Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Wednesday, June 25, 2008

Bergunjing Sampai Mati

Alfathri Adlin (Anggota Forum Studi Kebudayaan ITB, editor Jalasutra dan Pustaka Prabajati)

Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Arthur Schopenhauer, filsuf yang menjadi inspirator Nietzsche, sering makan malam di sebuah hotel di Frankfurt yang sering dipenuhi tentara Inggris. Setiap sebelum makan, dia akan menaruh sekeping koin emas di meja, dan selesai makan, dia akan mengambil dan memasukan koin itu ke saku. Kebiasaan aneh tersebut menggelitik seorang pelayan untuk menanyakannya. Schopenhauer menjelaskan bahwa dia membuat sedikit taruhan dengan dirinya sendiri: bila tentara-tentara Inggris tersebut berbicara apa pun selain kuda, anjing, dan perempuan, maka Schopenhauer akan memasukkan koin tersebut ke kotak amal.

BEGITULAH dunia keseharian manusia. Inilah yang merangsang Martin Heidegger sehingga memikirkan ihwal proses kejatuhan manusia secara eksistensial: terperangkapnya manusia ke dalam dunia umum atau dunia keseharian yang bersifat common-sense. (selanjutnya…)

Saturday, May 24, 2008

Finding Self-Reflection on The Teachings of Wali Songo

by Siska Widyawati.
* This is the English version of this article. The Jakarta Post version is here.

“About the path that you shall take, don’t be exaggerated. Lead life with simplicity, don’t be arrogant if you talk, and don’t over act in front of other human beings. That is the true path.

To meditate on the mountain or in the cave only creates vanity. True meditation is in the middle of the crowd. Be noble and forgive people who make mistakes. This is the only true path.”

(Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang Jati, Naskah Mertasinga, in Sajarah Wali. Wahjoe: Pustaka, 2005)

THIS paragraph was quoted from an ancient paper “Mertasinga” which was a teaching of Syekh Attaulah to Sunan Gunung Jati. Gunung Jati was one of “Wali Songo”, or “Nine Saints” in the history of Islamic preaching in Java in the 15th century. The paper was translated by Amman N. Wahjoe who has inherited this document from his father, handed down from generation to generation in his family.

Wahjoe translated the paper that used to be called babad—originally written in Javanese and Sundanese, then translated to Indonesian, it has became an important document in unveiling the history of the saints in Java. (selanjutnya…)

Saturday, May 3, 2008

Merayakan Waktu Senggang

Oleh Alfathri Adlin, anggota Forum Studi Kebudayaan ITB, editor Jalasutra dan Pustaka Prabajati.

Kemacetan yang semakin parah, sedotan rutinitas kerja yang monoton dan melelahkan, serta interaksi antar manusia yang tidak ramah. Orang harus berangkat kerja sewaktu masih subuh, agar tidak terjebak macet. Sesampainya di kantor, mereka bekerja. Ketika waktu pulang tiba, banyak yang memilih shalat maghrib di kantor, atau mampir dulu di berbagai tempat hiburan, agar bisa menghindari kemacetan. Sesampainya di rumah, badan sudah terlalu lelah untuk menikmati waktu senggang dengan kembali kepada diri. Bahkan di akhir pekan, mereka cenderung “pergi keluar dari diri”, menuju perangkap eksterioritas yang dipenuhi imaji dan ilusi.

APA kiranya yang terbayangkan saat kita disodori kata “waktu senggang”? Pergi berlibur? Jalan-jalan sambil belanja di mal dan factory outlet? Pergi menonton ke bioskop? Bertamasya? Silahkan bayangkan sendiri kegiatan “waktu senggang” lainnya yang lazim bagi Anda.

Namun, perhatikan lebih seksama, saat ini terlihat bahwa bayangan kita tentang waktu senggang lebih terkait dengan rekreasi. Rasanya nyaris tidak pernah “waktu senggang” dikaitkan lagi dengan –reflektivitas dan kontemplasi–. Sebagaimana disinyalir Bambang Sugiharto, di waktu senggang manusia kontemporer kini cenderung “pergi, ke luar dari diri, menuju perangkap-perangkap eksterior”, bepergian ke tempat-tempat yang disebutkan di atas.
(selanjutnya…)

Tuesday, April 1, 2008

Menemukan Cermin Diri Pada Ajaran Para Wali

Oleh Siska Widyawati. Tulisan asli ada di sini, dimuat atas seijin penulis.

“Mengenai langkah yang harus dijalani, janganlah kamu berlebihan, hiduplah dengan bersahaja, jangan sombong dalam berbicara, dan jangan berlebihan terhadap sesama manusia. Itulah langkah sempurna yang sejati.

Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur, lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang salah. Hanya itulah langkah yang sejati.”

(Sajarah Wali, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang jati, Naskah Mertasinga, Wahjoe: Pustaka, 2005)

PARAGRAF diatas saya kutipkan dari sebuah naskah kuno Mertasinga yang merupakan pesan yang disampaikan oleh Syekh Ataullah, salah satu guru dari Sunan Gunung Jati. Naskah ini diterjemahkan oleh Bapak Amman N. Wahjoe, yang memiliki dokumen ini secara turun menurun dalam keluarganya. Wahjoe membuat babad yang berbahasa Jawa-sundan ini dalam bahasa Indonesia dan menjadi satu bacaan berbahasa Indonesia yang banyak mengungkap sejarah tentang para wali di pulau Jawa.
(selanjutnya…)

Friday, February 22, 2008

Cinta

Oleh Zaenal M. — Yayasan Paramatha

Barangkali ada orang berkata: “Tuhan telah mengambil orang yang kukasihi.” Itu karena engkau berpikir bahwa dialah satu-satunya kekasihmu dan engkau adalah orang yang mencintainya; padahal cinta Tuhan meliputi segala sesuatu dan cinta-Nya itu lebih besar dari yang engkau miliki.

“AKU adalah khazanah terpendam; Aku cinta (hubb) dikenal, maka Aku ciptakan makhluk.” (Hadits Qudsi)

Karena cinta Ilahi (divine love), alam semesta hadir, demikianlah pada awalnya kita harus memandang “cinta”. Tanpa cinta segenap petala langit dan bumi akan lenyap binasa. Daya ini merayap menuruni lereng penciptaan dan manifestasi Ilahi, mulai dari martabat yang tertinggi hingga yang paling kasar (alam materi), dan merasukinya tanpa kecuali.
(selanjutnya…)

Monday, January 14, 2008

Balap Kelereng

Oleh Herry Mardian

“…dan diri-diri mereka pun hilang, perlahan-lahan berubah menjadi ucapan-ucapan shalat yang beterbangan satu demi satu ke arah Tuhan mereka.”

INGAT nggak, ketika kita kecil, mungkin di suasana perayaan tujuh belasan di kampung? Di sebuah lintasan rumput atau tanah, ada beberapa lintasan yang dibatasi tali rafia. Kita, yang masih kanak-kanak, ada di salah satu lintasan tersebut. Di depan wajah kita, ada sebuah sendok yang kita gigit pangkalnya. Di cekungan sendok itu ada kelereng. Kita jaga mati-matian supaya kelereng itu tidak jatuh dari sendok, selama kita berjalan secepat mungkin menuju garis finish di depan sana.
(selanjutnya…)

Sunday, November 18, 2007

Pengenalan Diri: Pengetahuan dan Kebahagiaan

Oleh Alfathri Adlin.

(Tulisan ini dimuat di harian Kompas, Sabtu 17 November 2007)

Kearifan kuno ihwal kaitan antara pengetahuan dan pengenalan diri tersebut kini sudah benar-benar terlupakan. Pengetahuan lebih sering dikembangkan bukan untuk mengenal diri manusia sendiri, melainkan untuk mengetahui, atau bahkan mengeksploitasi, segala hal selain diri manusia.

DALAM sebuah film yang ditayangkan oleh satu stasiun televisi swasta diceritakan kisah seorang Ibrahim Al-Haqq dari Turki. Ibrahim mengalami peristiwa yang agak ganjil, yakni melihat seseorang di kejauhan yang selalu berteriak-teriak: “… di mana engkau… di mana engkau…?”

Begitu sering orang di kejauhan itu terlihat. Bahkan, semakin hari sosok tersebut semakin terlihat dekat, atau terlihat di sela-sela kerumunan orang. Ibrahim semakin penasaran, hingga ia bertanya kepada sahabatnya: “Siapakah orang gila yang setiap hari selalu berteriak-teriak mencari seseorang itu?”

Akan tetapi, sang sahabat malah balik bertanya: “Orang gila yang mana? Aku tidak melihatnya.” Bagi Ibrahim tetap saja sosok tersebut terlihat, semakin dekat, semakin dekat hingga akhirnya dia pun berhadapan langsung dengan sosok tersebut. Betapa terkejutnya Ibrahim melihat sosok tersebut, yang ternyata adalah dirinya sendiri. Ia memberi banyak wejangan kepada Ibrahim, antara lain sebuah ungkapan, “Fungsi pengetahuan adalah untuk mengenal diri”.
(selanjutnya…)

Thursday, August 2, 2007

Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis

Oleh Herry Mardian

SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat ‘Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan ‘yang manis-manis’? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).
(selanjutnya…)

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites