua ujian yang diatur untuknya oleh syaikhnya, lalu pulanglah dia ke kota tempat tinggal syaikhnya tersebut. Sebelum kedatangannya, syaikhnya berbicara kepada murid-muridnya yang lain. Kau tahu, para syaikh mengetahui peristiwa-peristiwa yang datang dan pergi, dalam diri mereka maupun di luar diri mereka. Sang Syaikh menugaskan seluruh muridnya untuk pergi ke semua pintu gerbang kota. “Kalau kalian melihat Ibrahim bin Adham pulang, jangan biarkan dia masuk. Tinjulah dia, tendanglah. Ludahi, pukul, buat dia jatuh.” Ketika Ibrahim bin Adham sampai di salah satu gerbang kota, saudara-saudara seperguruannya melakukan berbagai hal yang kejam kepadanya. Dia pergi ke gerbang lain, tetapi perlakuan saudara-saudaranya di sana pun sama saja buruknya. Dia pergi ke gerbang yang ketiga dan disambut dengan cara yang sama. Ibrahim bin Adham menegaskan, “Dengar! Apa pun yang akan kalian lakukan terhadapku—walaupun kalian menumpahkan darahku atau mencoba membunuhku—tidak akan ada seorang pun yang bisa menghalangiku menjumpai Syaikh.”</p>
	<p>Ketika akhirnya dia berhasil melewati gerbang kota, para saudaranya terus-menerus menendangi kedua tumitnya, meski dia telah mencapai rumah syaikhnya. Para pejalan tetap saja menendang, menendang, dan menendang. Ibrahim bin Adham tidak berkata sepatah pun. Dia terus saja berusaha untuk mencapai rumah syaikhnya. Ketika seorang darwis yang masih muda—yang agak terlalu bersemangat—menendang begitu keras sehingga kulit bagian belakang tumitnya terkelupas. Ibrahim bin Adham berbalik dan berkata dengan tenang, “Mengapa kalian lakukan semua ini kepadaku? Bukankah kalian tahu bahwa aku pun saudaramu? Aku juga seorang darwis. Apakah kalian masih saja menganggapku Sultan Balkh?”</p>
	<p>Para darwis kemudian melaporkan hal ini kepada Syaikh, yang kemudian mengatakan, “Nah, lihatlah, dia belum berhasil mencapai maqam tertinggi. Dia masih belum melupakan siapa dirinya sebelumnya. Cita rasa kesultanan, nikmatnya kekuasaan seorang raja masih tertinggal di ingatan pangkal lidahnya dan dalam kenangannya.” []</p>
	<p>: : : : : : : : :</p>
	<p><img src="http://suluk.blogsome.com/images/CBAsmallblog.jpg" alt="CBA cover" /></p>
	<p><span class="add">Judul: <b>“Cinta Bagai Anggur:</b> Tuangan Hikmah Dari Seorang Guru Sufi di Amerika.”<br />
Karya: Syaikh Muzaffer Ozak, dikompilasikan oleh Syaikh Ragip Frager<br />
Alih bahasa: Nadia Dwi Insani, Herry Mardian, Herman Soetomo<br />
Penerbit: Pustaka Prabajati</p>
	<p>17 x 23 cm, 202 hal.<br />
ISBN: 978-979-15115-0-6<br />
Harga: Rp. 48.000,-</span></p>
	<p>Yang masih menanyakan di mana memperoleh buku ini, bisa dipesan di :</p>
	<p>Irene Rosnovian (022)730-19-19, +62-812-2325-192.<br />
irene.husni2 [at] gmail [dot] com</p>
	<p>Avan Noer (021)7076-5799, 0812-902-3152<br />
avan [at] iss [dot] co [dot] id</p>
	<p>Nanang Sobari (Apuy), 0856-240-67-250.<br />
http://tokobukusobari.blogsome.com/</p>
	<p>PS: Di bandung kemarin saya juga lihat buku ini ada di toko buku Togamas, berdampingan dengan buku <a href="http://suluk.blogsome.com/2008/02/17/guru-sejati-dan-muridnya-sudah-diluncurkan/"><b>Guru Sejati dan Muridnya</b></a>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/09/01/pendidikan-hati-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Esensi Ilmu Pengetahuan</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/08/27/esensi-ilmu-pengetahuan/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/08/27/esensi-ilmu-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 09:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Puisi</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/08/27/esensi-ilmu-pengetahuan/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang zalim penuh ketidakadilan jika dia tahu seratus persoalan tak mendasar dalam ilmu pengetahuan, namun ia tak mengenal jiwanya sendiri. 

Ia tahu sifat setiap benda, namun seperti keledai ketika menerangkan tentang dirinya sendiri.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<blockquote><p>Seseorang zalim penuh ketidakadilan jika dia tahu seratus persoalan tak mendasar dalam ilmu pengetahuan, namun ia tak mengenal jiwanya sendiri. </p>
	<p>Ia tahu sifat setiap benda, namun seperti keledai ketika menerangkan tentang dirinya sendiri.</p>
	<p><i>&#8220;Aku tahu semua yang sunnah dan bid&#8217;ah menurut syariat.&#8221;</i> Lalu bagaimana mungkin kau tidak mengetahui bahwa kau termasuk yang sunnah atau cuma seorang nenek nyinyir yang gemar bicara?</blockquote>
<a id="more-181"></a></p>
	<blockquote><p>Kau tahu &#8220;ini haram&#8221; dan &#8220;itu halal&#8221;, namun perhatikan baik-baik: Dirimu itu sesuai apa yang dikehendaki-Nya atau tidak?</p>
	<p>Kau tahu nilai setiap barang dagangan, namun kau tak tahu nilaimu sendiri&#8212;itu kebodohan tak terperi.</p>
	<p>Kau tahu semua angka perbintangan yang mujur dan sial, tapi kau tidak mencari tahu apa dirimu sendiri termasuk mereka yang beruntung atau berwajah hitam muram <sup>[*]</sup>.</p>
	<p>Cuma itulah inti seluruh ilmu pengetahuan: untuk mengetahui akan jadi apa kau di hari kebangkitan nanti.</p></blockquote>
	<p><b>Jalaluddin Rumi</b><br />
(Terjemahan Bahasa Indonesia oleh Herry Mardian)</p>
	<p>: : : : : : : :</p>
	<p><b>Keterangan</b><br />
<small>[*]</small> <i>&#8220;pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.&#8221;</i> Q. S. Ali Imran [3] : 105.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/08/27/esensi-ilmu-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Tauhid: Imam An-Nifari</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/08/21/tentang-tauhid-imam-an-nifari/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/08/21/tentang-tauhid-imam-an-nifari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 09:58:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/08/21/tentang-tauhid-imam-an-nifari/</guid>
		<description><![CDATA[Wahai hamba! Engkau tidak memiliki sesuatu pun, kecuali apa-apa yang telah Aku kehendaki untuk menjadi milikmu. Tidak juga engkau memiliki dirimu sendiri, karena Akulah Penciptanya! Tidak pula engkau sekedar memiliki jasadmu, karena Aku Sang Pembentuknya! Hanya dengan Pertolongan-Ku engkau dapat berdiri, dan dengan Kalimat-Ku engkau hadir di dunia ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><span class="add">Dari <i><b>Al-Mauqif wal Mukhatabah</b></i>, Imam An-Niffari,</span><br />
<span class="add">(dikutip dari sebuah catatan dari Zamzam Ahmad Jamaluddin</a>).</span></p>
	<p><img src='/images/Allaheser2.1.jpg' alt='' /></p>
	<p>Allah swt berseru kepada hamba-Nya:</p>
	<p>Wahai hamba! Engkau tidak memiliki sesuatu pun, kecuali apa-apa yang telah Aku kehendaki untuk menjadi milikmu. Tidak juga engkau memiliki dirimu sendiri, karena Akulah Penciptanya! Tidak pula engkau sekedar memiliki jasadmu, karena Aku Sang Pembentuknya! Hanya dengan Pertolongan-Ku engkau dapat berdiri, dan dengan Kalimat-Ku engkau hadir di dunia ini. <a id="more-180"></a></p>
	<p>Wahai hamba, katakanlah &#8220;Tiada Tuhan melainkan Allah!&#8221;, kemudian tegaklah berdiri di jalan yang benar, maka tiada Tuhan melainkan Aku! Dan tiada pula wujud yang sebenarnya wujud, kecuali untuk-Ku! Segala sesuatu yang selain Aku adalah dari buatan Tangan-Ku dan dari tiupan Ruh-Ku.</p>
	<p>Wahai hamba! Segala sesuatu adalah kepunyaan-Ku, bagi-Ku, dan untuk-Ku! Jangan sekali-kali engkau merebut apa yang menjadi kepunyaan-Ku!</p>
	<p>Kembalikan segala sesuatu kepada-Ku, niscaya akan Kubuahkan pengembalianmu dengan Tangan-Ku, dan Kutambahkan padanya dengan Kepemurahan-Ku. Serahkan segala sesuatu kepada-Ku, niscaya Kuselamatkan engkau dari segala sesuatu!</p>
	<p>Ketahuilah, bahwa hamba-Ku yang terpercaya adalah yang mengembalikan segala sesuatu selain-Ku kepada-Ku! Tengoklah dengan pandangan tajam kepada-Ku, bagaimana cara-Ku melakukan pembagian, niscaya engkau akan melihat pemberian dan penolakan merupakan dua bentuk yang dinamakan, agar dengan demikian engkau dapat mengenal-Ku!</p>
	<p>Hai hamba! Sesungguhnya engkau telah melihat Aku sebelum dunia ini terhampar, dan engkau mengenal siapa yang engkau lihat. Dan hanya kepada-Ku lah engkau akan kembali!</p>
	<p>Kemudian Aku ciptakan segala sesuatu untukmu, dan Aku labuhkan tirai hijab atasmu, lalu engkau pun terhijab dengan tirai wujudmu sendiri, kemudian Aku menghijab engkau dengan diri-diri yang lain, yang mana diri-diri yang lain itu menyeru kepadamu dan kepada dirinya sendiri, dan kesemuanya itu menjadi hijab terhadap Aku!</p>
	<p>Setelah semua hal itu, Aku pun akan kembali Dzahir, dari balik semua itu Aku akan memperkenalkan Diri-Ku. Aku katakan kepadamu, bahwa Aku-lah Sang Khaaliq, Aku-lah yang menciptakan segala sesuatu, dan bahwasanya Aku telah menjadikan engkau sebagai khalifah atas kesemuanya itu. Dan ketahuilah, bahwa semua hal itu hanyalah amanah atasmu, dan diwajibkan atas setiap pengemban amanah untuk mengembalikannya!</p>
	<p>Maka telitilah dirimu, setelah engkau mempercayai-Ku, sudahkah engkau mengembalikan segala sesuatu itu kepada-Ku? Sudahkah engkau memenuhi perjanjian yang telah engkau buat dengan-Ku?</p>
	<p>Hai hamba! Aku ciptakan segala sesuatu itu untukmu, maka bagaimana Aku akan rela kalau engkau peruntukkan dirimu bagi sesuatu itu! Sesungguhnya Aku melarang engkau untuk menggantungkan dirimu kepada sesuatu itu, karena Aku Maha Pencemburu padamu!</p>
	<p>Hai hamba! Aku tidak rela engkau peruntukkan dirimu bagi sesuatu, walau harapanmu akan sorga sekalipun, karena Aku ciptakan engkau hanya untuk-Ku, di sisi yang tiada sisi, dan di mana yang tiada mana!</p>
	<p>Aku ciptakan engkau atas pola Citra-Ku, seorang diri, tunggal, mendengar, melihat, berkemauan serta berbicara. Dan Aku jadikan engkau berkemampuan untuk mentajalikan Nama-nama-Ku, dan tempat untuk Pemeliharaan-Ku.</p>
	<p>Engakau adalah sasaran Pandang-Ku! Tiada dinding penghalang yang memisahkan antara Aku dan engkau! Engkau adalah kawan duduk semajelis dengan-Ku, maka tiada pembatas antara Aku dan engkau</p>
	<p>Hai hamba! Tiada diantara Aku dan engkau, antara. Aku lebih dekat kepadamu dari dirimu sendiri, Aku lebih dekat kepadamu dari ucapan lisanmu, maka pandanglah kepada-Ku, karena Aku senang memandang kepadamu.</p>
	<p>[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/08/21/tentang-tauhid-imam-an-nifari/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bangku Belakang</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/06/04/bangku-belakang/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/06/04/bangku-belakang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 06:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Cerpen</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/06/04/bangku-belakang/</guid>
		<description><![CDATA[	Oleh Sofie Dewayani, dimuat di Koran Tempo edisi 17 Mei 2009.
	PADA hariku yang lelah, warnet adalah tempat istirah. Di dunia maya aku bisa menyapa teman-teman lama. Ceria, tertawa, seperti dulu waktu SMA. Cerita nostalgia, kabar bahagia, terpampang bergantian seperti pajangan. Mataku menelan lembar demi lembar layar, menyusuri kota demi kota. Teknologi memang gila. Ruang dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><span class="add">Oleh <a href="http://dialogkecil.multiply.com/links/item/27/Cerpen_Bangku_Belakang"><b>Sofie Dewayani</b></a>, dimuat di Koran Tempo edisi 17 Mei 2009.</span></p>
	<p>PADA hariku yang lelah, warnet adalah tempat istirah. Di dunia maya aku bisa menyapa teman-teman lama. Ceria, tertawa, seperti dulu waktu SMA. Cerita nostalgia, kabar bahagia, terpampang bergantian seperti pajangan. Mataku menelan lembar demi lembar layar, menyusuri kota demi kota. Teknologi memang gila. Ruang dan waktu dirangkumnya dalam satu sentuhan jemari saja.</p>
	<p>Tak heran orang menyebutnya dunia maya. Jejaring pertemanan ini meleburkan peristiwa dan masa. Aku bisa tergelak oleh kisah lama, tersenyum memandangi potret kelabu masa remaja. Aku menyeletuk sekadarnya, tapi lebih sering menyaksikannya saja. Aku tak ingin beranjak dari bangku belakang. Seperti dulu, waktu SMA.<br />
<a id="more-179"></a><br />
Sayang Tino tak tahu bagaimana nikmatnya. Katanya, bernostalgia seperti itu membuang waktu saja. Padahal aku tahu diam-diam dia ingin tahu kabar teman-teman lama.</p>
	<p>&#8220;Semua menanyakan kamu,&#8221; aku meyakinkannya. &#8220;Harno kirim salam. Dia kerja di perusahaan penerbangan. Bambi sudah jadi bos sekarang. Kardiman sudah lama tinggal di Jerman. Vina, Karina, Mira, sudah punya anak remaja. Kamu pasti nggak percaya, Bian jadi kandidat pilkada.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Hebat,&#8221; celetuknya. Namun matanya tak lepas dari roda sepeda di tangannya.</p>
	<p>&#8220;Memangnya kamu tahu semua itu dari mana?&#8221; Tino membetulkan letak kacamatanya dengan punggung tangannya. Jemarinya berlumur gemuk. Sebuah rangka sepeda terburai di depannya, tak berbentuk. Aku membungkukkan tubuh, agar suaraku mengalahkan deru bajaj yang terbatuk-batuk.</p>
	<p>&#8220;Dari internet tentu. Ayo, kapan kita ke warnet sama-sama? Aku yang bayar. Nanti kutunjukkan foto-foto mereka. Kamu bisa bikin akun Facebook, lalu ngobrol dengan mereka.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Buat apa? Aku akan memamerkan apa?&#8221; Dia tertawa. Aku diam saja.</p>
	<p>&#8220;Aku bukan lagi komandan upacara, Sam.&#8221; Tino berdiri lalu melempar lap yang bergemuk seperti jemarinya. Tak ada yang akan mengira bahwa bibirnya yang kehitaman itu pernah berteriak lantang memimpin upacara bendera. &#8220;Aku bukan siapa-siapa,&#8221; ujarnya.</p>
	<p>&#8220;Aku juga bukan, No.&#8221; Tawaku terdengar mengambang.</p>
	<p>&#8220;Aku malas. Kalau aku menang undian, boleh deh aku kontak mereka.&#8221; Dia tertawa.</p>
	<p>&#8220;Apa kamu pernah cerita tentang aku?&#8221; Tino tak mengangkat kepalanya. Tangannya sibuk mengusap jeruji sepeda.</p>
	<p>Aku menggeleng. Bengkel ini terlalu kusam dan temaram, tak seperti pendar dunia maya yang menentramkan. Di sana, semuanya harus sempurna, tampak bahagia. Foto keluarga terpajang. Anak-anak berpose lucu menggemaskan. Keluarga berpelukan mengumbar tawa, berlatar eksotika tempat wisata. Semuanya harus indah untuk dikenang, seperti masa-masa SMA.</p>
	<p>&#8220;Lagipula, apa iya mereka akan ingat aku?&#8221; gumamnya.</p>
	<p>&#8220;Dibandingkan teman-teman kita, kamu nggak berubah sejak SMA,&#8221; jawabku.</p>
	<p>Tino mengerlingku. Senyumnya masam. Aku memalingkan mataku ke arah kali yang kehitaman di bawah jembatan. Siapapun akan mengakui bahwa Tino tak banyak berubah. Dia tidak botak, tidak gendut. Rambutnya pun tak memutih. Dia hanya terlihat sedikit tua, dan kusam. Juga letih, ringkih. Legam, mengisut oleh garang debu jalanan.</p>
	<p>Dulu, bangkuku dan bangku Tino bersebelahan. Karenanya, kutahu pasti Tino tak pernah mencatat pelajaran. Buku catatannya penuh berisi gambar-gambar. Dia hanya belajar dari fotokopian catatan teman-teman perempuan. Dia juga setia kawan, rajin membagi contekan. Tak seperti aku yang suka menyendiri di sudut bangku belakang, Tino punya banyak teman. Meskipun bukan yang paling pintar, kutahu otak Tino lumayan. Karenanya banyak yang heran ketika dia tak lolos ujian masuk universitas idamannya. Sejak itu, dia berpindah dari kota ke kota. Konon, mencari peruntungan.</p>
	<p>Saat melihatnya di sini tiga tahun lalu, aku segera mengenalinya. Dia masih Tino yang sama: Tino yang teguh pendirian, juga makin keras kepala. Memikirkan itu, aku urung memberitahunya tentang rencana reuni SMA minggu depan. Tak mungkin dia mau datang. Kurahasiakan keputusan yang barusan kuniatkan: aku akan datang. Aku bosan tak terlihat. Aku bosan duduk di bangku belakang.</p>
	<p>: : : : : : : :</p>
	<p>UNTUNG pamanku meminjamiku Kijangnya. Tak mungkin aku menyambangi kafe hotel bintang lima ini dengan menumpang kopaja. Tak akan kubiarkan bajuku tercemari peluh dan aroma debu jalanan. Semuanya harus tampak sempurna, seperti foto-foto yang kupajang di Facebook sana.</p>
	<p>Di kafe itu, aku segera mengenali teman-temanku. Harno tampak menyolok dengan tubuhnya yang tambun dan rambut keperakan. Vina, Karina, datang dengan suami dan anak-anak mereka. Kardiman yang baru dua hari tiba dari Jerman membagi-bagi gantungan kunci dan cokelat. Tersipu-sipu, aku menyembunyikan senyum ketika mereka bertanya mengapa badanku tak memuai seperti mereka. &#8220;Rajin berolahraga saja,&#8221; ucapku sambil menjejalkan sekeping keripik ke mulutku. Aku melirik Kardiman. Fasih sekali lidahnya mengeja nama-nama makanan asing ini kepada pelayan. Pad thai, tom yam, ah, entah apa lagi.</p>
	<p>&#8220;Sama seperti dia,&#8221; kataku kepada pelayan yang menanyakan pesanan, sambil menunjuk Kardiman. Semua tertawa.</p>
	<p>&#8220;Mana istri dan anakmu, Sam?&#8221; Kardiman menatapku sambil menyeruput jus berwarna merah muda.</p>
	<p>&#8220;Oh, istriku sedang ada urusan kantor ke Singapura. Anakku ada di rumah sama neneknya.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Bisnis kamu sukses ya?&#8221;</p>
	<p>&#8220;Begitu sajalah, Man. Lumayan.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Ada yang tahu kabar Tino, ketua kelas kita?&#8221; Bian tiba-tiba berseru dari ujung meja, memecah silang cerita tentang guru-guru SMA. Kardiman mengangkat bahunya. Entah mengapa, aku merasa jadi pusat perhatian semua mata.</p>
	<p>&#8220;Kabarnya dia sekarang berwiraswasta. Aku juga sudah lama nggak ketemu dia,&#8221; sahutku. Kureguk teh hangat cepat-cepat. Untung saja, pelayan datang mengedarkan beberapa pinggan makanan.</p>
	<p>&#8220;Jadi, gosip tentang dia punya bengkel sepeda itu bener, nggak?&#8221; Karina berseru di tengah kesibukan piring-piring makanan diedarkan. Aku mengangkat bahu. Yang lain membisu, sibuk memulai suapan pertama.</p>
	<p>&#8220;Tanpa bantuan Tino pasti aku nggak lulus,&#8221; Kardiman menggumam, &#8220;Ingat nggak, dia menyalin jawaban ujian matematika di atas tisu, lalu kita edarkan dari bangku ke bangku?&#8221;</p>
	<p>Harno, Bian, Vina, tergelak hingga bahu mereka terguncang. Aku mengunyah mie bertabur udang bernama pad thai itu pelan-pelan. Bian menyambung ceritanya tentang sukses contekan yang terus berulang hampir di setiap ujian. Entah mengapa, makanan ini terasa aneh di lidah. Aku meletakkan sendokku dengan diam. Lidahku yang ingin mengucapkan sesuatu seperti teriris tajam.</p>
	<p>Aku ingat sesuatu yang seperti sengaja terlupa. Kisah sukses contekan itu bumbu yang berlebihan. Tino sempat kepergok membagi contekan, namun dia tak mengaku kepada siapa contekan itu diberikan. Tino dihukum menghormat tiang bendera di tengah lapangan upacara selama dua jam. Sendiri saja.</p>
	<p>Aku ingat semuanya. Aku, si penghuni bangku belakang. Pad thai ini terlalu manis rasanya. Sup ikan bernama tom yam itu terlalu asam. Tak ada rasa yang akurat. Namun, hidangan ini lumat dengan lahap. Yang terlihat harus tampak sempurna, meskipun menyembunyikan borok atau luka. Menentramkan, seperti kenangan lama.</p>
	<p>: : : : : : : :</p>
	<p>KULETAKKAN dua bungkus pad thai itu di meja makan. Memang aku tak suka, tapi biarlah Yanti dan Restu mencicipi menu restoran hotel bintang lima. Aku akan tidur nyenyak malam ini, setelah mengukir prestasi merasai pad thai. Tersenyum geli, aku mengenang tawaranku untuk membayar semua tagihan di restoran tadi. Basa-basi basi. Tentu saja Bian memenangkan perdebatan soal pembayaran tagihan. Aku tahu dia tak akan membiarkan dirinya ditraktir teman. Pelan-pelan, kulepas sepatu kulit pinjaman dari paman yang sesungguhnya sangat kesempitan. Seandainya Tino hadir di reuni ini, semua lakon ini tak akan sesempurna ini.</p>
	<p>Kubuka tirai yang menjadi pintu kamar, menguarkan aroma obat nyamuk bakar. Yanti tertidur dengan mulut terbuka, pasti kelelahan menjahit baju pelanggan. Dia tak tahu aku menghadiri reuni malam ini. Dia tak tahu suaminya telah mengobral cerita tentang seorang istri yang sedang dinas ke Singapura, di sebuah hotel bintang lima. Dia hanya tahu bahwa sewa rumah petak ini belum terbayar hingga dua bulan.</p>
	<p>Mungkin aku akan memberanikan diri berbicara kepada Tino besok pagi. Siapa tahu dia punya sedikit uang yang bisa kupinjam. Kutahu dia selalu setia kawan, seperti tiga tahun lalu, saat dibantunya aku membuka kios majalah di depan bengkel sepedanya. Diajarinya aku mereparasi sepeda, seperti dulu saat diajarinya aku matematika. Selama aku mengenalnya, tak pernah dibiarkannya aku sendirian. Tak pernah dibiarkannya aku terpuruk di bangku belakang.[]</p>
	<p>Urbana, 11 Januari 2009</p>
	<p>: : : : : : : :</p>
	<p><span class="add"><a href="http://dialogkecil.multiply.com/links/item/27/Cerpen_Bangku_Belakang"><b>Sofie Dewayani</b></a> menempuh studi tentang sastra anak-anak di University of Illinois, di Urbana-Champaign, Illinois, AS.</span>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/06/04/bangku-belakang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Break Me Free</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2009/05/16/break-me-free/</link>
		<comments>http://suluk.blogsome.com/2009/05/16/break-me-free/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 19:07:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herry</dc:creator>
		
	<category>Puisi</category>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2009/05/16/break-me-free/</guid>
		<description><![CDATA[	
City light, sparkling under the moon&#8217;s smiling.
People gone, their children&#8217;s hair they&#8217;re caressing.
Lonely in crowd, longing for something,
not sure of it, i guess this just the beginning.
	there&#8217;s a call inside me i&#8217;m trying to hear
echoes my mind, grows my fear
look for the feeling been gone long
recognize it, can&#8217;t be wrong

	Is there something deserve my tears?
Is [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<blockquote><p><img src='/images/city_light2.jpg' alt='loney in crowd' /><br />
City light, sparkling under the moon&#8217;s smiling.<br />
People gone, their children&#8217;s hair they&#8217;re caressing.<br />
Lonely in crowd, longing for something,<br />
not sure of it, i guess this just the beginning.</p>
	<p>there&#8217;s a call inside me i&#8217;m trying to hear<br />
echoes my mind, grows my fear<br />
look for the feeling been gone long<br />
recognize it, can&#8217;t be wrong</blockquote>
<a id="more-178"></a></p>
	<blockquote><p>Is there something deserve my tears?<br />
Is there someone really hear?</p>
	<p>break me free<br />
help me, break me free.</p>
	<p>Robotic money-collecting,<br />
mechanistic social-smiling,<br />
break me free.</p>
	<p>the moon&#8217;s so bright, someone out there dying<br />
politicians fight, i&#8217;m done with their promising<br />
our childrens blind, their future is non-educating<br />
preachers around, but their hearts are not praying</p>
	<p>there&#8217;s a call inside me i&#8217;m trying to hear<br />
out of my soul, bleed my tears<br />
last time kneeling, been so long<br />
regain it, can&#8217;t be wrong</p>
	<p>Is there something deserve my tears?<br />
Is there someone really hear?</p>
	<p>break me free<br />
help me, break me free.</p></blockquote>
	<p>( Herry Mardian, Dgs, 12 Mei 2009 // This song lyric was created by request from <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1002214919">Oki</a> for his band, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1002214919#/pages/Vairocana/89307391209?sid=d341f311125d19585a597aed2221af77&#038;ref=search"><b>Vairocana</b></a>.)</p>
	<p>: : : : : : : :</p>
	<p><span class="add">Photo by <a href="http://www.flickr.com/photos/wvs/"><b>Sam Javanrouh</b></a>, used by the photographer&#8217;s permission. The original image is <a href="http://wvs.topleftpixel.com/08/01/02/"><b>here</b></a>.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suluk.blogsome.com/2009/05/16/break-me-free/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
