Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Tuesday, March 18, 2008

‘Suluk’? ‘Mengenal Diri’? ‘Misi Hidup’? Apa itu?

[TANYA] bersuluk, bermakna keberserahdirian. namun apakah yang dilakukan/dikerjakan oleh orang2 yg bersuluk? amalannya? dimana? caranya? kenapa? dan mengapa? (Nurhidayah)

[JAWAB] Bersuluk sebenarnya tidak tepat jika dikatakan bermakna keberserahdirian. ‘Islam’ (aslama)-lah yang artinya ‘berserah diri’. ‘Islam’, adalah keberserahdirian dalam ketaatan dan pengabdian sejati kepada Allah.

Bersuluk, artinya ‘menempuh jalan’. Jalan yang dimaksud adalah ‘jalan kembali kepada Allah’, yaitu ‘jalan taubat’ (ingat asal kata ‘taubat’ adalah ‘taaba’, artinya ‘kembali’), atau jalan ad-diin. ‘Suluk’ secara harfiah berarti ‘menempuh’, (Sin - Lam - Kaf) asalnya dari Q.S. An-Nahl [16] : 69, “Fasluki subula Rabbiki zululan,”
(selanjutnya…)

Wednesday, July 11, 2007

Rasa Cinta Yang Salah

cinta yang berkurang

[Tanya]

Ass Wr. Wb.

Mas Her, mau tanya. Saya sudah menikah, dan pasangan saya baik sekali. Tapi kenapa ya, belakangan ini saya merasa sedang tidak terlalu mencintainya, dan ada saja kekurangan dia di mata saya sekarang. Bahkan mulai tumbuh rasa ’suka’ kepada sahabat saya yang lain? Saya setengah mati menahan rasa ini, tapi rasa itu tetap ada.
(selanjutnya…)

Thursday, July 5, 2007

Benarkah Manusia Adalah Makhluk Yang Paling Mulia (Mengenal Diri, Mengenal Allah dan Ruh Al-Quds).

[TANYA] Mengapa dahulu, pada saat penciptaan manusia, malaikat yang terbuat dari cahaya, bersujud pada Adam yang hanya terbuat dari tanah? Bukankah cahaya lebih mulia dari tanah?

[JAWAB] Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia sejati (insan kamil) terdapat secuil ‘unsur yang sangat mulia,’ yaitu yang dibahasakan dalam Al Qur’an sebagai ‘Ruhul Quds’. Ruhul Quds bukanlah malaikat Jibril a.s., Jibril disebut sebagai Ruhul Amin, bukan Ruh Al-Quds. Ruh Al-Quds juga dikenal dengan sebutan Ruh min Amr, atau Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab). Dalam agama saudara-saudara dari nasrani, disebut Roh Kudus.

Ruh-Nya atau Ruhul Quds ini bukan dalam pengertian bahwa Allah memiliki ruh yang menghidupkan-Nya seperti kita. Ruh ini merupakan ruh ciptaan-Nya, sebagaimana ruh yang menjadikan diri kita hidup sekarang, namun dalam martabat tertingginya, dalam tingkatannya yang paling agung dan paling dekat kepada Allah.

Setiap ciptaan memiliki ruh. Manusia (ruh insani), tanaman (ruh nabati), hewan (ruh hewani), bahkan benda mati pun memilikinya. Atom-atom dalam benda mati sebenarnya ‘hidup’ dan terus berputar, dan ruh bendawi inilah yang menjadikannya ‘hidup’. Karena itu pula, benda, tumbuhan, hewan, bahkan anggota tubuh kita kelak akan bersaksi mengenai perbuatan kita di dunia ini. Namun demikian, ruh-ruh ini bukanlah ruh dalam martabat tertingginya seperti Ruh Al-Quds. (selanjutnya…)

Tuesday, June 19, 2007

Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan

sacred-union

Oleh Herry Mardian

KUTIPAN dari sebuah diskusi via e-mail antara saya dan Ilham*… mail ’sumber persoalannya’ saya edit biar nggak terlalu panjang. Oh ya, tulisan ini bukan curhatannya Ilham. Tapi tulisan ini kami terima via e-mail, dan kami jadi mendiskusikan pernikahan dan cinta.

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.
(selanjutnya…)

Saturday, March 31, 2007

Kenapa Al-Qur’an Tidak Jelas Sistematikanya?

[TANYA]

SEMOGA Allah selalu memberi keselamatan bagi kita semua. Bisakah memberi petunjuk kepada saya kenapa ayat-ayat dalam Al-Quran tidak tersusun secara sistematis? Adakalanya ditemukan pokok bahasan yang melompat-lompat dalam satu surat.

Bagaimana cara meraih makna dari kitab suci ini dengan baik sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan kita? Apakah ada pengaruhnya jika kita bisa berbahasa arab dalam mempelajari Al -Quran?

Wassalam,

–Wisnu Wijayanto–

 
(selanjutnya…)

Friday, March 30, 2007

Para Pencari Yang Jujur (Dengan Dirinya)

[TANYA]

SAYA punya pertanyaan yang dari dulu selalu bernaung dipikiran saya. Pertanyaan tersebut adalah mengapa sejak dulu tidak ada Nabi yang berasal dari para ‘pemuka agama’. Kita mengetahui bahwa umumnya para Nabi berasal dari orang-orang biasa. Maksud “biasa” disini bagi saya adalah mereka bukan dari para pemuka agama yang berkutat dengan keagamaan dalam kehidupannya sehari-hari. Contohnya Nabi Musa adalah seorang raja, Nabi Isa adalah seorang pengembala domba, Nabi Yusuf adalah seorang budak yang kemudian menjadi raja. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang.

Apa yang salah dari para pemuka agama yang hidup di jaman kenabian sehingga tidak ada yang dipilih menjadi Nabi? apakah karena para pemuka agama sangat yakin dengan apa yang dipegangnya sehingga ia merasa tidak perlu lagi mencari kebenaran? Apakah karena diri mereka sudah “penuh” sehingga tidak ada celah untuk pencerahan?

Berbeda dengan para Nabi yang kehausan akan jati dirinya. Nabi Ibrahim menyendiri dibukit Thur untuk mencari Tuhan-Nya, Nabi Musa menyendiri di Gunung Sinai untuk mencari Tuhan-Nya, begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW yang berdiam di Gua Hira.

Pertanyaan diatas juga membawa saya pada pertanyaan baru, yaitu pola seperti apa yang baik dalam beragama? apakah seperti Para Nabi yang walaupun tidak begitu terikat pada dogma agama tetapi Mereka selalu mencari dan mencari arti dari segala sesuatu sehingga menghantarkan Mereka menuju Pencerahan. Atau apakah seperti para pemuka agama yang begitu kuat dan yakin bahwa mereka sudah dalam kebenaran sehingga tidak perlu lagi mencari kebenaran.

Wassalaam,

–Dimas Tandayu–
(selanjutnya…)

Monday, October 9, 2006

Menemukan ‘Al-Muthahharuun’ (Hamba Yang Disucikan)

Muthahharuun

[TANYA]

Assalamu’alaikum, Mas Her, ijinkan saya bertanya, bagaimanakah menemukan “Hamba yang Disucikan” atau Al-Muthahharuun? Mohon maaf sebelumnya dan terima kasih atas perhatiannya.

Wassalam.
Anung Suwandaru.

(Catatan: sedikit mengenai Al-Mutahharuun ada di artikel ini.)

[JAWAB]

Wa alaikum salaam wr wb

Tentang Al-Muthahharuun

‘Hamba Yang Disucikan’ itu dikenal dalam Al-Qur’an dengan istilah Al-Muthahharuun. Hanya mereka yang sudah mencapai maqam ini sajalah yang mampu menyentuh makna qur’an yang sejati, sebagaimana disebutkan dalam Q. S. [56] : 77 - 79,

“Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia (77). Pada kitab yang terpelihara (78). Dan tidak menyentuhnya kecuali Al-muthahharuun (79).” (Q. S. [56] : 77 - 79)

Berbeda dengan umumnya, sesungguhnya ayat tersebut bukanlah perintah untuk berwudhu’ sebelum menyentuh Qur’an, sebagaimana dijelaskan di sini. Ayat itu memberi tahu tentang adanya salah satu status manusia, yaitu tingkatan Al-Muthahharuun.

Bagi mereka yang ada di tingkatan Al-Muthahharuun, Al Qur’an bukan lagi sekedar kitab yang dipahami dengan membaca kata arab secara literal, atau memahami melalui membaca terjemahannya. Bagi mereka, Al Qur’an sudah benar-benar kitab yang aplikatif dan operasional dalam kehidupan sehari-harinya. Bukan sekedar kitab ‘yang tinggi’, hanya dimuliakan, tapi susah untuk dioperasionalisasikan.
(selanjutnya…)

Thursday, June 8, 2006

Pengertian ‘Ulil-Albaab’

Herry Mardian, Yayasan Paramartha

Kata ‘ulil-albaab’, secara awam sering diterjemahkan sebagai ‘orang yang berakal’ atau ‘orang yang berfikir’. Pengertian ini tidak salah, tapi mungkin sudah saatnya kita memahami arti kata ‘ulil-albaab’ dengan lebih presisi lagi, sehingga setiap kata ‘ulil-albaab’ yang kita baca dalam Al-Qur’an akan menjadi lebih berbunyi dan bermakna lagi di dalam hati kita.

Sebagai contoh, kita lihat dua ayat dari firman Allah berikut ini:

12:111

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi) terdapat pengajaran bagi ‘ulil-albaab (diterjemahkan menjadi: bagi orang-orang yang berakal)…” Q.S. [12] : 111

13:19

“Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah ‘ulul-albaab (diterjemahkan: orang-orang yang berakal) saja yang dapat mengambil pelajaran.” Q.S. [13] : 19.

(selanjutnya…)

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites