Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Wednesday, March 5, 2008

Dulu, Dulu Sekali, Saya Pernah Mengalaminya

Posted by Herry @ 20:01 | in Renungan, Esai | e-mail this article | + to del.icio.us

Oleh Septina Ferniati, ibu dua anak, tinggal di Bandung.

dead of hunger

DENGAN si sulung Ilalang saya baru saja habiskan waktu berdua. Setelah dia tuntaskan PR-nya, dan saya sudah sangat capek menekuni terjemahan, kami berinisiatif cari makan. Bukan karena kami kebanyakan uang. Namun karena di rumah saya tidak masak banyak. Tahu tumis bawang jahe sudah habis sejak sarapan, siang pun diisi dengan acara makan spageti pemberian seorang teman istimewa. Jadi sore ke malam memang tidak ada apa-apa. Maka harus ke luar.

Meski gerimis, kami semangat. Saya susui dulu si bungsu yang baru enam belas bulan usianya, sampai tertidur. Ayahnya di rumah, tidur bareng dia. Lalu kami ke luar, agak jauh dari rumah, karena saya dan Ilalang ingin ke Surabi Imut.

Kami memesan tiga porsi surabi, tempe bacem bakar lima. Sebelumnya kami mampir beli yoghurt kesukaan kami berdua. Kami bawa makanan ke rumah dan makan dengan lahap. Semua habis, sampai kemudian berita Daeng Basse yang mati kelaparan bersama bayinya sampai ke telinga.

Semangat saya langsung turun. Saya ingat rasanya kelaparan. Saat itu terjadi, tubuh terasa lumpuh, tak mampu bergerak. Semua terasa ngilu dan kelu. Jemari bergeletar, mata berkunang-kunang. Rasanya tubuh bisa melayang tanpa beban. Semua suara yang sampai ke telinga kita terdengar amat intens, bahkan desir angin terhalus sekalipun takkan luput dari pendengaran. Ada rasa sakit yang dahsyat di rongga perut, diimbangi kemampuan melihat dan mendengar melampaui batas. Ada kenikmatan tak terperi di tengah nyeri tak terkira. Begitulah saya mendefinisikan kelaparan.

Dulu, dulu sekali, saat masih kuliah, saya pernah mengalaminya. Tubuh sudah sulit digerakkan. Doa sudah dipanjatkan, saya bersiap. Rasanya sudah mau mati saja. Perut saya sudah dekok. Rasanya melilit, sakit sekali. Saya berdoa dan berdoa. Tak lama sayup-sayup terdengar suara orang. Saya kira suara malaikat. Ternyata memang ada yang datang. Saya tak sanggup membuka pintu. Bahkan lupa pintu dikunci atau tidak. Orang yang datang lalu membopong saya. Semua terasa melayang. Saya tetap berdoa. Dengan bibir pecah teramat parah (hingga berdarah), saya mencoba tanya siapa penolong saya. Ketika membuka mata saya sadar sedang ada di dipan pemeriksaan dokter. Cairan di tubuh saya diambil. Dokter dan penolong saya berbicara dengan suara rendah.

Saya menderita kekurangan gizi akut, atau gizi buruk. Tubuh saya hanya 36-37 kg, paling banter 38. Saya kurus sekali, seperti sudah tua, padahal usia masih awal 20-an. Pak Mammukat, nama penolong saya itu menyuapi saya bubur encer, agar bisa pulih dulu. Beliau membekali banyak bahan makanan, juga uang, sampai saya kuat dan bisa kembali kuliah. Dari hasil lab, saya terkena sejenis virus cukup berbahaya yang membuat haid saya terhambat hampir dua tahun lamanya. Semua bermula dari gizi yang buruk. (Saking seringnya menghemat, sampai-sampai makan mie instan seminggu empat kali).

Sebenarnya saya tinggal dengan saudara yang berkecukupan. Tetapi waktu kejadian lapar itu, mereka sedang berjuang hidup di negeri orang dalam waktu lama. Uang saku lama-lama habis juga. Saya sering malu jika butuh uang lagi, karena sudah merasa sangat merepotkan. Sudah disekolahkan, masih minta-minta pula.

Untunglah kini saya hidup cukup baik. Setidaknya tawaran kerja masih mengalir. Itu membuat saya merasa cukup. Pernah sih, kami benar-benar habis uang. Anehnya ASI saya tetap bagus dan lancar, padahal hanya makan nasi garam dari pagi sampai sore. Yang tersulit adalah menjaga keyakinan atau optimisme, bahwa rejeki bakal selalu ada. Menjelang maghrib, pintu diketuk tetangga yang rumahnya agak jauh, yang baru saja selamatan nujuh bulanan. Dia bilang, “Ke orang lain saya hanya bawa satu besek, entah kenapa ke Lalang kok bawa dua.” Kami tertawa. Saya merasa doa saya dikabulkan. Mungkin naif, tapi Tuhan memang Maha Mendengar. Ora sare, kata orang Jawa. Besoknya suami memutuskan melelang kaset-kasetnya. Setelah itu kami bisa hidup agak lapang.

Berat sekali mendengar dan menyaksikan berita mengguncangkan ini. Urusan Daeng Basse di dunia sudah selesai, memang. Namun selamanya beberapa di antara kita akan terus dihantui perasaan malu karena berdalih dia mati akibat dehidrasi. Saya seorang ibu, seorang manusia. Meski kemanusiaan saya masih sering karut marut oleh banyaknya kesalahan yang saya lakukan, rasanya ini keterlaluan sekali.

Melihat sekilas gambar Daeng Basse yang mayatnya ditutupi kain, saya menangis. Rasanya campur aduk. Perut saya baru saja terisi yoghurt, surabi dan tempe bacem sambel, sedangkan di sudut sana, seorang perempuan sedang hamil dan bayinya harus meregang nyawa setelah kalah melawan lapar. Si sulung tanya, “Bu, kalau matinya kelaparan gitu, apa bisa masuk surga?” Saya tersengal, tersendat menyahut, “Ya, bisa.” Kami sama-sama diam. Lalu tanyanya lagi, “Kita juga pernah kan bu kelaparan? Untung ya bu, kita diselamatin Allah.” Dia tersenyum, wajahnya terlihat sedikit lega. Saya matikan TV. Hati saya menjerit lagi, entah kenapa. Barangkali karena saya merasa, Daeng Basse tanpa sengaja luput dari penyelamatan oleh….

Entahlah, wallahu’alam bisshawab. Tuhan pasti tahu. Gusti Allah ora sare, nak.
[]

* Sketsa oleh Herry Mardian.

«« Previous Post
'Cinta'
       
 

 

9 Comments - (Give Comment) »

  1. Thank you God for giving me a chance to know this story :cry:

    Comment #1300 by dimas — Wednesday, March 5, 2008 @ 23:13

  2. bener nih ceritanya???

    Comment #1301 by wadiyo — Thursday, March 6, 2008 @ 09:52

  3. bener mas..
    banyak di koran-koran..
    realitas jadi makin miris .. mirisnya kalo itu cerminan dari realitas kita juga..
    semoga Allah mengampuni dosa kita semua..

    Comment #1307 by siska — Monday, March 10, 2008 @ 16:12

  4. Duka Daeng Basse adalah duka kita semua…

    To Mas Herry, saya mo bilang, posting mas Ferrari di sebuah forum mengenai sebuah buku percintaan, belum lama ini, telah saya print untuk dibaca anak-anak agar tak mudah “tertipu”, posting yg bagus sekali.Thanks telah menyuarakan apa yang ingin saya sampaikan :grin:

    Comment #1308 by kwak kwik kwek — Tuesday, March 11, 2008 @ 17:53

  5. Posting Mas Ferrari itu posting yang mana ya mbak? Dan tentang apa? Forum yang mana?

    Saya belum nyambung nih :smile:

    Comment #1309 by Herry — Tuesday, March 11, 2008 @ 20:07

  6. sediih bangettt yah ….
    *pdhal didepan mataku sekarang lagi ada pringles & burger jd gak nafsuu….. :cry:
    btw salam kenal mba…… :smile:

    Comment #1312 by qyusha — Wednesday, March 12, 2008 @ 16:29

  7. jadi ga begitu ngrasa sedih lagi…saya juga lapar tapi alhmdulh masih ada uang 2000 di saku…masih bisa bikin mie…moga2 ga kena gizi buruk ya….(saya sering banget makan mie lho ga cuma 4 kali seminggu)

    Comment #1367 by tysa — Thursday, March 27, 2008 @ 20:22

  8. Jd ingat cerita seorang bapak pemulung dan anak lakinya yg mendorong mayat adik perempuannya utk pulang dimakamkan. Katanya adiknya meninggal sakit. Diare? Pdhl bs ditolong dg oralit.

    Sedih ketika sesuatu hal luput pdhl harusnya bs diselamatkan dg relatif mudah.

    Comment #1372 by Khairulu — Saturday, March 29, 2008 @ 08:42

  9. :cry:

    Ceria yang menggugah kalbu…
    Saya izin untuk kopi & edarkan…

    Comment #1511 by abuafkar — Sunday, May 11, 2008 @ 04:53

 

Give Comment





 


:smile: :grin: :lol: :wink: :cool: :oops: :mrgreen: :???: :sad: :cry: :roll: :shock: :eek: :neutral: :razz: :mad: :evil: :twisted: :!: :?: :arrow: :idea:
 

• Just click ONCE. If your comment doesn't show up immediately, it MAY be moderated.

• Line breaks automatically. To set new paragraph, hit [enter] TWO times.

• Your e-mail address will not be displayed in comments to prevent unwanted mail invading your e-mail account.

• Some HTML codes is allowed : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

 

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites