Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Saturday, May 24, 2008

Finding Self-Reflection on The Teachings of Wali Songo

by Siska Widyawati.
* This is the English version of this article. The Jakarta Post version is here.

“About the path that you shall take, don’t be exaggerated. Lead life with simplicity, don’t be arrogant if you talk, and don’t over act in front of other human beings. That is the true path.

To meditate on the mountain or in the cave only creates vanity. True meditation is in the middle of the crowd. Be noble and forgive people who make mistakes. This is the only true path.”

(Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang Jati, Naskah Mertasinga, in Sajarah Wali. Wahjoe: Pustaka, 2005)

THIS paragraph was quoted from an ancient paper “Mertasinga” which was a teaching of Syekh Attaulah to Sunan Gunung Jati. Gunung Jati was one of “Wali Songo”, or “Nine Saints” in the history of Islamic preaching in Java in the 15th century. The paper was translated by Amman N. Wahjoe who has inherited this document from his father, handed down from generation to generation in his family.

Wahjoe translated the paper that used to be called babad—originally written in Javanese and Sundanese, then translated to Indonesian, it has became an important document in unveiling the history of the saints in Java. (selanjutnya…)

Thursday, May 22, 2008

Wisma Tamu

window

Diri ini, yang sedang menjadi manusia
adalah sebuah wisma tamu.
Setiap pagi, datang tamu yang baru.

Kegembiraan, kesedihan, atau sifat buruk
sedikit pengetahuan diri hadir sebentar
sebagai tamu yang singgah tanpa perjanjian.
(selanjutnya…)

Thursday, May 15, 2008

Sang Mutiara

mahkota

Setitik air, jatuh, dari awan di langit
alangkah kecil hatinya, melihat samudera luas

Katanya,
‘Siapa aku ini, jika ia ada?
Jika ia ada, maka aku mesti tiada.’

Saat ia saksikan dirinya rendah
dari matanya yang tunduk ke bawah,
Tiram di dasar menerimanya sepenuh hati
lalu membentuknya, dalam cangkang.
(selanjutnya…)

Saturday, May 3, 2008

Merayakan Waktu Senggang

Oleh Alfathri Adlin, anggota Forum Studi Kebudayaan ITB, editor Jalasutra dan Pustaka Prabajati.

Kemacetan yang semakin parah, sedotan rutinitas kerja yang monoton dan melelahkan, serta interaksi antar manusia yang tidak ramah. Orang harus berangkat kerja sewaktu masih subuh, agar tidak terjebak macet. Sesampainya di kantor, mereka bekerja. Ketika waktu pulang tiba, banyak yang memilih shalat maghrib di kantor, atau mampir dulu di berbagai tempat hiburan, agar bisa menghindari kemacetan. Sesampainya di rumah, badan sudah terlalu lelah untuk menikmati waktu senggang dengan kembali kepada diri. Bahkan di akhir pekan, mereka cenderung “pergi keluar dari diri”, menuju perangkap eksterioritas yang dipenuhi imaji dan ilusi.

APA kiranya yang terbayangkan saat kita disodori kata “waktu senggang”? Pergi berlibur? Jalan-jalan sambil belanja di mal dan factory outlet? Pergi menonton ke bioskop? Bertamasya? Silahkan bayangkan sendiri kegiatan “waktu senggang” lainnya yang lazim bagi Anda.

Namun, perhatikan lebih seksama, saat ini terlihat bahwa bayangan kita tentang waktu senggang lebih terkait dengan rekreasi. Rasanya nyaris tidak pernah “waktu senggang” dikaitkan lagi dengan –reflektivitas dan kontemplasi–. Sebagaimana disinyalir Bambang Sugiharto, di waktu senggang manusia kontemporer kini cenderung “pergi, ke luar dari diri, menuju perangkap-perangkap eksterior”, bepergian ke tempat-tempat yang disebutkan di atas.
(selanjutnya…)

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites