Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Monday, February 9, 2009

Sampaikanlah Walau Satu Ayat?

preacher small

[TANYA] mengapa para sufi “terkesan” (kesan itu bisa jadi bener bisa jadi salah…) menutup diri dan, memilih2 “murid” dalam memberikan bimbingan… sedangkan kita diwajibkan untuk menyebarkan kebaikan walau hanya 1 ayat… mengapa tidak ber”syiar” seperti para ulama-ulama atau mereka yang mengaku-aku sebagai ulama… hehehehe. Makasih Mas. [Dewo]

[JAWAB] Sebenarnya bukan pilih-pilih murid, sih. Yang terjadi sebenarnya mekanisme natural: bahwa makanan baru bermanfaat jika diberikan kepada orang yang memang lapar atau membutuhkan. Sayang sekali jika kita, sebagai manusia, memberikan makanan kepada yang memang tidak membutuhkan. Bisa dianggurin sampai menjadi busuk, dibuang, atau bahkan membuat muntah yang bersangkutan. Padahal masih banyak sekali orang selain dia yang benar-benar membutuhkan makanan.

Orang yang tidak lapar tentu tidak merasa butuh makanan. Orang yang merasa sehat, tentu tidak merasa butuh dokter. Orang yang merasa sudah tahu agama, tentu tidak merasa butuh belajar agama. Orang yang tidak merasa lapar akan pengetahuan tentang Allah, tentu tidak akan merasa butuh belajar tentang Allah.

“Sampaikanlah walau satu ayat,” itu hadits, memang benar sekali. Tapi sampaikan kepada penerima yang tepat (yang memang membutuhkan), dan waktu yang tepat. Kalau di depan jendela samping sebuah rumah kita taruh speaker ‘toa mesjit’ dan setiap saat kita bombardir dengan ceramah dan ‘kuenceng-kuenceng’ setiap siang atau sore tanpa henti dengan mengatasnamakan dakwah, bisa jadi sebenarnya kita justru menzalimi penghuni rumah. Siapa tahu di sana ada bayi sakit? Orang tua? Atau suami yang baru pulang kerja dan lelah, sehingga gangguan itu malah membuatnya sensitif dan marah-marah pada anak istrinya.

Selain itu, pada orang-orang yang memang telah menerima tugas dari Allah ta’ala (mengenal diri dan misinya) ada ruang lingkup dakwahnya sendiri, dan Allah sendiri yang menentukan. Tidak semua para peraih kebenaran harus menjadi da’i dan tampil di depan ummat.

Ada yang memang tugasnya menjadi Rasul alam semesta (Muhammad SAW), menjadi rasul bangsa tertentu saja (Musa, Isa as, dll), menjadi mursyid untuk orang tertentu saja, yang muridnya itulah yang justru harus menjadi nabi (Syu’aib as). Ada yang harus menjadi panglima perang (Sa’ad bin Abi Waqqash). Ada yang harus menyampaikan khazanah ilahiyah melalui puisi (Jalaluddin Rumi). Ada yang harus membuat buku (Al-Ghazali). Ada yang harus membuat buku dan menyampaikan ilmu ketuhanan yang rumit dan tidak untuk masyarakat biasa (Ibnu Arabi). Ada yang harus menjadi mursyid dengan penampilan mewah seperti sultan (Syaikh Abdul Qadir Jailani). Ada yang harus terlunta-lunta, sakit kulit dan menggelandang seperti Nabi Ayyub as. Ada pula yang diciptakan untuk kaya raya dan berkuasa seperti Sulaiman a.s.

Banyak sekali ragam tugas dan kemisian, demi menyampaikan, dan –menampilkan–, suatu Khazanah Ilahiyah. Justru jika seorang diciptakan sebagai, misalnya, panglima perang, namun ia malahan tampil di depan podium dan berdakwah dengan cara klasik, ia justru menyalahi kehendak Allah bagi dirinya. Ia menyalahi tujuan penciptaannya.

Bukan berarti orang-orang ini tidak berdakwah. Tapi, apa bentuknya: bicara? berbuat? berfikir? menulis? menyumbang harta? memimpin? Allah yang menentukan. Juga, ruang lingkupnya untuk siapa, untuk ummat-kah, bangsa tertentu kah, orang tertentu kah, atau cukup untuk keluarga, mungkin bahkan cukup hanya untuk dirinya sendiri.

Mereka yang tampil di podium dan berdakwah, atau mereka yang bersurban dan berjubah, tidak berarti mereka menjadi lebih alim, lebih ulama, dan lebih soleh daripada mereka yang tidak tampil di podium dan berpenampilan biasa-biasa saja. Sama sekali tidak. Ukuran kesolehan dan kealiman sama sekali bukan pada tampilan lahiriyah seseorang. Dan, berdakwah untuk ribuan ummat sekaligus belum tentu lebih efektif dan lebih ‘berpahala’ (kalo masih ngitung-ngitung pahala) daripada berdakwah pada beberapa orang saja. Bukan jumlahnya, tapi sejauh jiwa apa orang bisa tertransformasi dengan khazanah Ilahiyah yang ada pada diri kita. Walau hanya satu orang.

Kita ingat ayat yang bunyinya,

“Barangsiapa membunuh satu jiwa… maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa menghidupkan satu jiwa, ia bagaikan menghidupkan seluruh jiwa manusia.” (Q. S. Al-Maa’idah [5] : 32)

‘Menghidupkan jiwa’, secara batin juga berarti membebaskan jiwa manusia dari timbunan sifat jasadiyah dan keduniaannya sendiri.

Banyak orang-orang yang dicintai Allah tapi tidak tampil secara terbuka di podium untuk berdakwah, karena memang bukan tugasnya. Dia dimudahkan pada bidang lain, tidak di bidang itu. (btw, mas dewo sudah melihat tulisan “Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, dan Waham ‘Pembimbing Spiritual’”?)

Yang terpenting, orang-orang seperti ini tidak berdakwah hanya dengan kata-kata atau sekedar mengutip ayat. Mereka benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan atau lakukan. Atau bisa juga, mereka berdakwah ‘bil hal’, dengan perbuatan. Tapi akhlaq, perbuatan maupun khazanah mereka semua sama: Al-Qur’an, Al-Haqq dan kebenaran, meski dari mulut mereka belum tentu terdengar gemar mengutip, mendiktekan maupun ‘berdakwah’ ayat-ayat kepada ummat di depan podium. []

Ketr: gambar diambil dari sini

«« Previous Post
'Pendidikan Hati'
       
.:: TrackBack URI ::.
 

 

27 Comments - (Give Comment) »

  1. ass wr wb..
    terimakasih ka Herry,sy jd merinding jika ingat kalimat ini.. “Barangsiapa menghidupkan satu jiwa, ia bagaikan menghidupkan seluruh jiwa manusia. Barangsiapa membunuh satu jiwa, ia bagaikan membunuh seluruh jiwa manusia.”..

    smg hal tsb dpt lebih memperkukuh sy dlm manapaki proses keber-agamaan saya..amin semoga..wass wr wb :smile:

    Comment #1879 by ovie — Monday, February 9, 2009 @ 23:17

  2. Garis garis tuan menggaris
    Memilih pada yang hak seolah olahnya
    Aku dengar ..dia dengar …siapapun dengar .. itu seorah olah
    karena garis garis di garis diri
    yang seolah olah
    paling
    akh…..
    tersungkur dalam kecemburuan ….
    Erawanrudal91@yahoo.com

    Comment #1883 by erawan — Saturday, February 14, 2009 @ 00:20

  3. Salam, Pak Herry menarik sekali artikel ini, saya copy ke blog saya ya, pak (sudah terlanjur published nih. hehe..) :lol:
    Saya tunggu selalu artikel lain. Bahasa Bapak terasa mengalir tapi “MENYERANG” dengan telak. Saya juga masukkan blog ini ke dalam blogroll saya.

    Comment #1886 by Ita — Sunday, February 22, 2009 @ 14:15

  4. silahkan, terima kasih banyak :D jangan lupa link ke artikel aslinya ya…

    Comment #1888 by Herry — Sunday, February 22, 2009 @ 23:27

  5. assalamualaikum kang herry,
    terima kasih artikelnya, mencerahkan…
    salam,

    Comment #1892 by agung — Thursday, February 26, 2009 @ 13:31

  6. Aku sebenarnya dah terbilang lama menyimak tulisan2 Mas Herry di sini, walau tak tentu waktunya, dan banyak pula yang aku kopi. Sebagian isinya malah menuntunku untuk coba2 menemukan diri sendiri meski yang ketemu cuma ini: awamologi. Maka, ketika saat ini aku mulai ngeblog, izinkan aku untuk memasang taut Mas Herry sebagai sumber.
    Salam awami dari orang awam.

    Comment #1894 by Bahti Baihaqi — Sunday, March 1, 2009 @ 07:55

  7. kenapa pake blogsome? :mrgreen:

    Comment #1896 by reja — Monday, March 2, 2009 @ 07:08

  8. aku baru baca hari ini mas.makasih banyak karena ngasih pencerahan baru buat aku.karna jujur aku adalah seorang yang sangat sedikit pengetahuan ttg islam.mungkin ALLAH telah memanggilku karna sesungguhnya dari mulai umur 15thn aku selalu gelisah ttg jati diriku.secara aku memang dilahirkan dari keluarga broken home.salut buat mas herry dan terima kasih banyak.semoga barokah disisi ALLAH Aminn….

    Comment #1897 by ana — Tuesday, March 3, 2009 @ 16:24

  9. makasih banyak ya, semuanya ;) semoga bermanfaat.

    Comment #1899 by Herry — Tuesday, March 3, 2009 @ 23:50

  10. Salam bapak herry.
    Artikle Bapak baik sungguh. Saya ingin berkenalan dengan Bapak.Herry.Bapak Herry berada dalam list sheikh saya.
    Maaf.bahasa Indonesia saya ngak baik.heh,heh.
    Sila mampir ka blog saya di …

    http://warongpakyeh.blogspot.com

    Comment #1902 by pak yeh — Thursday, March 5, 2009 @ 09:04

  11. Wa salaaam, Pak Yeh. Salam kenal, dan terima kasih banyak :) Salam hormat saya untuk Sang Syaikh…

    Comment #1903 by Herry — Thursday, March 5, 2009 @ 10:30

  12. hikayat bulan adalah hikayat debu
    yang kagumi bulan penuh

    hanya sebutir debu
    hanya debu yang terberkati
    hanya debu yang dimuliakan

    hanya pemberian berlimpah
    untuk sebutir debu
    berlipat ganda dari ukuran wadagnya
    menenggelamkan
    sebutir debu, jadi lautan cahaya

    Comment #1905 by andreas — Friday, March 6, 2009 @ 13:54

  13. Ass.w.w.
    Salam kenal, Blog ini menarik utk di ikuti. Mengomentari “sampaikan walau satu ayat” artikel ini enak dibaca. saya sependapat, bila emas di kalungkan di leher kerbau akan dibawa berkubang, bila diikatkan di kaki ayam akan dibawa menceker. Dan memang telah dilarang Allah dlm surat Jin:26 untuk sembarangan menceritakannya. kecuali bagi yg benar-benar ingin mempelajarinya;dan hanya boleh/dapat disampaikan oleh yg telah dipilih / diridhoi-Nya untuk menyampaikannya(srt Jin:27) Wassalam W.W

    Comment #1937 by Yuda — Monday, March 16, 2009 @ 10:15

  14. Asslmkum Kang Herry…
    Makasih ya artikel2nya yg penuh manfaat.
    Mohon ijin unt mngutip y.. Jazakalloh.

    Comment #1955 by dewi m uthie iskandar — Wednesday, April 1, 2009 @ 17:53

  15. Sebenarnya tidak ada yang dirahasiakan bagi seorang sufi, mereka sudah secara impilisit mengutarakan ayat secara terus menerus, cuma… cuma kitanya belum “ngeh” karena banyak faktor.

    Comment #1959 by mybouraq — Friday, April 3, 2009 @ 16:12

  16. salamu’alaikum mas Herry… izin utk copy paste ya mas…. sekalian juga utk masukin blog ini di blogroll saya..thanks

    Comment #1976 by ayiadinda — Tuesday, April 14, 2009 @ 13:20

  17. wa alaikum salaam Wr Wb.. silahkan sepanjang mencantumkan link ke sumber. Blogrolling, juga silahkan. Thanks juga..

    Comment #1977 by Herry — Tuesday, April 14, 2009 @ 23:40

  18. nah, tujuan penciptaan yg spesifik itu yg bikin bingung…. :roll:

    Comment #1982 by kopi — Monday, April 20, 2009 @ 17:03

  19. mohon bimbingannya yaa mursyid…

    karena aku ga mau diriku sendiri hancur karena salah mengambil jalan, salah mengarahkan langkah, salah dan salah dan salah…

    huhuhu.. :oops:

    Comment #1988 by gina — Thursday, April 23, 2009 @ 18:21

  20. Salamun “alaikum

    Bagaimana caranya kalau saya mau ikutan dapat artikel-artikel seperti ini ke email saya mas?
    Syukron

    Salam,

    Comment #1997 by sulistiyanto — Monday, April 27, 2009 @ 17:53

  21. Mas Herry, maaf, aku ngerasani dirimu di blogku. Udah gitu, aku kasih dikau PR pula. Ini dia:
    http://awamologi.wordpress.com/2009/04/28/yang-baru-dari-awam/

    Comment #1998 by Bahti Bhq — Tuesday, April 28, 2009 @ 03:22

  22. Ngrasani diriku? Wah, semoga yang bagusnya :D tak baca dulu ya mas Bahtiar.

    Comment #2002 by Herry — Wednesday, April 29, 2009 @ 11:43

  23. Baliighu annii walau ayyah..!”. Masih ingat hadits “populer ini? Yup… artinya “sampaikan meski hanya satu ayat”. Sederhana, namun sarat akan makna. Tapi apa sih hakikat sebenarnya dari hadits ini?

    Bila kita menelusuri lebih lanjut, akan kita ketahui bahwa hadits yang disampaikan Rasulullah Muhammad SAW tersebut mengandung dua definisi sebagai berikut:

    1.Eksistensi

    Hadits yang mengandung kata “baliighu” yang artinya “sampaikan” adalah sebuah bukti bahwa “tabligh” atau “menyampaikan” adalah salah satu sifat wajib seorang Rasul. Dengan didukung dengan sifat wajib lainnya, “amanah”, maka beliau menyampaikan hal ini kepada umatnya, kita semua, manusia. Eksistensi lain yang terkandung dalam hadits ini adalah “walau ayyah” yang artinya “meski hanya satu ayat”. Maknanya bahwa untuk bisa menyampaikan (berdakwah), seorang manusia sekaliber Rasulullah SAW sekalipun tidak harus menunggu seluruh informasi dan data yang membuktikan bahwa“Islam itu unggul dan tidak (akan) ada yang (bisa) mengunggulinya” telah beliau peroleh. Ketika sebuah wahyu turun kepada beliau, seketika itu pula beliau sampaikan. Karena setiap wahyu yang diturunkan selalu berhubungan langsung dengan kondisi yang terjadi, kondisi masa lalu yang perlu diceritakan, atau kondisi masa depan yang perlu disampaikan saat itu.

    2. Instruksi

    Sebuah konsekuensi logis bagi kita, umat manusia, ketika mengetahui ada sebuah hadits, yang merupakan salah satu wasiat dari Rasulullah, maka harus menjalankannya. Karena percaya atau nggak percaya, akhlak Rasulullah SAW adalah AL-Quran sehingga apa yang beliau sampaikan pasti bersumber dari firman Allah pula, entah yang diabadikan dalam Al-Quran maupun melalui hadits Qudsi. Khusus hadits “sampaikan walau satu ayat” di dalamnya benar-benar ada makna instruksi bagi umat manusia, terutama “orang-orang (yang mengaku) beriman” untuk menindaklanjuti isi dari hadits tersebut. Apakah itu???

    Yup.. jawabnya adalah kalimat dalam hadits tersebut. Kata pertama adalah “baliighu” atau “sampaikan”. Apabila diartikan secara simple kata “sampaikan” bermakna “sekedar” menginformasikan dan selanjutnya selesai. Ternyata, menurut “asatidz (jama’ dari ustadz)” yang faham bahasa aslinya (arab), kata “sampaikan” dalam hadits tersebut bermakna lebih dalam, yakni “sampaikan sehingga dengan benar-benar sampai”. Nah lo… ternyata ga gampang juga kan. Kalo hanya menyampaikan sih, tinggal ngomong doang. Tapi “jaminan” bener-benar sampai itu yang perlu disiasati tekniknya. Makanya, supaya tercapai tujuannya ya minimal perlu tiga unsur pendukung:

    a. Communication skill (teknik berkomunikasi)

    Seseorang yang ingin menyampaikan sesuatu hingga benar-benar sampai harus memiliki taktik yang jitu. Dalam dunia bisnis periklanan, misalnya. Berbagai teknik dan upaya dilakukan oleh tim kreatifnya agar tujuan dari pesan yang disampaikan benar-benar tercapai.

    b. Consistency (terus menerus)

    Sebongkah batu yang terkena tetesan air hujan terus menerus, semakin lama akan berlubang. Begitu pula hati manusia, jika secara terus menerus diberikan sebuah pemahaman, insya Allah akan berubah menuju apa yang ditargetkan .

    c. Qudwah (keteladanan)

    Untuk memberikan sebuah pemahaman kepada seseorang, akan lebih mudah apabila kita sendiri telah melakukannya sehingga bisa menjadi sebuah bukti atas apa yanng disampaikan.

    Instruksi berikutnya adalah satu frasa terakhir dari hadits tersebut yaitu “walau ayyah” yang artinya “meski hanya satu ayat”. Sebuah perintah bagi umat manusia terutama bagi orang-orang beriman agar “menyampaikan” sekecil apapun yang dimiliki tentang pemahaman keislamannya.

    Ada sebagian orang yang merasa baru pantas menyampaikan tentang pemahaman keislamannya ketika dia telah berbekal ilmu yang cukup. Namun bila kita telusuri, sampai ajal menjemput pun belum tentu pemahaman seorang manusia tentang keseluruhan ajaran Islam akan tercukupi. Kondisi ini mengakibatkan seorang muslim kehilangan kesempatan untuk menyampaikan apa yang telah dipahaminya. Di sisi lain, ada sebagian orang yang begitu sembrono dalam menyampaikan ajaran islam yang dipahaminya yakni dengan hanya menyampaikan sekilas kepada seseorang lalu meninggalkan orang tersebut begitu saja.

    Sebagai jalan tengah dari kondisi tersebut, kalimat “sampaikan meski hanya satu ayat” adalah solusinya. Substansi dari kalimat tersebut adalah sesedikit apapun ilmu yang baru diperoleh, asal disertai dengan landasan yang kuat, segera sampaikanlah. Tidak perlu menunggu sampai mencapai level “kesempurnaan” ilmu untuk menyampaikannya. Namun tidak pula menjadikan kita menyampaikan secara sewenang-wenang lalu meninggalkan begitu saja.

    Kesimpulannya, setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain hingga benar-benar sampai. Caranya? Ada sebuah kemauan untuk “membina” dalam proses penyampaiannya. Dengan demikian, secara substansi bisa tersampaikan dengan utuh, secara psikologis pun si penerima merasa nyaman.

    Terakhir, sebuah terjemah hadits lain, “jika seorang anak adam (manusia) mati, maka terputuslah semua amalnya, kecuali 3 perkara: 1. shadaqah jariyah, 2. ilmu yang bermanfaat. 3. anak shalih/ah yang mendoakan orang tuanya.”

    Semoga yang sedikit ini, bisa menjadi ilmu yang bermanfaat. Allahu a’lam bish shawwab.

    Comment #2023 by Budi W — Friday, May 15, 2009 @ 10:35

  24. asskum…
    salam kenal Mas Her.
    kenapa gak bahas tentang Syekh Siti Jenar dan ajarannya? mkn teman2 lainnya ingin mengetahui hakikat sebenarnya dari Syekh Siti Jenar?
    gimana ya caranya buat register, kok ga bisa? :? :

    Comment #2028 by pitak — Sunday, May 17, 2009 @ 02:22

  25. Assalamu’alaikum wr wb

    Kalau menurut pendapat saya (yang masih sangat minim pengetahuannya) dengan kita menyampaikan dan berbagi ilmu pengetahuan yg kita miliki, berdakwah, mengajak orang pada kebaikan, itu sangat berguna bagi orang lain yang membutuhkan atau yg belum mengetahui. Mudah2an Allah SWT menjadikan setiap ilmu pengetahuan yg kita bagi, setiap dakwah kita sampaikan, sebagai satu kebaikan bagi kita. Semoga setiap huruf yang ditulis dan dibaca dan setiap dakwah yg disampaikan baik lisan maupun tulisan, bisa menjadi saksi di hari perhitungan nanti, bahwa kita pernah berada di Jalan-Nya,.dan bahwa kita pernah berusaha mengajak orang pada kebaikan, amiin

    Bila berkenan, nungkin Mas Herry, bisa mengunjungi saya di ” http://jalandakwahbersama.wordpress.com

    Wassalam,
    Dewi Yana

    Comment #2046 by Dewi Yana — Thursday, May 28, 2009 @ 10:41

  26. salam kenal mas Herry. Mohon maaf saya hanya mau sedikit bertanya. selama ini saya punya banyak pertanyaan, dan jawaban dari orang-orang serasa hasil fotokopi. baru kali ini baca tulisan mas Herry rasanya kok seperti asli. saya harus kemana dan bagaimana supaya bisa ikut ngaji dari Mursyid yang sejati?

    terima kasih, mas..

    Comment #2127 by Hendra — Sunday, August 16, 2009 @ 16:02

  27. Assalamualaikum..

    salam kenal. teruskan berkarya demi DIA wahai sahabat. semoga ruangan ini terus menjadi didikan untuk jiwa saya yang masih belajar untuk mengenal diri.

    Comment #2242 by laila sabila — Saturday, November 7, 2009 @ 20:35

 

Give Comment





 


:smile: :grin: :lol: :wink: :cool: :oops: :mrgreen: :???: :sad: :cry: :roll: :shock: :eek: :neutral: :razz: :mad: :evil: :twisted: :!: :?: :arrow: :idea:
 

• Just click ONCE. If your comment doesn't show up immediately, it MAY be moderated.

• Line breaks automatically. To set new paragraph, hit [enter] TWO times.

• Your e-mail address will not be displayed in comments to prevent unwanted mail invading your e-mail account.

• Some HTML codes is allowed : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

 

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites