Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Tuesday, April 1, 2008

Menemukan Cermin Diri Pada Ajaran Para Wali

Posted by Herry @ 01:18 | in Artikel, Kolom | e-mail this article | + to del.icio.us

Oleh Siska Widyawati. Tulisan asli ada di sini, dimuat atas seijin penulis.

“Mengenai langkah yang harus dijalani, janganlah kamu berlebihan, hiduplah dengan bersahaja, jangan sombong dalam berbicara, dan jangan berlebihan terhadap sesama manusia. Itulah langkah sempurna yang sejati.

Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur, lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang salah. Hanya itulah langkah yang sejati.”

(Sajarah Wali, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang jati, Naskah Mertasinga, Wahjoe: Pustaka, 2005)

PARAGRAF diatas saya kutipkan dari sebuah naskah kuno Mertasinga yang merupakan pesan yang disampaikan oleh Syekh Ataullah, salah satu guru dari Sunan Gunung Jati. Naskah ini diterjemahkan oleh Bapak Amman N. Wahjoe, yang memiliki dokumen ini secara turun menurun dalam keluarganya. Wahjoe membuat babad yang berbahasa Jawa-sundan ini dalam bahasa Indonesia dan menjadi satu bacaan berbahasa Indonesia yang banyak mengungkap sejarah tentang para wali di pulau Jawa.

Sebenarnya ajaran-ajaran macam ini bertebaran di Indonesia. Bentuknya dapat berupa babad, kawuh, kinanti dan sebagainya. Satu bentuk dokumen yang biasanya hanya dipunyai oleh keturunan yang sifatnya ekslusif dan tidak terdokumentasi dengan baik.

Banyak keluarga di Indonesia ini menyimpan catatan-catatan ataupun tinggalan dari kakek, nenek atau buyutnya. Namun karena ketidakmengertian catatan ini diperlakukan sebagai jimat yang dikeramatkan tanpa dikuak isinya.

Bagi saya pribadi amat menarik untuk mengetahui secara mendalam ajaran-ajaran para wali di pulau Jawa ini. Sejak dulu informasi yang saya terima tentang para wali, hanyalah hal-hal yang berisifat sinkretik yang penuh dengan cerita-cerita kegaiban.

Namun semakin saya mencari, yang saya temukan adalah kesederhanaan ajaran mereka yang cukup menyentuh sisi keberagamaan saya. Kalau ditilik dari ajaran-ajarannya para sunan ini tidak hanya sekedar pendakwah, namun mereka mempunyai khazanah sufistik yang cukup mendalam.

Salah satu tanda dari khazanah sufistik yang dimiliki para wali tersebut adalah wisdom (kebijaksanaan). Salah satu contohnya dapat kita rasakan pada ajaran Sunan Kudus yang sampai saat ini masih diyakini oleh sebagian masyarakat di kota itu, yaitu tidak menyembelih sapi. Saat itu Sunan Kudus memerintahkan penghormatan terhadap sapi untuk mentoleransi kepercayaan masyarakat Hindu yang hidup di kota itu.

Menurut kisah yang tersebar dalam masyarakat, Sunan ini memulai dakwahnya dengan cara yang sangat unik untuk memancing masyarakat pergi ke masjid mendengarkan dakwahnya. Ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, tumbuh simpatinya. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti ’sapi betina’.

Selain itu kita dapat juga mempelajari ajaran dari Sunan Bonang yang gemar mecipatakan lagu-lagu rakyat sebagai lahan dakwahnya. Salah satu tembangnya yang cukup populer sampai saat ini, terutama saat dinyantikan kembali oleh Opick, ‘Tombo Ati’ merupakan hasil karya sunan. Boleh saya kutipkan disini terjemahan dari syair yang aslinya berbahasa Jawa tersebut:

Obat hati ada lima perkara.
Yang pertama, baca Qur’an dan maknanya
Yang kedua, shalat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpulah dengan orang saleh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.
Siapa yang bisa melakukan salah satunya
Semoga Tuhan memberikan penyembuhnya.

Salah satu sunan yang cukup unik pendekatannya dan cukup akrab dengan budaya lokal adalah Sunan Kalijaga. Wali yang satu ini menggunakan pendekatan budaya untuk mendekati masyarakat Hindu Budha pada jamannya. Salah satu peninggalan beliau yang cukup dikenal oleh masyarakat Jawa adalah kisah pewayangan Dewa Ruci (Dewa Ruh Suci, Ruh Al-Quds—ed.). Kisah tentang Bima yang bertemu dengan Dewa Ruci yang berwujud sama dengan dirinya menyimbolkan pertemuan manusia dengan jiwanya sendiri*. Kisah Dewa Ruci merupakan satu simbol khazanah kesufian yang melihat bahwa tiap-tiap manusia harus bertemu dengan jiwanya sendiri untuk mengetahui laku sejati dalam hidupnya. Sayangnya saat ini banyak orang Jawa menggunakan pementasan wayang Dewa Ruci ini untuk ritual “ruwatan” tanpa mengetahui pesan sesungguhnya dari kisah tersebut.

Yang cukup ajaib buat saya juga adalah fakta sejarah bahwa para wali itu sebagian besar adalah orang-orang asing. Menurut buku yang ditulis oleh Sudirman Tebba, “Mengenal Wajah Islam yang ramah” (Pustaka Irvan, 2007) dan juga Sajarah Wali dalam Naskah Mertasinga, para wali kebanyakan berasal dari tanah Arab dan Campa.

Syekh Syarif Hidayatullah sendiri serta Sunan Kudus mempunyai darah Arab. Wali-wali yang lain seperti Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Bonang yang mempunyai hubungan kekeluargaan satu sama lain, merupakan keturunan dari Campa, perdebatan sering merujuk Campa sebagai salah satu daerah di Kamboja.

Kenyataan bahwa orang-orang asing khusus datang dan berkumpul ke pulau Jawa untuk menyebarkan dakwah Islam, adalah hal yang cukup menarik untuk diselami. Mengapa mereka datang ke pulau Jawa? Dan lebih hebatnya lagi mengapa mereka yang berdarah asing itu dapat membumikan nilai-nilai Islam sesuai dengan nilai lokal atau lebih tepatnya ‘berdakwah dengan “bahasa” kaumnya’? Ini adalah misteri yang membutuhkan studi yang panjang, namun dengan khazanah sufistiknya yang unik, para wali mengajarkan nenek moyang saya untuk menyembah Tuhan dengan keberserahdirian yang sederhana.

Sayangnya esensi dari ajaran para wali ini terlupakan saat ini. Banyak orang di Indonesia mencoba mencari refleksi keagamaannya ke luar dan bukan pada dirinya sendiri. Gerakan pan Islamisme tahun 80-an agaknya banyak membuat perubahan dalam berislamnya orang Indonesia. Faham-faham yang serba keras, hanya berwajah syariah tanpa percikan kebijakan membuat Islam difahami dengan perspektif yang amat berbeda pada generasi–generasi muda Islam Indonesia yang ada saat ini.

Gerakan–gerakan Islam yang banyak merupakan turunan dari organisasi Islam dari Mesir atau Saudi Arabia, membuat banyak orang terasing dari sejarah keberagamaannya sendiri. Aliran garis keras ini pun direaksi dengan gerakan keIslaman yang liberal yang mencoba memasukkan Islam mempunyai logika berfikirnya sendiri yang transenden, dalam kerangka ilmiah barat yang sifatnya materialistik.

Saya tidak menemukan wajah Islam yang diyakini oleh nurani saya pada dua sisi ekstrim tersebut. Namun saya menemukan ketersambungan akar keyakinan saya tentang bagaimana seharusnya beragama Islam dalam ajaran para wali.

Sekarang, disaat Islam didentikan dengan terorisme dan kekerasan, Indonesia sering ditoleh oleh barat sebagai anti thesa bahwa Islam adalah wujud dari kedamaian dan toleransi. Menurut saya sudah saatnya untuk menggali dan mencoba menemukan inti dari warisan ajaran-ajaran para wali, sehingga kita bisa menemukan keunikan sejarah keberagamaan kita sendiri dan menyebarkan pada dunia, wajah Islam yang sebenarnya sebagai Rahmat sekalian alam. []

___
* Mengenal diri, “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, Siapa yang mengenal jiwanya akan mengenal Rabb-nya. (Al-Hadits).

«« Previous Post
'‘Suluk’? ‘Mengenal Diri’? ‘Misi Hidup’? Apa itu?'
       
 

 

29 Comments - (Give Comment) »

  1. mas hery
    apakah terjemah kitab mertasinga sudah diterbitkan?
    nyuwun infonya, mas.

    salam,
    - hp -

    Comment #1401 by prabowo — Sunday, April 6, 2008 @ 09:34

  2. Sudah. Sebagaimana dicantumkan di artikel:

    “Sajarah Wali”. Naskah Mertasinga. Penerbit Pustaka : 2005. Penerjemah: Amman N. Wahjoe.

    Comment #1402 by Herry — Sunday, April 6, 2008 @ 10:23

  3. mas her,

    Bagaimana memilah tradisi yg bisa dilestarikan dengan yg sebaiknya ditinggalkan? Mis: injak telor pd prosesi pernikahan pdhl telor itu kan makanan, koq di-injak2.

    Comment #1409 by kayhan — Tuesday, April 8, 2008 @ 10:07

  4. mas kayhan ijin khan daku..nimbrung bholeh khan…

    mas coba buka qur’an deh..its the manual book of Muslim ..let see..
    QS. 17 : 36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya…

    INI MERUPAKAN RAMBU AWAL DALAM BERAMAL(BERBUAT APA SAJA!!!!)

    intinya adalah mau belajar dan mencari pengetahuan. kalo punya pengtahuan pasti tau yang mana yang mubazir..yang mana yang bermanfaat. jadi kita sudah bisa memilah milah budaya..atau kebiasan yang “tidak bermanfaat” coba deh buka qur’an pelajari sunnah rasull (belajar fiqih sunnah) itu sangat membantu kita dalam ber amal :mrgreen:

    Comment #1414 by adjipamungkas — Wednesday, April 9, 2008 @ 17:00

  5. mas adji

    Tentu kita belajar utk kritis tetapi di balik tradisi2 juga tersimpan kearifan lokal. Jika di-pikir2 sich tradisi2 itu kan sekedar simbol yg kalau ditelaah ada benarnya juga. Saya tidak berusaha utk menghakimi bahwa tradisi2 itu menyimpang, kalau memang ada yg membuat kita lebih dekat kpd Alloh ya bisa diikuti dan meninggalkan tradisi yg menjauhkan kita dari Alloh.

    Comment #1415 by kayhan — Thursday, April 10, 2008 @ 10:41

  6. heheh :mrgreen: bagi saya tetaplah ada “lampu merah” ..yang membatasi kita dalam beramal..makannya tetap belajar..mungkin saya menganalisa spendek pengetahuan saya :roll: ..
    menghakimi..semoga tidak ..kita kan di karuniai dengan kebebasan ber kehendak tinggal mau pilih yang mana jalan takwa atau fujur coba liat Qur’annya mas
    QS.91:8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya
    kita bebas kok milih mau ikut budaya tapi gak ngerti maknanya (malah melenceng jadi mubassir dan syubhat..yang paling parah mas bisa di tuduh bid’ah btw dont wory saya gak tuduh bid’ah karena bukan hak saya :lol: ) atau..mau pilih gak usah di lakukan dulu ..belajar dulu kalo udah ketemu..hubungkanlah dengan Qur’an :oops: ..kalo cocok yah..lakukan kalo gak ada yah beritihajlah..mohon petunjuk pada allah sebab kalo gak di kasih petunjuk kan bisa sesat.ingat kisah nabi Ibrahim as di qur’an
    QS.6:77. kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.”
    btw mohon petunjuk pun ada syaratnya yah buka qur’an lagi coba liat
    QS.64:11. tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
    LALU
    QS.10: 9. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya,di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.
    tapi hati..hati petunjuk bisa juga turun untuk menguji keimanan contohlah nabi Ibrahim orang yang mencari pengetahuan dengan belajar dan patuh pada Allah SWT
    QS.2:124. dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
    YAH selamat memilih semoga saya tidak menghakimi apalagi menggurui .. :mrgreen:
    yang benar dari Allah :mrgreen: yang salah adalah dari kefakiran serta kebodohan saya :cry:

    Comment #1417 by adjipamungkas — Thursday, April 10, 2008 @ 16:52

  7. Tidak semua tradisi menyimpang, demikian pula tidak semua tradisi benar :smile:

    Yang terbaik adalah, kita ketahui dulu apa falsafah dasar dari sebuah tradisi, sehingga bisa kita pilah-pilah.. tentang injak telor, saya nggak tau filosofi di baliknya :)

    Wayang kulit, misalnya. Ciptaan sunan Kalijaga. Jika yang ditonton cuma bayangannya pada layar, kenapa wayangnya harus dibuat begitu indah dan berwarna?

    Filosofi dasarnya adalah, wayang kulitnya sendiri simbol nafs, jiwa, diri sejati kita. Sangat indah, dengan segala detil dan tanda, ornamen, yang menggambarkan karakter dan tugas sang wayang.

    Bayangannya di layar, adalah simbol kita sebagai jasad. Seindah-indahnya kita ini, dengan segala kompleksitasnya, tetap saja hanya ‘bayangan’ dari jiwa, diri kita yang sejati. Cuma bayangan tak berwarna dari jiwa.

    Api lampu, yang menyinari wayang kulit hingga bayangannya tampak di layar, adalah simbol ruh. Karena ada cahaya ruh, maka jiwa kita memiliki ‘bayangan’ berupa kita yang jasad.

    Dalang, adalah simbol…? :wink:

     

    wayang kulit

    dalang dan wayang

     

    Mungkin masalahnya bukan tradisinya. Tapi semakin jauh aliran air dari sumber mata airnya. Lama-lama tradisi hanya dipahami sebagai ‘tradisi’, tanpa manusia merasa perlu mengetahui asal-usul dan latar belakangnya…

    Zaman sekarang ini, toh banyak sekali orang yang shalat, puasa, zakat, ber-Islam dan lain-lain hanya semata menjalankan ‘tradisi’ dari orang tuanya atau lingkungannya, tanpa mengetahui ada apa sebenarnya di balik semua ritual itu. Sama saja, kan? ;)

    Comment #1421 by Herry — Friday, April 11, 2008 @ 22:10

  8. kalo budaya yang di bawa oleh para wali… tentu dengan maksud yang di landasi dengan pengetahuan, hingga lahirlah sebuah filosofi yang luhur.. (berlandaskan kepada hikmah-hikmah Al-Qur’an dan Sunnah) :mrgreen: ana sfaqatz!!!

    yah.. yang perlu di dicermati adalah distorsi.. seperti yang di katakan mas hery ada “budaya” yang menjadi jauh nilai nilai filosofis akibat “kebodohan”,akibat kita sekedar taklid atau mengikuti tata cara kebiasaan.. orang-orang terdahulu

    Ana cuma memperingatkan para sohib skalian untuk tetap berhati-hati.. semoga tidak menghakimi .. apalagi menggurui :oops: .. kok jadi arab gini yah.. mungkin pengaruh.. sebuah blog.. di indonesia tapi isinya kok serasa di “padang pasir”

    ngomong ngomong soal wayang …hehehe saya juga “penikmat” cerita wayang..gak tahu yah waktu..balita senneng banget nonton wayang kulit di TVRI (walau kadang gak ngerti bahasanya tapi tau jalan ceritanya) ..pas sd ..duit jajan habis buat rental komik wayang pandawa lima maha bharata..bharata yudha…ramayana..karya ra.kosasih..banayak kisah kisah tauladan kesatriayaan dan gambaran kehidupan tersaji di dalamnya :mrgreen:

    Comment #1422 by adjipamungkas — Saturday, April 12, 2008 @ 08:52

  9. salaam,
    tradisi budaya disini hanyalah salah satu bentuk dari ajaran para wali, esensinya ajaran mereka menurut saya adalah bentuk keberserahdirian yang sederhana, sedangkan ritual untuk mencapai tahap keberserahdirian tersebut berbeda-beda, tergantung pada tiap wali. Banyak pertanyaan yang belum terungkap sebenarnya, ada apa dengan tanah jawa yang membuat para wali itu datang? Terutama, kualitas spiritual seperti apa yang dapat menarik orang2 suci terus berada pada tanah ini, dan mensucikannya? menariknya hal itu berlanjut sampai hari ini, banyak sufi-sufi besar, tersebar di pelosok nusantara.. namun ajarannya kadang diserap hanya permukaan atau ritualnya saja.. menarik kalau kita bisa menggalinya. mencoba menemukan bentuk keberserahdiri kita sendiri.

    Comment #1437 by siska — Tuesday, April 15, 2008 @ 12:06

  10. :roll: di beberapa daerah ada tradisi hari hari besar islam…seperti grebeg…maulud, maudu lompoa..satu suro…tabot…
    Namun ada sebagian dari “ummat islam” yang menghakimi..aktivitas tersebut…(padahal mereka bukan hakim apalagi jaksa :sad: ) sebagai bid’ah..

    tanya kenafa? :mrgreen:
    sebuah pandangan sederhana..mungkin
    1.perayaan tersebut terkesan mubazir..(banyak memakan biaya dan menghambur hamburkan uang..bahan makanan.
    2. tampak seperti ceremonial yang di paksakan harus di adakan..kalo tidak bisa kualat?: :???:
    3.terlihat banyak mengandung mudharat..sperti ngalap berkah dengan mengambil sisa..atau bahan bahan baku perayaan tersebut..untuk mengharap berkah.. :twisted:

    ini yang perlu di mendapatkan perhatian oleh para ulama dan budayawan agar image negatif..tersebut tidak meningkatkan semangat menghakimi atau zu’dzon diantara kita :razz:

    Comment #1439 by adjipamungkas — Tuesday, April 15, 2008 @ 16:59

  11. salaam..
    menurut saya banyak yang ada saat ini dinisbatkan ke ajaran wali padahal bukan.. itu halyang perlu penyelidikan lebih lanjut.. dan yang perlu digali saya kira, makna dari simbol2 ritual itu… misalnya acara sekatenan, apa sih sebenernya yang pengen disampaikan dengan sekatenan itu? atau gending kebo giro misalnya, apa maksudnya kebo giro? ajaran para wali itu amat dalam.. sayangnya, karena keterbatasan kita mereduksi ajaran yang penuh simbol itu jadi kemusyrikan.. jadi sibuk sama medianya dibandingkan pesan2nya…sayang banget sebenernya..

    Comment #1442 by siska — Wednesday, April 16, 2008 @ 09:58

  12. Mbak Siska, bikin lagi dong artikel2 kebijaksanaan para wali.
    misalnya lagu ilir2 itu makna sebenarnya apa, grebeg maulud, atau metode2 dakwah masing2 wali, dll…
    selama ini kalau bicara para wali, hal pertama yg muncul pasti kesaktiannya…apa iya krn sakti terus bisa jadi wali?
    btw terjemahan mertasinga itu bisa diperoleh dimana mbak?

    Comment #1443 by arnol — Wednesday, April 16, 2008 @ 12:42

  13. pengennya gitu mas.. tapi saya juga baru belajar nih, dan pertanyaan lebih banyak daripada jawaban he he…naskah mertasinga saya pinjem dari teman.. itu terbitan balai pustaka, judulnya sajarah para wali: naskah mertasinga, penulisnya sudah saya cantumkan.. kayanya di toko-toko buku ada deh.. :) ) smoga ketemu ya..
    ilir-ilir itu menarik, saya inget syair awalnya aja..: lir ilir lir ilir tandure wis sumilir… itu sepertinya cerita tentang jiwa manusia yang baru tumbuh. Tapi saya juga belum tahu, belum ada referensinya.. ada yang dapat membantu? menarik kalau kita bisa bahas bareng2 disini :) )

    Comment #1444 by siska — Thursday, April 17, 2008 @ 12:30

  14. Ah, saya suka banget lagunya Sunan Kalijaga ini, Lir-ilir. Maknanya dalam sekali, dan ajaibnya bisa di-compressed dengan lagu seringan itu. Ini yang saya pahami:


    Lir Ilir

    Lir ilir, lir ilir
    tandure wis sumilir
    Tak ijo, royo - royo
    Dak sengguh temanten anyar

    Bocah angon, bocah angon
    penekno blimbing kuwi
    Lunyu - lunyu penekno
    kanggo mbasuh dodotiro

    Dodotiro, dodotiro
    kumitir bedah ing pinggir
    Dondomono jlumatono
    kanggo sebo mengko sore

    Mumpung pandang rembulane
    Mumpung jembar kalangane
    Yo surako surak hiyo

    Lir ilir, lir ilir
    (ucapan bangun tidur untuk bayi: ucapan selamat bangun tidur kepada jiwa/nafs yang baru bangun dari timbunan dosa maupun dominasi sifat-sfat jasadnya. Ada sebuah kesadaran untuk taubat, ingin mengenal diri dan Tuhannya)

    tandure wis sumilir
    tanaman padinya sudah mulai tumbuh
    (padi: simbol nur iman, tanah sawah: jasad; ada nur iman yang mulai menyala dalam jasad)
    *’sumilir’ adalah padi yang baru mulai tegak kembali setelah dipindah dari pembiakannya di tanah yang agak kering ke sawah yang berair.

    Tak ijo, royo - royo
    menghijau cerah segar
    (seorang suci yang senang sekali melihat nur iman seseorang dalam qalb-nya yang mulai bercahaya)

    Dak senggoh temanten anyar
    seperti pengantin baru
    (jiwa yang baru mulai suci, bagaikan pengantin: jasad mulai malu-malu mendampingi jiwa, jasad mulai ingin selaras dengan sang jiwa)

    bocah angon, bocah angon
    anak gembala, anak gembala
    (kita semua gembala: menggembalakan seluruh sifat jasadi kita sendiri, juga syahwat dan hawa nafsu. ‘Bocah Angon’ ini panggilan Sang Sunan kepada kita semua)

    penekno blimbing kuwi
    panjatlah pohon belimbing itu
    (pohon: pohon takwa, panjatlah pohon takwa; cobalah belajar taqwa. buah belimbing lima seginya: sholat lima waktu dan rukun islam yang lima: panjatlah/capailah ketaqwaan melalui Islam)

    Lunyu - lunyu penekno, kanggo mbasuh dodotiro
    biar licin sekalipun tapi panjatlah, buat mencuci kain mu
    (’memanjat’ Islam dan belajar bertakwa: licin, susah, tidak mudah. kain = pakaian: iman, keyakinan)

    Dodotiro, dodotiro, kumitir bedah ing pinggir
    kainmu, kainmu, berkibaran koyak di tepinya
    (imanmu itu, keyakinanmu itu, belum kokoh. Banyak cacatnya, masih banyak salahnya)

    Dondomono, jlumatono; kanggo sebo mengko sore
    jahitlah, dengan di-’jelujuri’, untuk ’sebo’ (menghadap raja) petang nanti
    (perbaikilah, sebaik-baiknya dengan tekun satu demi satu, untuk menghadap Allah di hari akhirat nanti)

    Mumpung pandang rembulane
    selagi purnama bulannya
    (purnama: simbol jiwa yang suci, mumpung jiwanya lagi bersih)

    Mumpung jembar kalangane
    selagi luas gelanggang nya
    (selagi masih di dunia ini)
    ‘Kalangan’ adalah tempat rakyat jelata menghadap seorang Raja.

    Yo surak-o, surak hiyo
    ayo bersoraklah.
    (ayo tampilkan/keluarkan isi hatimu: ayo jadilah diri sejatimu, = ayo kenali dirimu, agar bisa menyuarakan ’suara Allah’, kehendak Allah. Agar menjadi hamba Allah, ‘instrumen’ Allah).

    btw, kok saya jadi nangis ya abis nulis ini…

    esensi lagu ini sama kan dengan seluruh karya sufi-sufi seluruh dunia, apapun bungkusnya: puisi, narasi, dll.

    Comment #1445 by Herry — Thursday, April 17, 2008 @ 13:08

  15. hum.. makin sedih lagi kalo dinyanyikan lirih-lirih mas,
    nada-nada nya bikin suasananya jadi ngelangut..

    Comment #1446 by siska — Thursday, April 17, 2008 @ 14:23

  16. dan makna-makna yang terkandung…bikin sudut-sudut mata jadi basah siang ini.. makasih mas herry ..Gusti Allah yang mbales.. (doa sederhana ini aku tiru dari mbak iwul..:)

    Comment #1447 by siska — Thursday, April 17, 2008 @ 14:26

  17. sama-sama, siska… semoga ada manfaatnya ;)

    Comment #1448 by Herry — Thursday, April 17, 2008 @ 21:06

  18. Makasih sharingnya Kang herry…

    Ilir-ilir ini bukannya ciptaan Sunan Bonang Kang?
    hebatnya tembang ini juga dijadikan sebagai tembang nasehat oleh penganut spiritual kejawen.

    Wah jadi makin penasaran/rindu pengen mengenal ajaran para wali songo ini.

    Comment #1454 by arnol — Friday, April 18, 2008 @ 17:17

  19. hiks…ingat..waktu kecil sering di dendangkan lagu..ini oleh seseorang yang sudah sepuh…tapi sudah lupa siapa yah…semoga Allah merahmatinya

    Comment #1455 by adjipamungkas — Friday, April 18, 2008 @ 19:05

  20. :cry: hiks ..dahulu..waktu masih kecil sering didendangkan kalo lagi rewel oleh seorang sepuh..tapi saya sudah lupa namanya..hiks :cry: ..semoga Allah merahmati beliau :mrgreen:

    Comment #1456 by adjipamungkas — Friday, April 18, 2008 @ 19:16

  21. prasaan ada yang aneh deh… :roll: kok banyak budaya jawa…yang “melekat”kepada saya..yah :oops: ..padahal saya cuma mlewatkan -+3thn di magelang..besar..di Makasar..tapi..akhir akhir ini kok masa kecil terasa di” rewind” dengan jelas … :mrgreen: ..semoga ini suatu “hikmah” yang harus di pelajari :cool:

    Comment #1457 by adjipamungkas — Friday, April 18, 2008 @ 19:23

  22. Lir-ilir.. Sunan Bonang apa Kalijaga ya? Seingat saya sih Sunan Kalijaga.

    Arnol, di Sumatra kan ada Hamzah Fanzhuri, dan Nuruddin Ar-Raniri? :wink:

    Comment #1458 by Herry — Friday, April 18, 2008 @ 19:24

  23. Herry wrote:
    Arnol, di Sumatra kan ada Hamzah Fanzhuri, dan Nuruddin Ar-Raniri? :wink:

    Arnol:
    Wah Kang…saya cuma pernah denger namanya aja. dikalangan orang awam tokoh2 sufi gak begitu dikenal. biasanya tiap daerah punya tokoh sendiri, tapi paling orang2 dari dari tersebut yg kenal. kecuali buya HAMKA, siapa sih yg gak kenal. di SUmatra Barat, biasanya suluk (bahasa minangnya suluak) itu melekat pada filosofi silat Kang…

    Comment #1462 by arnol — Monday, April 21, 2008 @ 12:24

  24. Menurut saya Walisongo sangat berhasil mendakwahkan ajaran Islam tanpa menghancurkan budaya lokal. Hasilnya orang Indonesia bisa menerima ajaran Islam dengan damai.

    Dulu saya menganggap dakwah Walisongo menghasilkan ajaran sinkretisme. Tapi setelah wawasan bertambah, saya sangat menghargai jasa Walisongo yang dengan metode dakwah yang bijaksana dengan menggunakan simbol2 budaya lokal berhasil mendakwahkan ajaran Islam. Coba kalau Islam didakwahkan dengan metode dakwah ala wahabi yang keras dan kaku, barangkali cuma sebagian kecil yang masuk Islam.

    Comment #1463 by khalisha — Tuesday, April 22, 2008 @ 16:14

  25. dakwah ala wahabi & ikhwanul muslimin justru berkembang pesat dewasa ini. mengapa bisa begitu? padahal selain dakwah Islam mereka juga (secara sengaja atau tidak) menyebar budaya arab yg kontra dgn mayoritas budaya nusantara.

    Comment #1464 by arnol — Wednesday, April 23, 2008 @ 12:25

  26. Jadi…mari kita gali kembali kebijaksanaan dakwah para wali yg sesuai dgn keluhuran budaya nusantara….dan menerapkannya mulai pada diri kita dan keluarga.

    Comment #1465 by arnol — Wednesday, April 23, 2008 @ 12:29

  27. cukup menarik dan mengesankan apalagi mewalikan yang sudah wali

    Comment #1472 by mastoor — Friday, April 25, 2008 @ 20:09

  28. wali ketemu wali?
    “wali murid ketemu wali kelas” :mrgreen:

    Comment #1473 by adjipamungkas — Saturday, April 26, 2008 @ 06:17

  29. “Ngulat saliro hangroso wani” saya rasa yang lebih mengenal diri itu para salik ilmu kedokteran / psikologi. para sesepuh / wali sangat mengerti diri dan sanggup memetakan tubuh. benerkan, jantung hati dll beliau paham.
    salam pencerahan untuk menyongsong kebangkitan diri dan nasional ke 100x. nuwun

    Comment #1505 by laras — Tuesday, May 6, 2008 @ 12:16

 

Give Comment





 


:smile: :grin: :lol: :wink: :cool: :oops: :mrgreen: :???: :sad: :cry: :roll: :shock: :eek: :neutral: :razz: :mad: :evil: :twisted: :!: :?: :arrow: :idea:
 

• Just click ONCE. If your comment doesn't show up immediately, it MAY be moderated.

• Line breaks automatically. To set new paragraph, hit [enter] TWO times.

• Your e-mail address will not be displayed in comments to prevent unwanted mail invading your e-mail account.

• Some HTML codes is allowed : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

 

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites