Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Tuesday, October 7, 2008

Visi Buku: “Cinta Bagai Anggur”

cover CBA kecil
Judul: “Cinta Bagai Anggur” / Karya: Syaikh Muzaffer Ozak, dikompilasikan oleh Syaikh Ragip Frager / Alih bahasa: Nadia Dwi Insani, Herry Mardian, Herman Soetomo / Tata letak dan Ergonomi Pembacaan: Bambang Setyadi Machmud / Penerbit: Pustaka Prabajati / Status: naik cetak sudah terbit
 
Oleh Herry Mardian.

PADA periode akhir sembilan puluhan, saya baru menyadari bahwa istilah “Islam” bukanlah sekadar sebuah label penamaan, seperti misalnya kata “Sudirman” ketika digunakan semata-mata untuk mempermudah pengidentifikasian sebuah jalan. Tidak ada keterkaitan antara makna kata “Sudirman” dengan jati diri sebuah jalan beraspal yang menyandang namanya itu. Demikian pula, kata “Sudirman” sama sekali tidak mengandung apa pun yang bisa menerangkan perihal jalan itu.

Ketika itu saya dibuat merenung, waktu menyadari bahwa kata “Islam” bermakna keberserahdirian, berasal dari kata “aslama” yang bermakna “berserah diri” atau “sepenuhnya tunduk”. Kata ini bukan berfungsi sebagai identifikator untuk membedakannya dengan agama lain—agama itu tidak dinamai Diinul-Muhammadi, Muhammadian atau Muhammadanisme. Kata ini, yang saya yakini sungguh dalam maknanya, ternyata berfungsi untuk menerangkan jati diri agama yang dinamainya itu. (selanjutnya…)

Wednesday, March 5, 2008

Dulu, Dulu Sekali, Saya Pernah Mengalaminya

Oleh Septina Ferniati, ibu dua anak, tinggal di Bandung.

dead of hunger

DENGAN si sulung Ilalang saya baru saja habiskan waktu berdua. Setelah dia tuntaskan PR-nya, dan saya sudah sangat capek menekuni terjemahan, kami berinisiatif cari makan. Bukan karena kami kebanyakan uang. Namun karena di rumah saya tidak masak banyak. Tahu tumis bawang jahe sudah habis sejak sarapan, siang pun diisi dengan acara makan spageti pemberian seorang teman istimewa. Jadi sore ke malam memang tidak ada apa-apa. Maka harus ke luar.

Meski gerimis, kami semangat. Saya susui dulu si bungsu yang baru enam belas bulan usianya, sampai tertidur. Ayahnya di rumah, tidur bareng dia. Lalu kami ke luar, agak jauh dari rumah, karena saya dan Ilalang ingin ke Surabi Imut.
(selanjutnya…)

Friday, June 16, 2006

Potret Kehariinian

Oleh Herry Mardian.

photoframe

SIANG tadi, ibu menghampiriku di tempat aku biasa bekerja. Wajahnya agak miris. Di tangannya ada tiga koran: Kompas, Republika dan Koran Tempo, koran langganan kami setiap hari.

“Coba lihat ini. Kamu sudah baca?” katanya.

Tidak biasa-biasanya ibu mendatangiku hanya untuk membicarakan sesuatu yang tertulis di koran. Pasti berita itu adalah berita yang benar-benar ‘mengganggunya’.
(selanjutnya…)

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites