Suluk | Bayangan Sekeping Cermin…™

Wednesday, November 18, 2009

Ayat ‘Mengharap Wajah-Nya’

INGAT ungkapan Imam An-Nifari berikut ini?

“Siapa yang beramal demi pahala, niscaya akan letih dengan harapan. Siapa yang beramal karena takut siksa, niscaya akan letih dengan prasangka baik. Siapa yang beramal demi Wajah-Nya, niscaya tiada letih baginya.”

(Imam An-Nifari)

Beramal demi ‘wajah-Nya’. Sebenarnya ‘beramal demi wajah-Nya’ cukup jelas ayatnya di Qur’an. Ungkapan sufi besar tersebut kongruen dengan, salah satunya, ayat berikut—yang sayangnya tersamar oleh interpretasi bahasa Indonesianya. (selanjutnya…)

Tuesday, November 10, 2009

Imam An-Nifari: Makna Al-Islam

Allah

Allah berseru kepada hamba-Nya:

“Hendaklah engkau menyerah kepada-Ku dengan sepenuh hatimu, dan menyerah kepada perantara-perantara dengan tubuhmu, supaya engkau bersama-Ku dengan kemauan kerasmu, dan bersama selain-Ku dengan akal budimu.

(selanjutnya…)

Saturday, November 7, 2009

Junaid Al-Baghdadi: Makna ‘Berjihad dalam Kami’

QS 29 : 69

“Dan orang-orang yang berjihad dalam Kami, sungguh, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama para Al-Muhsiniin (mereka yang ihsan*)” (Q.S. Al-Ankabut [29] : 69)

“Ayat itu bermakna, ‘mereka yang berjuang melawan hawa nafsunya dan bertaubat sungguh-sungguh hanya demi Kami, pastilah akan Kami tuntun mereka pada jalan-jalan yang menyampaikan mereka pada kebenaran (Al-Haqq) ‘. Sesungguhnya tak seorang pun mampu berjuang melawan musuh yang ada di luar dirinya kecuali jika ia pun berjuang melawan musuh-musuh yang ada dalam dirinya.

(selanjutnya…)

Monday, November 2, 2009

Pohon dan Buahnya

Oleh Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen
(diterjemahkan oleh Dimas Tandayu dan Herry Mardian).

Anakku, hidupmu pun demikian. Walaupun kau telah tumbuh begitu tinggi, sama seperti pohon: keterikatan akalmu, pemikiranmu, dan hasratmu masih pada bumi dan keduniaan. Seperti itulah kondisimu saat ini.

pohon kepel

SEORANG MURID bertanya pada Bawa Muhaiyaddeen, “Bisakah Guru menjelaskan kondisi spiritualku, di mana aku sedang berada saat ini?”

Sang Guru menjawab, “Sebuah benih haruslah ditanam di saat yang tepat. Ketika ia mulai tumbuh, akarnya menyelusup jauh ke dalam tanah, memeluk dari semua penjuru. Segera benihnya tumbuh menjadi sebuah pohon. Seiring perjalanan waktu, pohonnya akan semakin membesar, lalu berbunga dan berbuah. Tatkala berbuah, buahnya tampak tidak lagi memiliki ikatan dengan tanah. Walaupun pohonnya terikat ke dengan tanah, namun buahnya justru terhubung kepada manusia dan seluruh makhluk hidup. (selanjutnya…)

Wednesday, September 16, 2009

Introvert

Oleh Jonathan Rauch, diterjemahkan oleh Hery Mardian
http://www.theatlantic.com/doc/200303/rauch

introvertPERNAH kenal seseorang yang selalu butuh waktu menyendiri, beberapa jam setiap harinya? Yang menyukai obrolan-obrolan tenang seputar perasaan atau gagasan? Yang bisa begitu dahsyat ketika memberikan presentasi di hadapan banyak orang namun tampak canggung ketika ngobrol-ngobrol kecil dalam kelompok, atau skill basa-basinya agak lemah dan ecek-ecek? Yang harus diseret-seret untuk datang ke pesta, lalu perlu menghabiskan waktu sisanya untuk pemulihan diri? Yang justru mengeluh, mengrenyitkan alis, menghela nafas atau meringis; jika disapa dengan cara diledek atau digoda oleh orang yang sebenarnya bermaksud beramah-tamah? (selanjutnya…)

Tuesday, September 1, 2009

Pendidikan Hati (2)

Dikutip dari sebagian isi Bab III buku “Cinta Bagai Anggur”, dengan seijin penerbit.

Tetapi apakah sebenarnya “diuji” itu? Seorang guru menguji para siswanya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka, mengetahui tingkat pemahaman mereka. Si guru tidak tahu sedalam apa para siswanya telah belajar. Tapi bukankah Allah mengetahui?

SETIAP nabi mempunyai tugas spesifik. Peran Nabi Isa a.s. adalah untuk menampilkan tiadanya kepemilikan dan kepedulian akan keduniawian.
(selanjutnya…)

Saturday, March 7, 2009

Justru Karena Kami Yahudi

Rabbi Weberman

Disampaikan oleh Rabbi Mordechi Weberman di bawah perlindungan the Palestine Right of Return Coalition (Al-Awda NY/NJ), pada sebuah demonstrasi di depan Konsulat Israel, Jumat 26, Juli 2002. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Herry Mardian.

ORANG-ORANG bertanya mengapa kami berdemonstrasi dengan orang-orang Palestina. Mengapa kita mengibarkan bendera Palestina? Kenapa kami mendukung tuntutan-tuntutan Palestina?

“Kalian adalah orang-orang Yahudi!” kata mereka pada kami. Apa yang kalian lakukan? (selanjutnya…)

Monday, February 9, 2009

Sampaikanlah Walau Satu Ayat?

preacher small

“Orang yang tidak lapar tentu tidak merasa butuh makanan. Orang yang merasa sehat, tentu tidak merasa butuh dokter. Orang yang merasa sudah tahu agama, tentu tidak merasa butuh belajar agama. Orang yang tidak merasa lapar (akan pengetahuan) tentang Allah, tentu tidak akan merasa butuh belajar tentang Allah.”

[TANYA] mengapa para sufi “terkesan” (kesan itu bisa jadi bener bisa jadi salah…) menutup diri dan, memilih2 “murid” dalam memberikan bimbingan… sedangkan kita diwajibkan untuk menyebarkan kebaikan walau hanya 1 ayat… mengapa tidak ber”syiar” seperti para ulama-ulama atau mereka yang mengaku-aku sebagai ulama… hehehehe. Makasih Mas. [Dewo]
(selanjutnya…)

Monday, December 15, 2008

Pendidikan Hati

Dikutip dari sebagian isi Bab III buku “Cinta Bagai Anggur”, dengan seijin penerbit.

Selama engkau tidak menceraikan dunia dan segala sifat keduniawiannya, kau tidak akan pernah mengenal Tuhan. Pada persoalan ini, kau harus memahaminya dengan sangat berhati-hati! Nabi Isa a.s. adalah Nabi yang menjadi contoh pelepasan diri dari dunia material secara sempurna. Di sisi lain, kau juga mengenal seorang nabi besar lain, Raja Sulaiman a.s. Beliau adalah manusia yang paling kaya dari yang terkaya, juga yang paling berkuasa.

Intinya adalah menceraikan dunia dengan qalb. Kemiskinan materi bukanlah inti persoalannya.

SEORANG sufi besar, Ibrahim bin Adham rah. [1] sebelumnya adalah sultan kerajaan Balkh. Dia tinggalkan kedudukannya sebagai raja di dunia ini demi merajai kehidupannya yang berikutnya.

Teladan dari beliau mengilustrasikan bahwa selama ini kita mungkin mengira bahwa kitalah pihak yang mencari dan mendapatkan, namun sebenarnya tidak demikian. Sebenarnya Allah-lah yang mencari kita, dan kita semata-mata hanya menjawab panggilan-Nya saja.

Pada tingkatan kita sekarang, seringkali kita tidak segera memutuskan untuk memenuhi undangan Allah. Kita menunda. Kita mempertimbangkan dan merenungkannya. (selanjutnya…)

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites