Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Thursday, February 16, 2006

Gelisah Dalam Kehidupan

Herry Mardian, Yayasan Paramartha.

[TANYA] Mas, mengapa sampai dengan sekarang saya masih merasa galau dengan diri saya sendiri (seingat saya saya mulai bertanya-tanya tentang diri saya sejak SD sampai dengan sekarang, kurang lebih 15 th), apalagi setelah saya baca kalimat “Siapa yang mengetahui dirinya, dia akan mengetahui Tuhannya”. Saya sangat berharap dengan balasannya. Terima kasih atas perhatiannya.

: : : : : : :

Sahabat, seringkah anda dihampiri pertanyaan-pertanyaan seperti ‘untuk apa semua ini? Apakah makna hidup saya? Kenapa hidup saya terasa datar saja, berputar-putar dari hari ke hari? Hanya pergantian episode senang dan sedih? Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya?’ pun mulai muncul di hati anda.

Sebenarnya, Allah setiap saat ‘memanggil-manggil’ kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja. Dia, dengan kasih sayang-Nya, terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa sehingga kalbunya dibuat-Nya ‘menoleh’ kepada Allah. Hanya saja, teramat sedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan, panggilan-Nya ini.

Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terus menerus mempertanyakan ‘Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya? Apa makna kehidupan saya?,’ dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari kesejatian? Mencari kebenaran? Mencari ‘Al-Haqq’? Allah, percayalah, akan selalu menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya.
(selanjutnya…)

Wednesday, February 8, 2006

Memahami Nama ‘Hu’/'Huwa’: Dia Yang Tak Bisa Diliputi Nama

Herry Mardian, Yayasan Paramartha.

 

A. Sebutan Tuhan

Sahabat-sahabat, kadang kita terlalu cepat ‘memagari diri’ dari istilah-istilah yang kita anggap tidak berada dalam domain yang sama dengan agama kita. Terlalu cepat ‘mengkafirkan’. Bukan mengkafirkan orang lain, tapi mengkafirkan bahasa (lain). Dengan memagari diri seperti ini, apalagi dengan didahului prasangka, maka dengan sendirinya kita akan semakin sulit saja memahami hikmah kebenaran yang Dia tebarkan di mana-mana.

Padahal, dalam Qur’an pun Allah menjelaskan bahwa beragam bahasa adalah tanda dari-Nya juga.

“Dan diantara ayat-ayatnya ialah menciptakan langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi orang-orang berilmu (’Alimiin).” Q.S. 30 : 22.

Jika ada orang menyebut tuhannya sebagai Yehovah, Eloh, Eloheim, atau Adonai, mekanisme dalam pikiran kita mendadak seperti mencipta imaji-imaji bahwa ada banyak tuhan yang sedang berjejer, sesuai urutan sesembahan yang ada sepanjang masa. Ada tuhan yang disebut Yehovah, Eloheim, Jahveh, Brahma, Manitou, Zeus, Allah, Tuhan Alah, dan lain sebagainya. Sedangkan yang kita sembah adalah yang disebut Allah, yang lainnya bukan, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuhan kita dan agama kita. Pokoknya thoghut, atau kafir.

Benarkah begitu? Bukankah Tuhan hanya satu? Bukankah ‘Laa ilaaha Ila’Llah’ artinya tiada Tuhan selain Allah? Wallahu ‘alam, meski saya mengerti bahwa Tuhan hanya satu, tapi saya belum mengetahui secara total makna lahiriyah maupun batiniyah dari kalimat syahadat itu. Tapi setidaknya, bukankah cara berfikir yang seperti tadi juga berarti bahwa tanpa sadar pikiran kita telah menyejajarkan Dia dengan selain-Nya? Atau, secara halus dan tersamar sekali, itu artinya kita masih mengakui bahwa ada banyak entitas dalam satu himpunan tuhan, dan Allah adalah salah satu dari yang ada dalam himpunan itu. Bukankah itu keterlaluan?
(selanjutnya…)

Monday, February 6, 2006

Ujian Adalah Sunnatullah

Kisah dari Jalaluddin Rumi yang tercantum dalam kitabnya ‘Fihi Ma Fihi’ berikut ini, sebenarnya juga bisa menjelaskan makna ayat Qur’an Q. S. 29 : 2,

Q.S. 29 : 2

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak akan diuji lagi?” (Q. S. 29 : 2)

Ayat berikutnya (Q. S. 29 : 3) juga menerangkan bahwa salah satu fungsi ujian bahwa salah satu fungsi ujian adalah memisahkan mereka yang ’shiddiq’ (benar) dari mereka yang ‘kidzib’ (dusta).

Q.S.29 : 3

Juga bisa disimpulan, beberapa dari makna ayat Q.S. 29 : 2 jika dijabarkan adalah:

  • Tidak ada keimanan tanpa ujian.
  • Ujian adalah sunatullah yang pasti berlaku.
  • Ujian adalah proses penanggalan hijab di dalam qalb seseorang.
  • Sesuatu yang menghijab adalah sesuatu yang terikat di qalb, biasanya sesuatu yang sangat kita sukai.

Silahkan dinikmati prosa Rumi dari Fihi Ma Fihi berikut ini. Saya terjemahkan ulang dari “Signs of The Unseen: The Discourses of Jalaluddin Rumi”.
(selanjutnya…)

Monday, January 9, 2006

Memahami Takdir — Bawa Muhaiyaddeen

Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen
Diterjemahkan oleh Herry Mardian.

bawa Muhaiyaddeen

ANAK-ANAKKU tersayang, sebenarnya apa yang kita lakukan, apa yang kita perbuat, itulah yang membuahkan takdir kita (Al-Qada’ wal Qadar). Pena-nya ada di tangan kita sendiri, dan kita sendiri yang menulis bukti-bukti yang akan menjadi bahan pertimbangan pada hari pengadilan nanti. Keputusan terakhir akan dibuat berdasarkan tulisan kita ini. Allah akan membacanya dan berkata, “Inilah takdirmu (nasib). Kami akan membuatnya sebagai takdir bagimu.”

Pada keadaan-kedaan tertentu, ketika kita merasa begitu berat menyingkirkan hal tertentu, dan ketika kita merasa itu diluar kemampuan kita, kita akan berkata, “Inilah takdirku.” Jika ada seseorang yang sakit, kita akan mencoba segala macam jenis pengobatan padanya, dan ketika itu tidak berhasil kita akan mengatakan, “Pasti ini sudah takdirnya.”

Sebenarnya Tuhan pun seperti itu ketika memberikan putusan terakhirnya, ketika Dia mengatakan “Itulah nasibnya.”. Dia telah memberikan segalanya pada kita. Dia sudah menurunkan pada kita ke sembilan-puluh-sembilan sifat-Nya, dan hanya satu saja yang dia simpan untuk diri-Nya. Dia mengatakan, “Telah Aku berikan segala-galanya pada manusia, tapi manusia tidak memahami dan malah datang pada-Ku dengan membawa beban-beban neraka. Maka itulah yang akan aku jadikan sebagai nasibnya.” Maka Dia akan berkata lagi, “Kembalilah dengan semua yang kau bawa pada-Ku. Itu akan menjadi milikmu.”
(selanjutnya…)

Monday, January 2, 2006

Sedikit Tentang ‘Ana Al-Haqq’ : Samakah Dengan ‘Akulah Allah’?

[Tanya]

Saya kemarin membaca bukunya rumi, judul pastinya lupa tapi isinya tentang puisi-puisi harian dari rumi selama satu tahun/12 bulan. Lalu ada puisi yang saya interpretasikan sendiri seperti ini:

Hallaj berkata “ana al haq”, Fir’aun pun berkata “ana al haq”, satu kata dua makna. Betulkah?

lalu saya juga tertarik dengan fenomena syeh siti jenar, yang katanya jadi Hallajnya indonesia, betulakah dia yang mengatakan konsep manunggaling kawula gusti? kalo tidak salah konsep ini juga diakui oleh penganut kejawen?

(selanjutnya…)

Monday, October 10, 2005

Rasa Cinta Yang Salah

[Tanya]

Ass Wr. Wb.

Mas Her, mau tanya. Saya sudah menikah, dan pasangan saya baik sekali. Tapi kenapa ya, belakangan ini saya merasa sedang tidak terlalu mencintainya, dan ada saja kekurangan dia di mata saya sekarang. Bahkan mulai tumbuh rasa ’suka’ kepada sahabat saya yang lain? Saya setengah mati menahan rasa ini, tapi rasa itu tetap ada.

(selanjutnya…)

Tuesday, June 21, 2005

Struktur Insan dalam Al-Qur’an : Apa yang Tersentuh Oleh Psikologi Analitik, dan Status Kecerdasan Spiritual (SQ)

Oleh Zamzam A. Jamaluddin T dan Tri Boedi Hermawan, Yayasan Paramartha

Terbatasnya pengetahuan para teoritikus kepribadian Barat tentang struktur internal manusia telah melahirkan banyak mazhab kepribadian. Kerangka keilmiahan telah membatasi mereka dalam proses analisis dan sintesis konsepsi kepribadian manusia seutuhnya. Carl Gustav Jung melakukan terobosan dalam membangun psikologi analitiknya, ia melibatkan data-data mitologi dan simbol-simbol agama ke dalam kerangka analisis ilmiahnya. Dalam alur ini, Kecerdasan Spiritual (SQ) dalam proses perumusannya tidak sekadar meninjau keparalelan antara produk saintifik Barat dengan fenomena mistik Timur, tapi tampak memaksakan melakukan interpretasi atas fenomena metafisik spiritual secara fisika dan sains neural, dan ini melahirkan sejumlah paradoks. Paper ini membahas tentang struktur internal manusia berdasarkan kerangka acuan Al-Qur’an, kemudian akan dilihat persoalan apa yang tersentuh oleh konsepsi individuasi Jung dan status SQ dalam peta ini.

 

1. Pendahuluan

Terumuskannya sejumlah teori kepribadian merupakan cermin dari upaya ilmiah manusia untuk memahami dirinya sendiri secara menyeluruh. Dewasa ini dikenal tiga teori utama yang satu dengan yang lainnya berbeda, yakni teori kepribadian Psikoanalisa (Freud), teori kepribadian Behaviorisme (Skinner), dan teori kepribadian Humanistik (Maslow)[1]. Istilah kepribadian (personality) memiliki banyak arti, ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian, dan pengukurannya. Di antara para psikolog belum ada kesepakatan tentang arti dan definisi “kepribadian”, sehingga banyaknya definisi kepribadian sebanyak ahli yang mencoba merumuskannya. Melihat asal katanya, personality itu sendiri berasal dari kata latin persona yang berarti topeng.
(selanjutnya…)

Friday, June 3, 2005

Taubat Saya Jelek Banget…

[Tanya]

Kak, kenapa ya tobat saya tidak pernah sempurna? Sehari pingin tobat, besok udah lupa. Sehari ingin jadi orang baik, besoknya udah lupa. Gimana dong? Saya merasa gagal… tobat saya jelek banget.

(selanjutnya…)

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites