‘Suluk’? ‘Mengenal Diri’? ‘Misi Hidup’? Apa itu?
[TANYA] bersuluk, bermakna keberserahdirian. namun apakah yang dilakukan/dikerjakan oleh orang2 yg bersuluk? amalannya? dimana? caranya? kenapa? dan mengapa? (Nurhidayah)
[JAWAB] Bersuluk sebenarnya tidak tepat jika dikatakan bermakna keberserahdirian. ‘Islam’ (aslama)-lah yang artinya ‘berserah diri’. ‘Islam’, adalah keberserahdirian dalam ketaatan dan pengabdian sejati kepada Allah.
Bersuluk, artinya ‘menempuh jalan’. Jalan yang dimaksud adalah ‘jalan kembali kepada Allah’, yaitu ‘jalan taubat’ (ingat asal kata ‘taubat’ adalah ‘taaba’, artinya ‘kembali’), atau jalan ad-diin. ‘Suluk’ secara harfiah berarti ‘menempuh’, (Sin - Lam - Kaf) asalnya dari Q.S. An-Nahl [16] : 69, “Fasluki subula Rabbiki zululan,”

“…dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (untukmu).” (Q. S. An-Nahl [16] : 69)
‘Menempuh jalan suluk’ berarti memasuki sebuah disiplin selama seumur hidup untuk menyucikan qalb dan membebaskan nafs (jiwa) dari dominasi jasadiyah dan keduniawian, dibawah bimbingan seorang mursyid sejati (yang telah meraih pengenalan akan diri sejatinya dan Rabb-nya, dan telah diangkat oleh Allah sebagai seorang mursyid bagi para pencari-Nya), untuk mengendalikan hawa nafsu, membersihkan qalb, juga belajar Al-Qur’an dan belajar agama, hingga ke tingkat hakikat dan makna. Dengan bersuluk, seseorang mencoba untuk beragama dengan lebih dalam daripada melaksanakan syari’at saja tanpa berusaha memahami. Orang yang memasuki disiplin jalan suluk, disebut salik (bermakna ‘pejalan’).
Ber-suluk adalah menjalankan agama sebagaimana awal mulanya, yaitu beragama dalam ketiga aspeknya, ‘Iman’ - ‘Islam’ - ‘Ihsan’ (tauhid - fiqh - tasawuf) sekaligus, sebagai satu kesatuan diin Al-Islam yang tidak terpisah-pisah. Secara sederhana, bisa dikatakan bahwa bersuluk adalah ber-thariqah, walaupun tidak selalu demikian.
Yang dilakukan, adalah setiap saat berusaha untuk menjaga dan menghadapkan qalb nya kepada Allah, tanpa pernah berhenti sesaat pun, sambil melaksanakan syari’at Islam sebagaimana yang dibawa Rasulullah saw. Amalannya adalah ibadah wajib dan sunnah sebaik-baiknya, dalam konteks sebaik-baiknya secara lahiriah maupun secara batiniah. Selain itu ada pula amalan-amalan sunnah tambahan, bergantung pada apa yang paling sesuai bagi diri seorang salik untuk mengendalikan sifat jasadiyah dirinya, mengobati jiwanya, membersihkan qalbnya, dan untuk lebih mendekat kepada Allah.
“Tidak ada cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Aku fardhu-kan kepadanya. Namun hamba-Ku itu terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (sunnah) nawafil, sehingga Aku pun mencintainya. Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi) pengelihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, sungguh, akan Aku beri dia, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku benar-benar akan melindunginya.” (Hadits Qudsi riwayat Bukhari).
Dasar segala amalan adalah Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah, demikian pula amalan-amalan dalam suluk. Suluk tidak mengajarkan untuk meninggalkan syariat pada level tertentu. Syariat (bahkan hingga hakikat dari pelaksanaan syariat) tuntunan Rasulullah wajib dipahami dan dilaksanakan oleh seorang salik, hingga nafasnya yang penghabisan.
Dimana? Dimana pun, kapan pun. Setiap saat, selama hidup hingga nafas terakhir kelak. Kenapa? Karena sebagian orang ingin memahami makna hidup, makna Al-Qur’an, ingin hidup tertuntun dan senantiasa ada dalam bimbingan Allah setiap saat. Sebagian orang ingin memahami agama, bukan sekedar menghafal dalil-dalil beragama.
Jadi, bersuluk kurang lebih adalah ber-Islam dengan sebaik-baiknya dalam sikap lahir maupun batin, termasuk berusaha memahami kenapa seseorang harus berserah diri (ber-Islam), mengetahui makna ‘berserah diri kepada Allah’ (bukan ‘pasrah’), dalam rangka berusaha mengetahui fungsi spesifik dirinya bagi Allah, untuk apa ia diciptakan-Nya.
Dengan mengetahui fungsi spesifik kita masing-masing, maka kita mulai melaksanakan ibadah (pengabdian) yang sesungguhnya. Sebagai contoh, shalatnya seekor burung ada di dalam bentuk membuka sayapnya ketika ia terbang, dan shalatnya seekor ikan ada di dalam kondisi saat ia berenang di dalam air. Masing-masing kita pun memiliki cara pengabdian yang spesifik, jika kita berhasil menemukan fungsi untuk apa kita diciptakan-Nya.

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya ber-tasbih kepada Allah siapa pun yang ada di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalat-nya dan cara tasbih-nya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q. S. An-Nuur [24] : 41)
Inilah ibadah (pengabdian) yang sejati: beribadah dengan cara melaksanakan pengabdian pada Allah dengan menjalankan fungsi spesifik diri kita, sesuai dengan untuk apa kita diciptakan-Nya sejak awal. Fungsi diri yang spesifik inilah yang disebut dengan ‘misi hidup’ atau ‘tugas kelahiran’, untuk apa kita diciptakan.
Sebagaimana sabda Rasulullah:
Dari Imran ra, saya bertanya, “Ya Rasulullah, apa dasarnya amal orang yang beramal?” Rasulullah saw. menjawab, “Tiap-tiap diri dimudahkan mengerjakan sebagaimana dia telah diciptakan untuk (amal) itu.” (H. R. Bukhari no. 2026).
Juga,
“…(Ya Rasulullah) apakah gunanya amal orang-orang yang beramal?” Beliau saw. menjawab, “Tiap-tiap diri bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.” (H. R. Bukhari no. 1777).
Tiap-tiap diri. Setiap orang. Spesifik. Masing-masing memiliki suatu alasan penciptaan, sebuah tugas khusus, sebuah amanah ilahiyah. Ketika seseorang menemukan tugas dirinya, Allah akan memudahkan dirinya beramal dalam pengabdian sejati berupa pelaksanaan akan tugas itu. Ia akan menjadi yang terbaik dalam bidang tugasnya tersebut. Jalan ‘yang dimudahkan kepadanya’ inilah jalan pengabdian yang sesuai misi hidup, sesuai untuk apa kita diciptakan Allah, sebagaimana Q. S. 16 : 69 tadi, “… tempuhlan jalan Rabb-mu yang dimudahkan (bagimu).”
Agama-agama timur mengistilahkan hal ini dengan kata ‘dharma’. Para wali songgo di Jawa zaman dahulu memberi istilah ‘kodrat diri’ atau kadar diri, sesuai istilah dalam Qur’an. Ada juga yang menyebutnya dengan ‘jati diri’.
Segala sesuatu diciptakan Allah dengan ketetapan, dengan tugas, dengan ukuran fungsi spesifik tertentu. Demikian pula kita masing-masing, dan berbeda untuk tiap-tiap orang. Al-Qur’an mengistilahkan hal ini dengan qadar. “Inna kulli syay’in khalaqnaahu bi qadr.”

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadr.” (Q. S. Al-Qamar [54] : 49)
Kita, karena ke-Mahapenciptaan Allah, mustahil diciptakan-Nya secara ‘murahan’ dan ‘tidak kreatif’ sebagai sebuah produk massal. Kita sama sekali bukan mass-product, karya generik. Masing-masing kita dirancang Allah secara spesifik, tailor-made orang-per-orang, dengan segala kombinasi kekuatan dan kelemahan yang diukur dengan presisi oleh tangan-Nya sendiri.
Masing-masing kita diciptakan-Nya dengan dirancang untuk memiliki sekian kombinasi ‘kadar’ keunggulan pada sisi tertentu dan kelemahan pada sisi lainnya, demi kesesuaian untuk melaksanakan sebuah tugas, demi melaksanakan sebuah misi.
Menemukan ‘misi hidup’ adalah menemukan qadr diri kita sendiri sebagaimana yang tersebut pada ayat di atas, sehingga kita memahami untuk (fungsi) apa kita diciptakan. Kita menemukan qudrah Allah yang ada dalam diri kita sendiri. Inilah maksudnya ‘mengenal diri’ dalam hadits “man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu.”.
“Siapa yang mengenal jiwa (nafs)-nya, akan mengenal Rabb-nya.”
Tentu saja, dengan mengenal jiwa (nafs) otomatis juga mengenal Rabb, karena pengetahuan tentang fungsi dan kesejatian diri kita hanya bisa turun langsung dari sisi Allah ta’ala dan bukan dikira-kira oleh kita sendiri. Turunnya pengetahuan sejati (’ilm) tentang ini bukan kepada jasad maupun kepada otak di jasad kita ini; melainkan hanya kepada jiwa (nafs), diri kita yang sesungguhnya. Dalam jiwa (nafs) kitalah tersimpan pengetahuan tentang diri dan pengetahuan tentang Allah, karena nafs-lah yang dahulu mempersaksikan Allah dan berbicara dengan-Nya, sebagaimana diabadikan oleh Al-Qur’an di surat Al-A’raaf [7] : 172;

“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan dari bani Adam, dari punggung mereka, keturunan-keturunan mereka, dan mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa (nafs-nafs; anfus) mereka (seraya berkata): ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu.’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami bersaksi’….” (Q. S. [7] : 172)
Ketika kita mengenal jiwa (nafs), kita mendapatkan pengetahuan tentang Allah, qudrah Allah dan qadr diri yang tersimpan dalam jiwa kita. Dengan demikian, kita pun mengenal Allah dan juga mengenal fungsi spesifik untuk apa kita diciptakan-Nya (mengenal diri). Dengan melaksanakan fungsi tersebut, maka kita pun melaksanakan pengabdian yang sejati kepada Allah sesuai tujuan-Nya menciptakan kita. Kita mulai mengabdi (ya’bud) di atas agama-Nya (Ad-Diin) dengan hakiki. Inilah maksud perkataan sahabat Ali r. a. yang termasyhur: “Awaluddiina Ma’rifatullah.”
“Awal Ad-Diin adalah mengenal Allah.” (Sahabat Ali r. a.)
Demikianlah pengabdian (ibadah) yang hakiki. ‘Ibadah’ bukanlah sekedar puasa, shalat, zakat, dan semacamnya; melainkan jauh, jauh lebih dalam dari itu. ‘Ibadah’ berasal dari kata ‘abid, bermakna, ‘abdi’, ‘hamba’, atau ‘budak’. ‘Ibadah’ pada hakikatnya adalah sebuah pengabdian, atau penghambaan diri. Dan pengabdian yang hakiki adalah pengabdian dengan menjalankan tugas ilahiyah sesuai dengan keinginan-Nya, menurut kehendak-Nya, untuk fungsi apa Dia menciptakan kita.
Demikian pula, status ‘Abdullah’ (’abdi Allah/hamba Allah) maupun ‘Abdina’ (hamba Kami) adalah mereka yang sudah mengenali tugasnya dan sudah berfungsi sesuai dengan yang sebagaimana Allah kehendaki bagi dirinya. ‘Hamba Allah’ adalah sebuah status yang tinggi.
Sekarang, insya Allah kita jadi sedikit lebih memahami makna ‘dalam’ dari ayat tujuan penciptaan jin dan manusia, “wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun.”

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk
beribadahmengabdi/menghamba (ya’bud) kepada-Ku.” (Q. S. Adz-Dzariyaat [51] : 56)
Demikian pula pada Q. S. Al-Faatihah [1] : 5,

“Kepada Engkau kami mengabdi/menghamba (‘na’bud’,* dari ‘abid,), dan kepada Engkau kami memohon pertolongan.” (Q. S. Al-Faatihah [1] : 5)
Semoga kelak kita diizinkan Allah mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki, dengan dijadikan Allah termasuk ke dalam golongan ‘Abdullah’.
Semoga bermanfaat,
Herry Mardian; Yayasan Paramartha.
____
* na’bud sering diinterpretasikan dengan arti ‘kami menyembah’.
[*] Oh ya, mungkin akan sangat membantu memahami hal ini jika membaca juga tulisan Watung Arif, “Tiap Orang, Satu Misi”, di sini.
[*] Beberapa kalimat dikutip dari makalah Zamzam A. Jamaluddin, “Struktur Insan Dalam Al-Qur’an dan Hadits: Misykat Cahaya-cahaya.”
[]



Alhamdulillah. Segala Puji bagi-Nya.
Terima kasih mas Herry.
Comment #1331 by dimas — Tuesday, March 18, 2008 @ 12:43
tulisan yang cukup menggambarkan dengan tegas dalil-dali alquran ttg kemisian diri, dan suluk. Allhamdulilah.. cukup membantu nih!.. nulis lagi ya mas hery yang banyaak..
Comment #1332 by siska — Tuesday, March 18, 2008 @ 13:31
mau nanya mas her..
mengapa para sufi “terkesan” (kesan itu bisa jadi bener bisa jadi salah… tp itu yg dirasakan oleh orang lain) menutup diri dan, memilih2 “murid” dalam memberikan bimbingan… sedangkan kita diwajibkan untuk menyebarkan kebaikan walau hanya 1 ayat…
mengapa tidak ber”syiar” seperti para ulama-ulama atau mereka yang mengaku-aku sebagai ulama… hehehehe
sehingga mungkin akan banyak orang baik akan menjadi lebih baik, banyak orang cukup baik menjadi baik dikiiitttt, banyak orang yang ragu akan menjadi sedikit ragu,,,,banyak orang sesat jadi agak sesat.. .
ma kasih ….
Comment #1335 by dewo — Wednesday, March 19, 2008 @ 10:48
mas Her,
Disiplin diri itu adalah jalan tak terbatas, sepanjang hidup kita harus terus menempa diri dan berusaha utk menjadi individu yg lebih baik. Nah, apakah misi hidup itu bisa dispesifikkan seperti misalnya anak kecil kalo ditanya cita2nya apa.
Apakah dgn menjadi karyawan, polisi, direktur, pengusaha, dll bisa disebut misi hidup? The basic idea is what do we suppose to answer if we’re asked what is our “mission”. Makasih…
Comment #1336 by kayhan — Wednesday, March 19, 2008 @ 15:34
Saya mau nanya nie, dalam Al Quran juga ada kata2 menyembah yang menurut saya berbeda maknanya dengan mengabdi. kalau menyembah hubungan antara hamba dan Tuhannya sedangkan mengabdi ibarat satu kerjaan dimana ada raja dan para pejabat kerajaan yang fungsinya untuk mengabdi kepada raja. trus ada suatu pertanyaan kalau Jin dan manusia dicipta untuk mengabdi trus yang dicipta untuk menyembah siapa?
Comment #1337 by wawan — Wednesday, March 19, 2008 @ 17:30
salam sahabat sahabat mau nimbrung ah?!
eits….tunggu dulu coy mungkin hanya kesannya mas dewo aza
…syiar sufi…bukan skedar dakwah..menyebar kebaikan tapi memperbaiki keberagamaan..contoh (mungkin gak nyambung)
ehem..mas brapakali kita menyebut sirathalmustakim di dalam shalat kita entah di beberapa doa kita (spendek pengetahuan saya doa yang paling sederhana dan mudah di ingat dan di lafadzkan adalah surah alfatiha) tapi gak tau apa ? di mana ?sirathal mustakim siapa yang berada di sana ..?
.ini menurut saya sngat kruisal dan berpengaruh kepada keberagamaan saya .
hal inilah …yang “kadang” terlupakan dari model dakwah “biasa”(dan ini yang saya dapatkan ketika pertama kali belajar thasawuf).
sufi milih murid…mmh
kayaknya memang gituh khan harus di lihat kesungguhan nya ..apa niatnya benar benar ingin bertaubat (kembali keAllah) atau mau coba coba ..(ilmu) mengisi waktu ataukah pelarian masalah…atau kepengen sakti madra guna…dan banyak lagi alasan (ini berdasarkan pengalaman pribadi dan survey yang saya lakukan) jadi lebih banyak yang tidak tulus untuk belajar. khan yang bersuluk pun adalah orang orang yang di kehendaki Allah…yaitu orang orang yang benar benar mau bertaubat kembali ke Allah
QS.4:146. “kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”
Comment #1338 by adjipamungkas — Wednesday, March 19, 2008 @ 20:37
Buat mas kayhan jawaban sederhana spendek pengetahuan saya adalah : …taubat dulu…jihad dulu…. di uji dulu…di rahmati dulu … diampuni segala dosa terus menjadi hamba yang di sucikan (mutaharrun) dapat pengetahuan (ilmu) sebagai perangkat pendukung “misi hidup” baru deh…Allah sendiri yang memberi petunjuk tentang apa misi hidup kita selain sekedar menjadi hamba, abdi, dan khalifa di muka bumi ..kalo bahasa mas hery (punten kalo saya salah memahami pernyataannya) fungsi “spesifik” sebagai pemakmur bumi
Comment #1339 by adjipamungkas — Wednesday, March 19, 2008 @ 21:00
Belalang, Mas! Belalang sembah.
Comment #1343 by abu suci — Thursday, March 20, 2008 @ 07:28
sembah dan abdi….
Muhammad = abdi Allah = Abdullah ..apa yang di sembah muhammad ?
ya Allah SWT juga …mas wawan ummat siapa ?..kalo Muhammad otomatis ya seharusnya jadi abdi Allah ..juga yang juga menyembah Allah SWT…HEHEHE BINGUNG?!
Sederhananya…yang sejatinya menjadi atasan maha atasan, raja maha di raja siapa mas?…yah..Allah juga!
)semuanya tidak patut kita sembah ..tapi menjadi abdi yang bertanggung jawab terhadap tugas pekerjaan adalah amanah…di dunia …amanah di akherat harus jadi Abdi allah di dunia
mengapa harus di bedakan ..kalo mau berhadapan dengan pencipta kita ..lain urusan kalo di dunia …mungkin atasan kita yah pemimpin “sementara” bos..komandan ..atasan ..raja ..drektur(semuanya bisa mati?!
btw kadang kita menjadi masih menjadi abdi hawanafsu dan syahwat bahkan sempat mempertuhannkannya(syrik)
coba kita lihat Qur’annya dulu…”,
QS.45 : 23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Comment #1344 by adjipamungkas — Friday, March 21, 2008 @ 21:38
mungkin mas herry bisa melihat situs ini:
http://wahiduddin.net/mv2/
Comment #1345 by rahayu — Saturday, March 22, 2008 @ 12:42
saya tadi singgah liat situsnya hazrat inayat khan mba rahayu…mmm bahasa inggris ..
Comment #1346 by adjipamungkas — Saturday, March 22, 2008 @ 16:24
salam!
mas, bantu saya menulis dengan huruf arab lafad yang mas herry maksud dengan kata “allah”, lalu baca, lalu tulis bacaan mas herry dalam tulisan arab itu dengan huruf latin.
terima kasih.
Comment #1347 by rully — Saturday, March 22, 2008 @ 23:48
Sebenarnya bukan pilih-pilih murid, sih. Yang terjadi sebenarnya mekanisme natural: bahwa makanan baru bermanfaat jika diberikan kepada orang yang memang lapar atau membutuhkan. Sayang sekali jika kita, sebagai manusia, memberikan makanan kepada yang memang tidak membutuhkan. Bisa dianggurin sampai menjadi busuk, dibuang, atau bahkan membuat muntah yang bersangkutan. Padahal masih banyak sekali orang selain dia yang benar-benar membutuhkan makanan.
Orang yang tidak lapar tentu tidak merasa butuh makanan. Orang yang merasa sehat, tentu tidak merasa butuh dokter. Orang yang merasa sudah tahu agama, tentu tidak merasa butuh belajar agama. Orang yang merasa tidak lapar tentang Allah, tentu tidak butuh belajar tentang Allah
“Sampaikanlah walau satu ayat,” itu hadits, memang benar sekali. Tapi sampaikan kepada penerima yang tepat (yang memang membutuhkan), dan waktu yang tepat. Kalau di depan jendela samping sebuah rumah kita taruh speaker ‘toa mesjit’ dan setiap saat kita bombardir dengan ceramah dan ‘kuenceng-kuenceng’ tanpa henti dengan mengatasnamakan dakwah, bisa jadi sebenarnya kita justru menzalimi penghuni rumah.
Selain itu, pada orang-orang yang memang telah menerima tugas dari Allah ta’ala (mengenal diri dan misinya) ada ruang lingkup dakwahnya sendiri, dan Allah sendiri yang menentukan. Tidak semua para peraih kebenaran harus menjadi da’i dan tampil di depan ummat.
Ada yang memang tugasnya menjadi Rasul alam semesta (Muhammad SAW), menjadi rasul bangsa tertentu saja (Musa, Isa as, dll), menjadi mursyid untuk orang tertentu saja, yang muridnya itulah yang justru harus menjadi nabi (Syu’aib as). Ada yang harus menjadi panglima perang (Sa’ad bin Abi Waqqash). Ada yang harus menyampaikan khazanah ilahiyah melalui puisi (Jalaluddin Rumi). Ada yang harus membuat buku (Al-Ghazali). Ada yang harus membuat buku dan menyampaikan ilmu ketuhanan yang rumit yang tidak untuk masyarakat biasa (Ibnu Arabi). Ada yang harus menjadi mursyid dengan penampilan mewah (Syaikh Abdul Qadir Jailani). Ada yang harus terlunta-lunta, sakit kulit dan menggelandang seperti Nabi Ayyub as. Ada pula yang diciptakan untuk kaya raya dan berkuasa seperti Sulaiman a.s.
Banyak sekali ragam tugas dan kemisian, demi menyampaikan, dan –menampilkan–, suatu Khazanah Ilahiyah. Justru jika seorang diciptakan sebagai, misalnya, panglima perang, namun ia malahan tampil di depan podium dan berdakwah dengan cara klasik, ia justru menyalahi kehendak Allah bagi dirinya. Ia menyalahi tujuan penciptaannya.
Bukan berarti orang-orang ini tidak berdakwah. Tapi, apa bentuknya: bicara? berbuat? berfikir? menulis? menyumbang harta? memimpin? Allah yang menentukan. Juga, ruang lingkupnya untuk siapa, untuk ummat-kah, bangsa tertentu kah, orang tertentu kah, atau cukup untuk keluarga, mungkin bahkan cukup hanya untuk dirinya sendiri.
Mereka yang tampil di podium dan berdakwah, atau mereka yang bersurban dan berjubah, tidak berarti mereka menjadi lebih alim, lebih ulama, dan lebih soleh daripada mereka yang tidak tampil di podium dan berpenampilan biasa-biasa saja. Sama sekali tidak. Ukuran kesolehan dan kealiman sama sekali bukan pada tampilan lahiriyah seseorang. Dan, berdakwah untuk ribuan ummat sekaligus belum tentu lebih efektif dan lebih ‘berpahala’ (kalo masih ngitung-ngitung pahala) daripada berdakwah pada beberapa orang saja. Bukan jumlahnya, tapi sejauh jiwa apa orang bisa tertransformasi dengan khazanah Ilahiyah yang ada pada diri kita. Walau hanya satu orang.
Kita ingat hadits yang bunyinya kurang lebih, “Barangsiapa menghidupkan satu jiwa, ia bagaikan menghidupkan seluruh jiwa manusia. Barangsiapa membunuh satu jiwa, ia bagaikan membunuh seluruh jiwa manusia.” ‘Menghidupkan jiwa’, secara batin juga berarti membebaskan jiwa manusia dari timbunan sifat jasadiyah dan keduniaannya sendiri.
Banyak orang-orang yang dicintai Allah tapi tidak tampil secara terbuka di podium untuk berdakwah, karena memang bukan tugasnya. Dia dimudahkan pada bidang lain, tidak di bidang itu. (btw, mas dewo sudah melihat tulisan “Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, dan Waham ‘Pembimbing Spiritual’”?)
Yang terpenting, orang-orang seperti ini tidak berdakwah hanya dengan kata-kata atau sekedar mengutip ayat. Mereka benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan atau lakukan. Atau mereka berdakwah ‘bil hal’, dengan perbuatan. Tapi akhlaq, perbuatan maupun khazanah mereka semua sama: Al-Qur’an, Al-Haqq dan kebenaran, meski dari mulut mereka belum tentu terdengar mengutip, mendiktekan maupun ‘berdakwah’ Al-Qur’an kepada ummat di depan podium.
Comment #1350 by Herry — Monday, March 24, 2008 @ 14:41
Kurang lebih. Tapi bedanya, misi hidup bukan profesi (atau cita-cita) sebagaimana kita mengkotak-kotakkan profesi. Misi hidup adalah sebuah tugas, langsung dari Allah ta’ala kepada kita. Pengetahuan tentang ini diturunkan dari sisi-Nya pada saat kita meraih pengenalan diri dan pengenalan Allah. Ada spesifikasi dan ruang lingkup tugas tertentu, seperti di atas. Dan kita akan sangat mudah mengerjakan tugas itu, karena telah dimudahkan Allah ta’ala kepada si pengemban misi/mandat.
Misaln ada yang bertanya: ‘Ngapain sih, jadi penyair seperti Rumi?’ Lha kalau memang itu tugasnya, dan dengan melaksanakannya ia menjadi kekasih-NYa? Ia pun ‘dimudahkan’ dalam membuat syair: sambil tutup mata pun mulutnya mengeluarkan puisi, dengan kualitas yang luar biasa keindahan dan kedalamannya, dan masih menginspirasi orang hingga sekarang.
Comment #1351 by Herry — Monday, March 24, 2008 @ 14:43
Kata yang dibahas adalah ya’bud, na’bud, ‘abid, dst. Istilah Qur’annya, bukan terjemahan bahasa Indonesianya. Konteksnya.
Allah tidak ‘gila hormat’ sehingga menuntut penyembahan dan ’sesajen’ berupa ibadah dan amal. Dia menciptakan kita untuk mengabdi, atau menghambakan diri. Pengabdian yang hakiki di mata-Nya adalah menjalankan fungsi kita sebagaimana tujuan kita diciptakan-Nya. Ia tidak butuh kita berlaku ‘menyembah’ secara mekanistik saja tanpa tahu apa hakikat sebuah ‘penyembahan’ itu.
Minimal, tidak mengabdi pada syahwat dan hawa nafsu. Benar ayat dari mas adjipamungkas,
QS. 45 : 23. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya…?”
Comment #1352 by Herry — Monday, March 24, 2008 @ 14:44
Comment #1353 by Herry — Monday, March 24, 2008 @ 14:44
Setahu saya, Ibn Taymiyah menggunakan kata ’suluk’ untuk menggantikan kata ‘tasawuf’ karena dirasakan kurang cocok. Begitu Mas Herry?
Comment #1356 by Donny Reza — Monday, March 24, 2008 @ 17:03
Cakep Abis website nya mas.. Salam huwa, Olson 08161879804
Comment #1359 by OLSON OSMAN — Tuesday, March 25, 2008 @ 15:28
Terjawab dgn memuaskan pertanyaan2 saya di milis… tengkiu kang.
selanjutnya..untuk mengenal diri itu bagaimana?
Mungkin misi hidup kang herry berdakwah via internet…ya kang?
Comment #1360 by arnol — Tuesday, March 25, 2008 @ 16:56
Terima kasih tanggapannya. Sejak saya menulis pertanyaan itu malah muncul pertanyaan baru lagi yang buat saya penasaran untuk tau…pertanyaan baru dimana tempat tinggal jin?
Mudah2an tidak bosen menanggapi thanks.
Comment #1363 by wawan — Wednesday, March 26, 2008 @ 18:15
numpang coment lagi …mas wawan kok nanya masalah jin?
emangya ada pnampakan…
menurut pengalaman pribadi…mereka tinggal di sembarang tempat…(di mana aja menurut mereka nyaman dan layak di tinggali)pada dasarnya alam meraka dengan kita pararel kok cuma mata “jasad”aja yang gak ngeliat…tapi “ngeliat”mereka juga gak enak bahkan pada akhirnya sangat “menggangu”..mending ngurusin yang keliatan misalnya anak istri keluarga orang tua..pekerjaan paling top markotop mah ngurusin ibadah..n taubat kita..ocreee
spendek pengetahuan saya
Comment #1364 by adjipamungkas — Wednesday, March 26, 2008 @ 18:58
Tempat tinggal jin?
Mungkin deket tempatnya belalang sembah, mas…
Comment #1365 by Anonymous — Thursday, March 27, 2008 @ 01:49
Salam kenal untuk yg punya blog
Terimakasih atas pencerahannya…
Comment #1366 by cahragil — Thursday, March 27, 2008 @ 13:46
@ Olson Osman : Salam Huwa!
@ Arnol : Makasih juga. Misi hidup? Wallahu ‘alam. Masih nyari.
@ cahragil : salam kenal juga, semoga bermanfaat…
@ wawan: Di mana-mana.. seperti kata adjipamungkas.
Comment #1378 by Herry — Sunday, March 30, 2008 @ 21:22
kang herry.
ada kecenderungan saat ini terutama di kota-kota besar, dimana orang yg kelihatannya - katakanlah- zuhud atau yg sedang bersuluk, expressinya lebih kepada memelihara jenggot, low profil dan rajin ke pengajian, tetapi justru tidak tergerak untuk berprestasi atau - do not intend to fight for the top- di perusahaannya.
apakah aktualisasi diri itu sesuatu yg salah ? atau pemahamannya yg keliru ?
nuhun, kang !
Comment #1410 by krishna — Tuesday, April 8, 2008 @ 13:56
hmm….ijinkan daku nimbrung
expressinya lebih kepada memelihara jenggot, low profil dan rajin ke pengajian, tetapi justru tidak tergerak untuk berprestasi atau - do not intend to fight for the top- di perusahaannya.
Comment by krishna — Tuesday, April 8, 2008 @ 13:56…
jenggot ..ah gak juga mas ..banyak kok yang “bersih” malah di rajin bercukur!! cuma masalah “casing” jenggot bukan ukuran or parameter solehnya sesorang…(temen ane yang “preman” malah jenggotan biar pnampilan kayak”trio tenggulun”) low profil..yah..kan harus menjaga diri dari unsur unsur yang berbahaya bagi suluknya yaitu ujub riya..takabbur serta teman temannya.
syetan sudah mempersiapkan makar..untuk menyesatkannya di buatlah ketenaran..kekaguman …penghasilan…yang menggoda syahwat…untuk mengejar popularitas dan materi…atau di sesatkan dengan cara yang lain seperti menggoda syahwat spritualnya…
yang pada akhirnya akan menjauhkan para “pejalan”(salik atau para pengamal thasawuf) dari tujuan sebenarnya yaitu kembali pada Allah sang pencipta dengan kondisi yang di sucikan.
btw bukannya appresiasi or aktualisasi it’s bad idea..hanya kadang lebih mudah di hinggapi unsur berbahaya tadi…coba kalau pada awalnya wujud apresiasi itu di bangun dengan niatan menolong agama Allah…OH
nih ayatnya
QS.15 : 39-40. iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.
kalau pun mereka beraktualisasi “dakwah” cenderung kepada orang yang tepat (Orang orang yang benar-benar butuh..mau kembali ke Allah/taubat) dan di lakukan oleh orang..orang yang tepat juga ( ber Haq..punya ilmu dan pengetahuan )
Comment #1413 by adjipamungkas — Wednesday, April 9, 2008 @ 16:41
I Love this blog, I Love u too (pake L besar lho itu … hehehe)
Keep it up, bro!
Comment #1419 by mia — Thursday, April 10, 2008 @ 23:20
Thank you, mia!
same to you, sis!
Comment #1420 by Herry — Friday, April 11, 2008 @ 22:01
berkaitan dengan peran diri, ada buku bagus: “Mencari Nama Allah yang Keseratus” karangan Pak Muhammad Zuhri.
salaam …
Comment #1427 by mia — Monday, April 14, 2008 @ 20:26
Pak Muhammad Zuhry mencari nama Allah kesatus, yah… Gimana cara menemukannya kalau tak tertuliskan?
Comment #1429 by wawan — Monday, April 14, 2008 @ 22:25
wan, kalo mau tanya banyak, kenapa gak datangi saja rekan kami yang di makassar? UNM Elektro 2000 ya? Atau yang di yogya, kalo sekarang lagi di UGM.
Comment #1430 by Herry — Tuesday, April 15, 2008 @ 00:26
Terima kasih atas pencerahannya Mas Herry
Comment #1431 by Rozy — Tuesday, April 15, 2008 @ 08:55
Sama-sama, Rozy
btw, blognya bagus! zidaburika itu apa?
Comment #1432 by Herry — Tuesday, April 15, 2008 @ 10:16
alhamdulillah Mas Herry…zidaburika itu awalnya merupakan nama usaha kateringan milik kakak saya [masih dirintis sih kelangsungan hidupnya
], latinnya dari bahasa arab yg artinya kalo nggak salah “Bertambah berkahnya” dan saya gunakan karena senang dengan artinya tadi
Btw, Terima kasih atas kunjungannya dan salam silaturrahim.
Wassalam
Comment #1433 by Rozy — Tuesday, April 15, 2008 @ 10:44
Oh, saya tahu. Usaha katering dan wedding organizer, ya? Di bandung?
Comment #1434 by Herry — Tuesday, April 15, 2008 @ 11:14
Insya Allah…amin. Terima kasih Mas Herry utk do’anya. Tapi terus terang saya dan kakak saya beserta usaha katering ini bertempat di kota Batam
Comment #1435 by Rozy — Tuesday, April 15, 2008 @ 11:39
Oh, salah toh
Comment #1436 by Herry — Tuesday, April 15, 2008 @ 11:43
wah
, mas herry tak diragukan lagi…..kenal aq tapi qt belum pernah ketemu sebelumnya. Dijogja sapa yang bisa ditemui?
Comment #1440 by wawan — Tuesday, April 15, 2008 @ 20:06
saya kirim via mail ya.
Comment #1441 by Herry — Tuesday, April 15, 2008 @ 20:59
wah kang herry, saya juga mau contact personnya… T_T
berkenan enggak ya, sama saya ??
Comment #1449 by restlessangel — Friday, April 18, 2008 @ 00:32
mbak restlessangel ini di kota apa ya?
Comment #1450 by Herry — Friday, April 18, 2008 @ 07:10
saya di jogja, kang…
dan saya sgt berbesar hati akhirnya diterima FSnya….
Comment #1451 by restlessangel — Friday, April 18, 2008 @ 13:27
wis tak jawab ya…
Comment #1453 by Herry — Friday, April 18, 2008 @ 13:55
Comment #1478 by kavi — Tuesday, April 29, 2008 @ 00:25
salam buat kavi
mohon maaf, rujukan kavi bahwa suluk adalah pergantian dari mana yah…kalo boleh tahu…?.
tareqat atau tariqah atau tarekat..alias Tarikh (benar nggak sih penyebutannya ? ) sependek pengetahuan saya berarti : ” Jalan”.
Masalahnya di masyrakat awam dan disebagian aliran thasawuf tradisional masih ada wujud kerancuan mengenai terminologi- peristilahan aktivitas thasawuf dan sufi serta thariqah
Comment #1480 by adjipamungkas — Tuesday, April 29, 2008 @ 19:20
Selain itu, pada orang-orang yang memang telah menerima tugas dari Allah ta’ala (mengenal diri dan misinya) ada ruang lingkup dakwahnya sendiri, dan Allah sendiri yang menentukan.
Comment #1350 by Herry — Monday, March 24, 2008 @ 14:41
Mas herry, yang mau saya tanyakan, gimana caranya kita mengenal diri dan misi yg diemban oleh kita sendiri???

Sekarang kita seakan-akan ingin mendapatkan pengetahuan dari “Guru Ruhaniah”, tapi gmn caranya mendapatkan seorang guru sejati untuk kita teladani?? sekarang banyak yg mengatas namakan agama tapi akhirnya malah sesat
trs gmn dunk mas??
apa hanya orang2 pilihan Allah yg mendapatkan bimbingan dr guru sejati??
biar kita dipilih oleh Allah untuk jd hamba pilihanNya gmn caranya mas??
gmn caranya menTauhidkan dinul Islam didalam qulb kita mas??
maaf mas banyak nanya
Mudah2an salah satu dr orang yg beruntung menjadi pilihanNya termasuk kita , Amin…
diantos walerannana ya mas
Comment #1498 by Ahmad — Sunday, May 4, 2008 @ 20:12
من أجل ذالك كتبناعلي بني إسرائيل أنه من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الأرض فكأنما قتل الناس جميعا و من أحيا ها فكـأنما أحيا الناس جميعا
‘…Oleh karena itu, kami tetapkan atas Bani Israil bahwa siapa saja yang membunuh satu jiwa atau berbuat kerusakan di bumi laksana membunuh semua manusia dan siapa saja yang menghidupi satu jiwa laksana menghidupi semua manusia…’
Quran, Almaidah: 32
Comment #1513 by bahtiar — Monday, May 12, 2008 @ 17:54
Saya rasa Almaidah:32 itu merupakan salah satu misi bersama setiap kita. Tapi misi khusus setiap diri kita? Hanya diri bersangkutan yang tahu. Pertanyaannya: Bagaimana mengetahui misi pribadi itu? Ya harus tanya langsung ke Pemberi misi…disitulah letak jihad.
Comment #1514 by bahtiar — Monday, May 12, 2008 @ 18:01