No Words…
I have no words for this. I spent hours (and hours, and hours) just looking at her…
These were taken within a couple of hours after her birth.
I have no words for this. I spent hours (and hours, and hours) just looking at her…
These were taken within a couple of hours after her birth.

“Bawa Muhaiyaddeen tidak mendidik muridnya untuk menjadi Islamolog maupun pengkaji tasawuf yang hafal pelbagai istilah rumit, dan menjadikan para muridnya menang dalam setiap perdebatan ilmiah. Yang Bawa lakukan adalah mendidik para muridnya untuk hidup dan ‘bernafas’ dalam teori-teori tersebut sehingga esensinya mampu ditangkap oleh murid-muridnya.”
BERIKUT kutipan ‘Visi Buku Ini’ dari Pustaka Prabajati, sebagaimana tertulis dalam bukunya:
“…Buku ini langka karena di masa ini cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan literatur konkrit tentang cara seorang Mursyid sejati dalam memberikan bimbingan kepada para muridnya, dengan muatan yang mampu menggambarkan interaksi mereka dengan baik. Umumnya literatur yang tersedia dalam mengulas hal tersebut, biasanya ada dalam konteks masa Islam klasik, dengan gaya bahasa maupun istilah yang tidak mudah dipahami oleh pembaca umum. Kadang bimbingannya ditulis dalam bentuk hikayat. Selain itu, karena perbedaan masa yang terpaut jauh dengan masa kita sekarang, biasanya buku-buku tersebut memerlukan interpretasi yang lebih dalam lagi untuk bisa diturunkan dalam level kehidupan kita sehari-hari di masa kini.
(selanjutnya…)

Tuhan,
aku belajar mengemis.Kubergabung dengan kelompok pengemis
supaya aku bisa mengemis.Setiap hari,
kupakai perban kotor,
pura-pura menutup luka penderitaan
tak apalah, meski Kau tahu palsu.
Aku belum punya luka sejati.Kukenakan pakaian lusuh
pura-pura jadi orang fakir
tak apa kan, Tuhan.
Aku memang belum fakir sejati.Kuhitam muka dengan arang
pura-pura jadi kaum tertindas
boleh ya, Tuhan?
Aku kan belum tertindas sejati.Pura-pura lapar,
kuketuk pintu-Mu
mengemis receh rahmat-Mu.Bagaimana, Tuhan?
Sudah baikkah mengemisku pada-Mu?(HerryMardian, 270203, 19.53)
‘Belajar Mengemis’ © 2003 - Herry Mardian

Hai, semua orang!
Aku tau caranya sekarang!
Sekarang aku bisa terbang! Terbang!
Bertemu para Kekasih dan Tersayang…
begitu damai, lepas melayang…Mulai sekarang, setiap Jumat malam, aku terbang!
“I don’t care if monday’s blue..
tuesday’s grey and wednesday too..
thursday I don’t care about you..
it’s friday, i’m in Love…!!” **
(Herry Mardian)
__________________________
** “Friday i’m in Love” - The Cure.
© 2001 - Herry Mardian

Inilah jalanku!!
Biar hati pedih ditoreh sembilu
Biar air mata dan darah jadi sajadahkuInilah jalanku!!
Biar tangan dan kakiku dipaku di kayu
Biar mahkota duri ditaruh dikepalakuInilah jalanku!!
Biar aku terusir dari istanaku
Biar aku dan kaumku berjalan di malam senduMungkin Khadijahku kan dipanggil-Nya lebih dahulu
Mungkin gigiku kan patah dilempari batu
Pergilah, jika hanya sampai di situ kesetiaanmu!INI JALANKU.
Sampai darah dan senyum menyatu,
kan kupahamkan diriku
bahwa senang dan derita hanyalah sesuatu yang satu.(Herry Mardian; 27082001. Buatmu.)

I am a priest
but yet i am a soldier
Within me there’s a beast
standing on the mat of prayerI have to surrender, but yet have to kill
I am the wind that have to be stillA slave, but have to be a king
I am the silence that have to singRise, o master, rise and leave all your burden
I am your horse that needs to be ridden(Herry Mardian, 070801, 20.00.)
© 2001 - Herry Mardian
*Puisi pembuka buku ‘Guru Sejati dan Muridnya’ (M. R. Bawa Muhaiyyaddeen) edisi Indonesia, terbitan PICTS Bandung.

—– Original Message —–
From: “******, ******” < ******@*********.org>
To: “Herry”
Sent: Monday, July 09, 2001 11:37 AM
Wa’alaikumussalaam, Mas Herry.
Alhamdulillah, dan Insya Allah, senantiasa dalam Perkenan Allah Ta’ala. Semoga Mas Herry pun demikian juga adanya.
Nggak apa-apa kok, Mas, saya mengerti. Dari pertama kali lihat matanya pun sudah terlihat Mas sedang memiliki persoalan berat. ![]()
(selanjutnya…)

“Demi Allah. Jika Allah menghendaki untuk mengambil sesuatu dari hamba-Nya, demi Allah, pasti, pasti akan diganti-Nya dengan yang jauh lebih baik. Tunggu saja… beberapa bulan lagi.”
Itu janjinya padaku, waktu itu.
Don’t know why he’s smiling saying that…
My life fells apart now, broken into pieces. He could actually saw the deepest root in my heart was being pulled off, in all of a sudden. Cut into pieces, trashed in the dirt. I’m now torn, wounded, and empty…
Not once he ever lied. Not-Ever. I have no choice but to wait…