Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Thursday, August 2, 2007

Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis

Posted by Herry @ 00:44 | in Artikel | e-mail this article | + to del.icio.us

Oleh Herry Mardian

SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat ‘Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan ‘yang manis-manis’? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah ’sunnah Nabi’. Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.

Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa ‘disunnahkan’ minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis.

Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa ‘manisan kurma’, bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan ekspornya. Jadi, kalau mau mengikuti sunnah Rasulullah, sebisa mungkin carilah kurma yang tanpa ditambahkan kandungan gula. Caranya? Nggak tau. Metik dari pohonnya, ngkali?

Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?

Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.

Mari kita bicara ‘indeks glikemik’ (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.

Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya), sehingga respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah ‘ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau. Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia adalah ‘manisan kurma’, bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.

Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga rendah.

Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa.

Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat seperti ‘buah pir’, penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah ’sunnah’, maka puasa bukannya malah menyehatkan kita. Banyak orang di bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas, maka efeknya ‘rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.’

Ingin ‘Kurus’

Melenceng dikit dari topik blog ya. Dikit aja. Itung-itung bonus.

Untuk sahabat-sahabat yang ingin kurus: jangan diet (dalam pengertian mengurangi frekuensi makan). Diet justru menambah kecenderungan tubuh untuk menabung lemak karena ‘dilaparkan’. Ketika diet memang makanan tidak masuk, tapi begitu makanan masuk, kecenderungan tubuh untuk menimbun lemak dari makanan justru lebih besar.

Rahasia kurus sebenarnya adalah menjaga agar respon insulin dalam tubuh stabil, tidak melonjak-lonjak. Caranya, hanya makan makanan yang memberi respon insulin rendah, yaitu yang indeks glikemiknya rendah.

Respon insulin tubuh meningkat bila:

(1) Makin tinggi jumlah karbohidrat yang dimakan dalam satu porsi, makin tinggi pula respon insulin tubuh (ini umumnya porsi kita di Indonesia: lebih dari 70 persen dari satu porsi makannya adalah nasi).

Makanya, makanlah dengan karbohidrat cukup lima puluh persennya saja. Sisanya protein, dan 5-10 persennya lemak. Lemak ini cukup dari lemak yang terkandung dalam daging yang kita makan, misalnya. Atau kuning telur. Tidak perlu menambah minyak atau memakan lemak hewan (yang justru buruk pengaruhnya bagi tubuh). Lemak (sedikit!) masih diperlukan untuk mengolah beberapa nutrisi dan vitamin, dan untuk membawa nutrisi ke seluruh tubuh.

(2) Semakin tinggi GI (Glycemic Index) karbohidrat yang dikonsumsi, semakin meningkat pula respon insulin tubuh. Makanya, makan hanya makanan yang GI-nya rendah. Nanti saya jelaskan di bawah.

(3) Semakin jarang makan, semakin meningkat respon insulin setiap kali makan.

Ini sebabnya diet (dalam pengertian: mengurangi frekuensi makan supaya kurus) tidak akan pernah berhasil untuk jangka lama. Setelah diet selesai, tubuh justru akan cenderung lebih gemuk dari sebelum diet. Supaya kurus (baca: supaya respon insulin tidak melonjak) justru harus makan lebih sering (4-5 kali sehari) tapi dengan porsi setengah atau sepertiga porsi biasa, dengan karbohidrat maksimal 50 persen saja setiap porsi.

Kalau respon insulin tubuh sudah stabil, maka tinggal diatur: kalau ingin kurus, kalori yang masuk harus lebih sedikit dari kalori makanan yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari hari. Tambah dengan olahraga teratur untuk membakar lemak berlebih dalam tubuh, dan memperbesar otot. Otot membutuhkan energi, maka makin terlatih otot, ia akan makin mengkonsumsi lemak dalam tubuh kita untuk energi.

Sebaliknya kalau ingin memperbesar otot (bukan gemuk) atau mengencangkan badan, maka kalori yang masuk harus agak lebih banyak dari jumlah kalori yang akan kita pakai untuk aktivitas selama sehari, agar otot mengalami pertumbuhan. Otot sendiri dirangsang pertumbuhannya dan ‘kekencangannya’ dengan olahraga teratur. Perbanyak protein agar pertumbuhan otot optimal. Karbohidrat cukup diposisikan sebagai bahan pemberi energi, bukan untuk mengenyangkan perut.

Lucu ya: kalau ingin kurus atau memperbaiki bentuk badan, termasuk menumbuhkan otot, justru harus makan lebih sering dengan porsi kecil. Makan yang mengandung lemak, goreng-gorengan, kanji, atau karbohidrat sederhana seperti gula, manisan, minuman ringan bersoda dan sebangsanya itu sudah out of the question. Kalau kita jarang makan, atau makan tidak teratur dan sekalinya makan ‘balas dendam habis-habisan’, ya justru respon insulin kita juga melonjak dan membuat tubuh jadi menimbun lemak.

Sekali lagi, baik ketika berbuka puasa atau dalam makanan keseharian, makanlah makanan yang seimbang: 50 persen karbohidrat kompleks, 40-45 persen protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap porsinya. Jauhilah karbohidrat sederhana sebisa mungkin. Kalaupun harus makan karbohidrat sederhana karena butuh energi cepat carilah yang nilai indeks glikemiknya rendah.

Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh menjadi energi. Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan dan tenaga diperoleh sedikit demi sedikit. Dengan demikian, kita tidak cepat lapar dan energi tersedia dalam waktu lama, cukup untuk aktivitas sehari penuh. Sebaliknya, karbohidrat sederhana menyediakan energi sangat cepat, tapi akan cepat sekali habis sehingga kita mudah lemas. Maka, ketika makan sahur, jangan makan yang banyak mengandung gula, karena kita akan cepat lemas. Makanlah karbohidrat kompleks (protein jangan dilupakan!) sehingga kita tetap berenergi sampai waktu berbuka.

Karbohidrat sederhana, GI tinggi (energi sangat cepat habis, respon insulin tinggi: merangsang penimbunan lemak) adalah: sukrosa (gula-gulaan), makanan manis-manis, manisan, minuman ringan, jagung manis, sirop, atau apapun makanan dan minuman yang mengandung banyak gula. Hindari, puasa atau tidak puasa.

Karbohidrat sederhana, GI rendah (energi cepat, respon insulin rendah): buah-buahan yang tidak terlalu manis seperti pisang, apel, pir, dan sebagainya. Sekarang ngerti kan, kenapa para pemain tenis dunia, pemain bola, pemain basket atau pelari sering terlihat ‘ngemil pisang’ di pinggir lapangan? Karena mereka butuh energi cepat, tapi nggak ingin badannya gembul berlemak.

Karbohidrat Kompleks, GI tinggi (energi pelan-pelan, tapi respon insulinnya tinggi): Nasi putih, kentang, jagung.

Karbohidrat Kompleks, GI rendah (energi dilepas pelan-pelan sehingga tahan lama, respon insulin juga rendah): Gandum, beras merah, umbi-umbian, sayuran. Ini yang paling dicari para praktisi fitness.

Makanan yang diproses pelan-pelan (karbohidrat kompleks) akan membuat kita tidak cepat lapar dan energi dihabiskan cukup untuk aktivitas satu hari penuh; respon insulin rendah membuat tubuh kita tidak cenderung untuk menabung lemak.

Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah gula sedikiiiiiit), atau roti coklat gandum, dua atau tiga butir telur rebus (kuningnya saya hancurkan dan ditebarkan di rumput untuk makanan semut-semut di halaman rumah), sayuran segar, dan air putih. Ini sudah cukup untuk membuat tenaga saya tidak habis sampai buka puasa karena energi dari karbohidrat kompleksnya (gandum) akan dilepas pelan-pelan ke dalam tubuh sepanjang hari. Ketika berbuka, sesuai anjuran Rasulullah dan sufi tadi, saya biasanya minum segelas air, lalu shalat maghrib. Setelah shalat makan nasi seperti biasa, sebisa mungkin dengan porsi karbohidrat-protein-lemak-air proporsional. Dan tentu tidak untuk ‘balas dendam’ karena puasa seharian. Ini justru saat yang penting untuk melatih melawan keinginan hawa nafsu ‘makan sekenyang-kenyangnya’. Belajar sabar.

Waham Umum

Oke, kembali ke topik. Nah, saya kira, “berbukalah dengan yang manis-manis” itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat. Yang jelas, ‘berbukalah dengan yang manis’ itu disosialisasikan oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin juga para sahabat yang lain, ingin sekali tahu.

Semoga tidak termakan waham umum ‘berbukalah dengan yang manis’. Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa dulu kebenarannya.

Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: “Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang.” Juga, isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan kosong.

“Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang,” kata Rasulullah.

“Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma’di Kasib)

Semoga bermanfaat….

Wassalaamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Herry Mardian, Yayasan Paramartha

Terima kasih kepada Abdul Saman, Dian Novi, Imam Suhadi, Muhammad Sigit, Zaenal Muttaqin, Efi Hanafi, Rahmat Sudarsono dan Melissa Rosanti atas segala ’stimulus’-nya sehingga muncul artikel ini.

«« Previous Post
'Bangkit Dari Keterpurukan'
       
 

 

75 Comments - (Give Comment) »

  1. Eeh :eek: gue salah masuk website ya!? kok tiba-tiba ada panduan untuk fitness dan diet…

    Comment #913 by Rachmat Ardiyanto — Thursday, August 2, 2007 @ 01:07

  2. dikiiit! :mrgreen:

    Comment #914 by Herry — Thursday, August 2, 2007 @ 01:12

  3. culik ah..

    Comment #921 by gina — Thursday, August 2, 2007 @ 15:32

  4. ambil, gin! :mrgreen:

    Comment #922 by Herry — Thursday, August 2, 2007 @ 15:33

  5. Mas Herry Mardian,

    “Tidurnya orang berpuasa berpahala”.
    Orang yang sedang tidur layaknya seperti orang mati, perbedaannya: ada nafas dan tidak ada nafasnya, persamaannya: sama-sama tidak punya hawa nafsu, kecuali tidurnya orang yang mimpi basah (mungkin).
    Maaf melenceng dari topik.
    Kalau seseorang meng-idola-kan makanan berbuka puasa padahal waktu itu belum saatnya untuk berbuka puasa, apakah hal ini mengumbar hawa nafsu?

    Pada bulan Ramadhan ada ’satu malam’ dan ’satu rasa’ yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang, tapi kebanyakan melupa atau terlupa bahkan lupa.. apakah Mas Herry pernah mengalami ‘lailatul qadr’ dan ‘fitri’ (bukan ‘idul fitri’ loh)?
    Terimakasih sebelumnya, juga atas responnya yang begitu cepat pada topik Bangkit Dari Keterpurukan.
    Rageh.

    Comment #923 by Rageh — Thursday, August 2, 2007 @ 15:42

  6. Diskusi panjang lebar begini, nanti jangan salah ’setting’ kalau menyuguhkan makanan saat buka puasa atau halal bihalal.

    Saya maklum bahwa banyak ibu-ibu yang sangat bersemangat menghidangkan kolak-kolak yang lezat, kue-kue yang mengundang selera dan makanan-makanan lain yang sulit ditolak — bahkan oleh akal sehat sekalipun.

    Jadi, mohon kiranya ada yang mau memberi pengertian kepada para ibu-ibu: “bukan maksud hati menolak pemberian, tapi masalahnya jika sudah terhidang kami pasti kehilangan akal sehat”. :grin:

    Saya menyinggung tentang halal bihalal, karena hal itu pun disinggung oleh Al-Ghazali. Secara umum, “buka puasa” itu mengandung dua pengertian: berbuka saat maghrib, dan berbuka diakhir Ramadhan (syawal).

    Soal makanan untuk berbuka, bukan hanya harus menghindari makanan yang manis-manis, Al-Ghazali juga menekankan adab agar puasa itu bisa berhasil. Berikut diantaranya:

    - Tidak makan berlebihan
    - Tidak makan makanan yang berbeda dari hari-hari diluar puasa.

    Dalam sebuah pengibaratan, hawa nafsu dan syahwat itu seperti binatang buas. Puasa itu adalah jalan untuk memperlemah kekuatan binatang-binatang buas tersebut di dalam diri kita. Tetapi apa jadinya bila setelah seharian binatang-binatang buas tersebut dibiarkan lapar seharian (atau sebulan penuh), lalu kita suguhkan makanan-makanan yang menjadi kesukaannya secara berlebihan atau lebih enak?

    Menurut Al-Ghazali, yang terjadi bukannya binatang-binatang buas itu semakin lemah, malah selepas puasa kebuasan binatang-binatang tersebut makin menjadi-jadi.

    Jadi, ingat-ingat yang kita makan hari ini, nanti jangan lupa saat buka puasa atau syawal maksimal seperti itulah hidangan yang kita santap.

    Salam,
    ~zaenal

    Comment #925 by Zaenal — Thursday, August 2, 2007 @ 23:21

  7. Reminder yang bagus, zae… Terutama permisalan dari Al-Ghazali. Baru nyadar….

    Makasih :wink:

    Comment #926 by Herry — Friday, August 3, 2007 @ 00:14

  8. @ Rageh:

    Kalau seseorang meng-idola-kan makanan berbuka puasa padahal waktu itu belum saatnya untuk berbuka puasa, apakah hal ini mengumbar hawa nafsu?

    Mengumbar hawa nafsu bukan ya? Yang jelas itu termasuk ‘berpanjang angan-angan’: hawa nafsu terikat tapi diiming-imingi sesuatu yang nikmat. Seperti komentar Zaenal di atas, menurut Al-Ghazali puasa ibarat mengurung hewan-hewan buas hawa nafsu kita. Lha, kalau selama dikurung hewan-hewannya malah diiming-imingi makanan-makanan lezat (padahal mereka tidak dapat menyentuhnya), bukannya tambah jinak malah tambah liar dong nanti… Pas kurungannya dibuka, kelaparan mereka akan meledak dan malah kita yang dimakan :wink:

    Jadi fungsi puasa untuk menjinakkan hawa nafsu ya gagal…. puasa seharusnya sampai ke batin, bukan sekedar menahan haus dan lapar jasadiyah..

    Makasih :wink:

    Comment #927 by Herry — Friday, August 3, 2007 @ 00:21

  9. Pantesaaaannn… Saya mau kurus gak bisa2x, ituuuu toohh penyebabnyaaaa :D Makasih yah Mas Herry buat artikelnya, bagusss banget…

    Comment #933 by ekSi — Saturday, August 4, 2007 @ 22:56

  10. Makasih kembali, eksi :mrgreen:

    Comment #934 by Herry — Sunday, August 5, 2007 @ 02:06

  11. mas email ku nyampe nggak soal tadi ada gangguan
    hatur nuhun

    Comment #935 by s — Monday, August 6, 2007 @ 02:45

  12. Nggak nyampe tuh. Tapi yang sebelumnya sudah saya reply ya.

    Comment #936 by Herry — Monday, August 6, 2007 @ 07:41

  13. tulisannya bagus
    udah itu aja

    Comment #937 by Ayuk — Monday, August 6, 2007 @ 14:24

  14. Terimakasih Mas Zaenal Mutaqqin!

    Mas Herry Mardian: Kapan ya keluar artikel Isra’ Mi’raj? Beberapa buku menjelaskan kejadian tersebut; berusaha ilmiah, tapi malah membingungkan logika akal-pikir? ‘Barat’ yang sarat logika akal-pikir (tanpa bathin) menganggapnya sebagai bualan.. padahal ‘ilmu-nya’ (anggap) memadai, bahkan beberapa ‘orang’ menyuruh menerima cerita tersebut sebagai apa adanya tanpa memberikan pencerahan, telan.. telan dan telan!
    Terimakasih.
    Rageh.
    (di atas ada yang belum dijawab loh: lailatul qadr - fitri)

    Comment #938 by Rageh — Monday, August 6, 2007 @ 16:34

  15. matur nuwun kang herry mbantu mata ini jadi tidak merem

    salaam jumpaa!

    wah bener dech soalnya udah mbuktiin bahwa biang perut dan pipi tembem itu terutama minuman manis-manis yg tdk disadari (biarpun makan udah dikiit karbohidrat)

    ada koreksi buah kurma itu dari sononya kalau masak jadi manis tidak dijadikan manisan (coba tanam bijinya!.. akan tumbuh) cuma yg beredar udah kelewat masak/lembek itu yang menurunkan nilai gizi dan karbohidrat kompleksnya sudah banyak terurai

    trims

    Comment #939 by mb toro — Tuesday, August 7, 2007 @ 15:14

  16. Assalamualaikum…

    Mass’.. please bantu saya :

    menundukkan hati..
    beraktifitas keseharian yang tanpa riya/pamer /ujub / sombong/ dll… meskipun di dalam hati

    ( saat menulis inipun sempat terlintas rasa ingin pamer saya. walaupun saya duduk diam di depan keyboard).. maaf

    semoga berkenan membalasnya ke email saya
    terima kasih

    didik rohmawan

    Comment #940 by didik rohmawan — Tuesday, August 7, 2007 @ 16:22

  17. knapa ya aku ga gemuk2, pdhl kyknya pola makanku termasuk yang “sering dan 50% karbo (nasi/kentang/jagung)”,walopun emang minus olahraga sih :lol:
    ada yang bilang kalo aku tuh kurang asupan lemak (kolesterol rendah?) hmmm… thx anyway artikelnya ya mas
    salaam

    Comment #943 by ica — Wednesday, August 8, 2007 @ 05:59

  18. Mungkin kalori makanannya nggak surplus untuk pertumbuhan otot, ca, energi makanannya pas habis untuk aktivitas satu hari. Mungkin impas, atau malah kurang. Kalau makannya sudah teratur, energi dari karbohidrat kompleksnya tambah dikit-dikit sampai terasa kenaikan berat badan.

    wa salaam.

    Comment #949 by Herry — Friday, August 10, 2007 @ 01:25

  19. To mas Didik:

    Secara umum, obat penyakit hati itu ada dalam lagu “Tombok Ati” yang suka dinyanyikan Opick.

    Tombok Ati
    ———-
    Tombo ati iku limo perkarane
    Kaping pisan moco Quran lan maknane
    Kaping pindo sholat wengi lakonono
    Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
    Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
    Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

    Salah sawijine sopo bisa ngelakoni
    Mugi-mugi gusti Allah nyembadani

    Obat hati ada lima perkaranya
    Yang pertama baca Quran dan maknanya
    Yang kedua sholat malam dirikanlah
    Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
    Yang keempat perbanyaklah berpuasa
    Yang kelima dzikir malam perbanyaklah

    Salah satunya siapa bisa menjalani
    Moga-moga Gusti Allah mencukupi

    Comment #953 by Zaenal — Sunday, August 12, 2007 @ 13:25

  20. ciamek can !

    Comment #974 by shukov — Saturday, August 18, 2007 @ 23:38

  21. wah….seneng banget dapet ilmu baru. BAru nyadar kalo ternyata selama ini saya termasuk korban propaganda iklan. KAdang saya suka ngerasa bersalah kalo buka puasa langsung makan nasi hehehe….artikel nya bagus banget :)

    Comment #981 by eva — Thursday, August 23, 2007 @ 11:11

  22. Mohan pencerahan………..

    Masalahnya kalo puasa tuh, saya biasanya cepet terserang penyakit ( seperti batuk,pilek, sariawan, susah buang air ) jadi kalo pas buka tuh harus makan yang lebih bergizi, jadi ga bisa sama antara makan hari biasa dengan makanan di bulan puasa ? Gimana donk ? saya tunggu jawabannya yah, Mas Herry :sad:
    makasih…..

    Comment #982 by putri — Thursday, August 23, 2007 @ 11:27

  23. kalo lebih bergizi ya gak apa… bagus malah. maksud Al-Ghazali dengan ’sama’ itu tidak memakan-makanan berlebihan yang seperti makanan pesta ketika buka puasa. Bukan berarti kalau diluar ramadhan asupannya kurang bergizi, maka di ramadhan tidak boleh yang lebih bergizi :)

    Btw gejala batuk-pilek-sariawan-susah bab, kok seperti gejala kurang minum ya… coba setiap buka minum air putih dulu dua/tiga gelas, lalu shalat maghrib. Juga, biasakan setiap bangun pagi, sebelum ngapa-ngapain, hal pertama yang dikerjakan adalah minum dua gelas air putih, kemudian shalat subuh.

    Comment #983 by Herry — Thursday, August 23, 2007 @ 12:22

  24. @ Eva: minum air putih dulu segelas/dua gelas. shalat maghrib, baru makan nasi.

    Comment #984 by Herry — Thursday, August 23, 2007 @ 12:24

  25. jangan lupa makan kurma dulu ama jangan yang pedes2 yach :D oh iya, buat bang Mardian, saya add alamat blog mas Mardian yg ini di blogroll saya, boleh?

    Wassalam,
    G

    Comment #988 by Gijet — Friday, August 24, 2007 @ 04:02

  26. bukannya udah beberapa hari ngelink ya? :smile: ya boleh lah. Udah saya add juga di ’suluk friends’ kok.

    Comment #989 by Herry — Friday, August 24, 2007 @ 07:33

  27. Assalamu ‘alaikum……….

    Jazakillah atas jawabannya ….
    Trus, aku mo tanya, kalo kurma yang dijual di supermarket kemasan kardus dan ada batangnya ( harga lumayan ) itu kurma asli yah ? paling ga mendekati lah atau tanpa pemanis/gula!
    Ga tau kenapa yah, buka pusa tanpa kurma gimana gitu….
    Mungkin dah kebiasaan kali yah….

    Comment #992 by putri — Friday, August 24, 2007 @ 14:06

  28. @Putri

    kalo saya sih pokoknya makan kurma, gak ngurus mo asli apa palsu :razz: soalnya kalo menurut saya yg asli tuh yach yg masih dipohonnya kekekeke :mrgreen: :mrgreen:

    @Herry

    tul, emang dah di link beberap hari hihihihihih :mrgreen: :mrgreen: sorry, eh makacih gt degh :eek:

    Comment #1001 by Gijet — Wednesday, August 29, 2007 @ 04:29

  29. Terima kasih atas artikelnya yang menarik.
    By the way menurut pandangan saya gula sederhana tetap diperlukan untuk menaikkan kadar gula karena long fasting menimbulkan penurunan kadar gula yang turun ( hipoglikemia lebih bahaya ketimbang hiperglikemia). Low GI dan karbohidrat komplek adalah pilihan terbaik. Mungkin yang perlu diwaspadai adalah sering umat Islam lapar mata bukan lapar perut sehingga ingin semua dimasukkan ke dalam perut dan lupa nasihat Rasulullah bahwa berhenti makan sebelum kenyang. Perubahan lifestyle kita yang sedentary membuat low activity dan makanan yan gberkalori tinggi. Kalo dalam program diet tentu kita akan berpatokan pada aktivitas dan kalori. Nah mungkin yang penting adalah makanan seperti nasi gak papa asalkan jumlahnya tidak lebih dari kalori yang dihasilkan. Makanan diet memang 4-5x/hari dengan pembatasan karbohidat agar mengurangi resistensi insulin. Ha ha..tapi kenap kuning telor anda taburkan kan mubazir deh hehe. Nggak usah takut kolesterol asalkan HDL anda baik dengan makanan yang kaya HDL…Salam kenal. Assalamualaikum

    Comment #1002 by Kobal Sangaji — Wednesday, August 29, 2007 @ 17:46

  30. wa alaikum salaam, salam kenal juga, mas kobal :) merah telor itu sedekah untuk semut, hehehe… setiap tiga telur, dua kuningnya untuk mereka. saya cukup satu saja ;)

    Comment #1004 by Herry — Thursday, August 30, 2007 @ 13:35

  31. Subhanallah…

    terbukti lagi Allah Maha Adil…. di negeri padang pasir yang miskin tumbuhan dan tanaman, Allah justru menurunkan satu buah yang kaya akan nutrisi dan zat-zat penting buat tubuh. Satu jenis buah kurma bisa menandingi kumpulan beberapa jenis buah dan tumbuhan dari daerah tropis sekalipun.

    Yang kedua, terbukti lagi anjuran nabi kita alaihissholatu wasallam.. “makanlah sebelum kamu lapar, dan berhentilah makan sebelum kamu kenyang”.

    Persis dengan saran “Ingin Kurus” pada tulisan di atas.. makan yang sering dan tidak terlalu banyak. Dengan kata lain, kondisi “sebelum lapar” tercapai, kondisi “sebelum kenyang” juga terpenuhi.

    Comment #1008 by Iwal — Thursday, August 30, 2007 @ 15:35

  32. berbuka yang manis terus neh udah sebulan, makna neh bedahan shaum, I’m so thirsty

    Comment #1014 by hanggono — Wednesday, September 5, 2007 @ 13:31

  33. Assalamu’alaikum

    Mas Herry, saya print artikelnya ya Mas, buat teman-teman yang nggka punya internet.

    Agung

    Comment #1015 by Agung Wibowo — Wednesday, September 5, 2007 @ 13:48

  34. :???:
    Artikel yang menarik.
    Om, saya comot artikelnya ya, buat di bagi ke tetangga.

    Comment #1016 by fakhri — Thursday, September 6, 2007 @ 10:17

  35. mas herry boleh saya tahu darimana asal artikelnya?

    terutama tentang statement:

    “Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.”

    setahu saya kurma asli lebih banyak mengandung monosakarida (glukosa dan fruktosa)

    jazakallah b4

    Comment #1017 by amir — Thursday, September 6, 2007 @ 16:55

  36. mas…ngulangin ijin comot, artikele udah tak kopas dibagi untuk sodara n temen temen…mungkin dulu ijinku keputus pas telkomnet instane down alias DC. ini ijin lagi..
    matus tengkyu
    Wasalam :lol:

    Comment #1019 by tonick — Saturday, September 8, 2007 @ 00:39

  37. mas mbok dibahas tentang hipnosis ato nlp dr segi sufi

    Comment #1020 by heksayadi — Saturday, September 8, 2007 @ 12:00

  38. menarik sekali tulisanya, menambah wawasan,btw ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan/komentar :
    setahu saya utk break fasting ada kondisi semacam hipoglikemi dalam darah shg diperlukan energi yang diperoleh secara cepat ,utk segera memenuhi kebutuhan jaringan/sel akan energi (syaraf dan erythrosit misalnya), yang itu diperoleh dari bentuk monosakarida (glukosa , fruktosa).kalo dirumah sakit kalo tdk salah pada pasien diabetes mellitus yang mengalami hipoglikemia utk terapinya malah diberikan glukosa 40 % bolus malah.kalo utk menu makan sehari hari dalam kondisi normal kita hindari makanan manis saya setuju, tapi dalam kondisi pasca puasa apakah juga sama?
    kalo yang dikhawatirkan adalah penimbunan lemak akibat respon insulin yang cepat saat berbuka puasa, pertanyaan saya adalah apakah jumlah gula sederhana yang masuk cukup signifikan jumlahnya(misal setengah gelas air gula, utk membatalkan /berbuka puasa, lalu sholat magrib) sehingga sempat sampai ditimbun menjadi lemak, krn kalo tdk salah penimbunan lemak baru terjadi bila energi yang diperlukan jaringan sdh berlebihan sehingga gula yang ada akan disimpan dalam bentuk glikogen /lemak.kalo utk dinnernya, lain lagi persoalan. terimakasih.

    Comment #1023 by ina sulistyani — Tuesday, September 11, 2007 @ 06:56

  39. mas Herry,
    ijin print artikelnya ya….jazzakallah…

    Comment #1027 by Anonymous — Wednesday, September 12, 2007 @ 14:47

  40. Setujuu…
    Ijin “nyomot” artikel bharga ini, n ‘met puasa Ramadhan, Mas :grin:

    Comment #1028 by Mommy Arya&Kinan — Wednesday, September 12, 2007 @ 15:26

  41. Assalaamu’alaykum,

    Silakan kunjungi tanggapan berikut:

    http://aridha.multiply.com/journal/item/36/Bantahan_Berbuka_puasa_dengan_yang_manis-manis

    Semoga bermanfaat.

    Comment #1029 by Ahmad Ridha — Wednesday, September 12, 2007 @ 20:24

  42. bagus nih artikel nya… saya del icious dulu bang :)

    Comment #1030 by Pedhet — Thursday, September 13, 2007 @ 09:21

  43. Bagus…
    Salam kenal, dan selamat menunaikan ibadah puasa ya buat kita semua :smile:

    Comment #1031 by rici — Thursday, September 13, 2007 @ 12:52

  44. Mas ARidha,
    mmh…th lalu dan 2 th lalu saya menemukan jenis kurma segar/alami yg pnah dibahas tsb. Dan rasanya mmg benar tidak semanis kurma lainnya. Saya jumpai dan beli di All Fresh mal Ambasador / Total buah di k.Gading bulevard. Merk Medjool (california), biasa saya temui yg lembut tapi sangat manis. Tp saat itu tnyata mereka juga jual yg masih pucat dan renyah layaknya buah. Namun harganya mmg ruarr biasa.. Mungkin selain biaya import, biaya penyimpanannya juga tinggi.
    Hanya saran survei, tdk bmaksud lain2 lho.. Peace :grin:

    Comment #1033 by Mommy Arya&Kinan — Thursday, September 13, 2007 @ 14:13

  45. artikelnya cukup mencerahkan. terimakasih om herry.
    sekalian salam kenal

    regards

    Comment #1035 by elmiftah — Thursday, September 13, 2007 @ 15:29

  46. ooh..baru ngeh saya..ttg segala “manis” yang terkait dengan puasa.bagus untuk bahan ngobrol dengan bule2 disini yang kritis dan pengen tahun islam lebih jauh.
    anw, boleh tahu sufi yang dimaksud sapa ya? :roll:

    Comment #1036 by @ndrinugroho — Friday, September 14, 2007 @ 00:22

  47. 1.Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: “Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang.” Juga, isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan kosong.

    2. “Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang,” kata Rasulullah.

    Sepengetahuan saya dua kalimat yang saya kutip di atas bukan khabar dari rasulullah, namun memang sudah terlanjur populer sebagai hadits. Jadi klo bisa ditulis sebagai atsar aja, karena kita harus menjaga diri jangan sampai kita termasuk orang orang yang menyebarkan kedustaan atas nama Rasulullah saw yang hukumannya adalah neraka sebagaimana kita pahami dari hadits dari Imam Muslim dan selainnya

    Comment #1037 by iqbal — Friday, September 14, 2007 @ 09:54

  48. kalau saya sih malah berpikir kalau apa yang diucapkan nabi itu cuma contoh. Contoh bahwa kalau kita puasa, maka untuk bukanya harus makan dan minum. Makan dalam artian bukan harus kurma, dan minum bisa apa saja.
    Tafsirannya khan bisa gitu.. iya gak sih?
    yang penting khan buka-nya, dan bukan apa yang dimakan..

    Comment #1038 by max b — Friday, September 14, 2007 @ 14:10

  49. terimakasih atas artikelnya yang sangat menarik ini.

    Saya berharap, uraian mas herry didukung dengan referensi yang up to date biar info nya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. So, kami2 yang penasaran juga bisa turut menelusuri referensi tersebut, dan kita bisa belajar bersama.

    Thanks ya
    mila

    Comment #1039 by mila — Friday, September 14, 2007 @ 17:35

  50. “…Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat mahal…”

    Setahu saya kurma yang masuk ke Indonesia adalah kurma yang diproses dengan cara dikeringkan dijemur.

    Tidak adanya kurma segar masuk ke Indonesia dikarenakan dalam 2-3 hari setelah kurma segar yang renyah dan tidak terlalu manis kita beli akan menjadi soft dan berwarna kehitaman walaupun disimpan dalam lemari es. Dan kurma hanya berbuah saat musim panas sekitar bulan Agustus.

    Kurma kering ini pada faktanya masuk ke Indonesia berbeda kadar airnya, ada yang agak basah, dan yang kering (seperti dalam kemasan di supermarket berlabel tunisian dates) diproses cukup profesional.

    Apakah mas Herry punya data penambahan gula pada kurma yang masuk ke Indonesia? Karena tanpa ditambah gulapun kurma sudah cukup awet dengan dikeringkan. Penambahan gula sebagai pengawet juga tidak perlu dilakukan karena kurma sudah memiliki kandungan gula yang cukup untuk mengawetkan dirinya sendiri dengan pengeringan. (Selain menambah biaya produksi yang tidak perlu)

    Tampak seperti ‘manisan’ karena pengeringan kurma itu sendiri yang masih mengandung banyak kadar air.

    Comment #1040 by Priyatna — Saturday, September 15, 2007 @ 23:23

  51. Inilah akibatnya kalau menulis tanpa pengetahuan yang mendasarinya. Saya membuat reply atas tulisan ini di http://sqvalkic.blogspot.com
    Mohon diklarifikasi segera, karena pendapat Anda kurang tepat adanya. Saran saya, tulislah yang sesuai dengan bidang keahlian Anda, karena semakin jauh, semakin besar peluang menuliskan pendapat yang keliru

    Comment #1041 by anton rahmadi — Sunday, September 16, 2007 @ 15:41

  52. Mas Herry minta informasi ttg kurma yg di-Impor di Indonesia sdh dlm bentuk manisan. Sekalian tips memilih kurma yg bagus. Jazakalloh

    Comment #1042 by anas fauzi rakhman — Monday, September 17, 2007 @ 08:21

  53. Waduh…
    Tiwas selalu berbuka dengan teh manis….
    Mungkin kalau bisa minum air putih dahulu baru minumteh manis kali ya…
    BTW..makasih artikelnya [-0

    Comment #1046 by pia — Tuesday, September 18, 2007 @ 08:19

  54. boss.. setelah saya forward ke milis kantoran,, ada yang bertanya tentang madu..

    [quote]Kalau madu masuk yg mana ?
    - Karbohidrat sedehana atau kompleks ?
    - GI rendah atau tinggi ? ?[/quote]

    mohon di jawab.
    thanx.

    Comment #1047 by tonosaur — Tuesday, September 18, 2007 @ 10:13

  55. Wah, mas…
    Ada yang membantah dengan data factual juga di sini (aridha.multiply.com)

    Mencari kebenaran memang jalan yang panjang ya…

    Comment #1049 by Pencari Kebenaran — Tuesday, September 18, 2007 @ 17:25

  56. buah kurma tidak sama dengan manisan kurma, mas herry benar. Ini saya kutip dari blognya Eksi, orang indonesia yang tinggal di malaysia. Ada foto buah kurmanya loh..

    Tetapi ada satu hal menarik yang saya temui baru-baru ini. Saya berhasil menemukan buah kurmaaaaaaa! Horeee…. Semenjak membaca tulisan suluk dalam artikel buka puasanya, saya jadi tahu kalau buah kurma itu berbeda dengan manisan kurma, dan yang selama ini saya konsumsi ternyata manisan kurma bukan buahnya. Dan sekarang saya sudah menemukan buah kurmaaaaaaaa… Horeeeeee… Buah kurma ini rasanya ternyata enaaaaaaaaak sekali. Gak terlalu manis seperti manisannya. Yang berwarna kuning rasanya mirip seperti kesemek, yang merah juga serupa tapi kalau yang sudah matang sekali dan berwarna coklat tua, rasanya mirip sawo, tapi dagingnya tidak selembek sawo. Pokoknya enak banget deh. Tapi sayangnya harganya mahaaaaaaaaal banget, 100 gram harganya 4 RM. Kemarin saya beli 1 tangkai, isinya 11 buah saja, beratnya 200 gram lebih, pokoknya saya harus membayar 10 RM untuk buah kurma tersebut :P hehehe tapi gapapa, sekali-kali mencoba buah yang lezat ini :) hehehehehe Lihat saja fotoya dibawah ini, itu kurma lho, bukan anggur :D

    http://eksinads.com/?p=71

    Comment #1050 by Anonymous — Wednesday, September 19, 2007 @ 12:20

  57. Assalamualaikum..,,
    menarik artikel-artikel disini…, Saya ingin linkkan dengan blog saya.. Semoga Allah sentiasa memudahkan saudara menulis artikel-artikel yang hebat-hebat..

    Comment #1052 by ihmaza — Wednesday, September 19, 2007 @ 14:53

  58. Kalo di sini

    dan di sini

    memang benar bahwa dates atau buah kurma mengandung karbohidrat kompleks. Bahkan dikatakan di sana dates sugar juga mengandung karbohidrat kompleks.

    Mungkin sebagian peneliti yang menyebut kurma penuh karbohidrat kompleks, sampelnya adalah BUAH kurma, seperti yang dimakan eksi di atas di malaysia.

    Sebagian peneliti lain meneliti kurma sampelnya adalah MANISAN kurma, sehingga kandungan tertingginya adalah karbohidrat simpel.

    Saya setuju, buah kurma dan manisan kurma tidak sama. Mungkin yang perlu dilihat adalah, sampelnya apa: manisan kurma atau buah kurma.

    Anyway, good article. Makasih Mas Herry. Teruslah menulis, tulisan-tulisan anda penuh pencerahan. Saya menikmati tulisan-tulisan anda.

    Comment #1054 by Anonymous — Friday, September 21, 2007 @ 13:59

  59. Jika menemukan buah kurma, berbuka dg buah kurma lebih baik, seperti sabda Rasulullah SAW. Tapi jika yg ada cma manisan kurma, bukan buah kurma, air putih lebih baik. Gitu kan?

    Comment #1055 by Anonymous — Friday, September 21, 2007 @ 14:03

  60. Mas Herry,

    Saya sangat tertarik dengan semua tulisan Mas/Kang Herry. Sudah ada yang nerbitkan atau belum? Agar lebih banyak yang bisa membacanya, bolehkan saya terbitkan menjadi buku (dengan
    segala ketentuan yang berlaku pada penerbitan buku).
    Mohon balas ke email saya, ya.

    Sugeng
    Penerbit Inspira (baru)

    Comment #1060 by sugeng — Saturday, September 22, 2007 @ 16:16

  61. Mas Sugeng,

    Saya jawab via e-mail saja ya.

    Comment #1063 by Herry — Monday, September 24, 2007 @ 15:19

  62. tanks artikelnya kang heri… inyong jadi ngeehh omongan emak gw.. Emak gw sering ngomong kalo buka puasa berbukalah dengan sesuatu yang tidak berasap ( dimasak/direbus/dibakar/diolah) contohnya air putih..bukan air teh..trus buah buahan kalo ada… ga tau emak gw tau dr mana tp emak ngomong itu yang dianjurkan nabi… (maklum emak gw suka ngaji kitab dr kyai ke kyai dr habib ke habib.. jd kalo dasar alasannya gw ga tau persis) masuk akal juga kalo di paduin ama artikelnya kang heri. tanks.

    Comment #1065 by yazid Bastomi — Wednesday, September 26, 2007 @ 08:03

  63. Artikel yang bagus.. ilmiah

    Pantesan saya tambah ndut nih… hehehe

    Comment #1066 by Andree — Thursday, September 27, 2007 @ 08:37

  64. Salam alaikum..

    Mas, sy nemu artikel ini lewat forward Email teman..berupa Attachment file PDF, trus sy masukkan ke Blog, alhamdulillah ada yg info bahwa artikel aslinya ada disini, sy link ke Blog ya..

    Nice.. Posting.. sy mesti sering2 mampir.. nech
    Salam kenal..

    aboel - http://aboels.blogspot.com

    Comment #1071 by aboel — Thursday, October 4, 2007 @ 01:15

  65. wah, ternyata artikel yg asli ada di sini ya? :smile:
    Sama juga kaya’ mas aboel, saya juga dapet artikel ni dari milis. :mrgreen: , trus saya posting di blog…

    Comment #1072 by mardee — Thursday, October 4, 2007 @ 04:04

  66. Kemana aja? koq udah lama gak ada tulisan baru ;)

    Comment #1108 by eva — Wednesday, November 7, 2007 @ 14:15

  67. wah panjang bangte halaman ini,
    gak postingnya gak komentnya :D keren..

    Comment #1114 by aLe — Sunday, November 11, 2007 @ 16:02

  68. huhu., mo bilang banget aja kliru bangte :lol:

    Comment #1115 by aLe — Sunday, November 11, 2007 @ 16:03

  69. ini nyang namanya ngelmu, manteb (pake b bukan p) bener ! :mrgreen:

    Comment #1141 by joko — Thursday, December 6, 2007 @ 11:33

  70. Assalamualaikum. suluk dari kelantan ke? macam pernah….. :?: :?: :?: :roll:

    Comment #1163 by rll — Monday, December 31, 2007 @ 11:36

  71. kayaknya saya dulu pernah baca kalau artikel tentang larangan berbuka dengan yang manis ini hoax semata. maaf kalau saya yang salah

    Comment #1164 by wajib — Tuesday, January 1, 2008 @ 12:34

  72. nek akeh pikiran iso di jadikan tips untuk diet ra..? :D
    salam kenal yo mas…

    Comment #1167 by shemut — Wednesday, January 2, 2008 @ 18:18

  73. Wah, ternyata salah yah paradigma selama ini? :sad: Bahkan malah muncul dalam iklan2 televisi. Saya selama ini percaya bahkan yakin bahwa kalo buka harus dengan yang manis-manis… Baru tahu sekarang nih, Trims infonya! Simpan dulu ah.

    Comment #1212 by azai — Tuesday, January 29, 2008 @ 22:04

  74. Kang Herry, minta izin bajak artikelnya nih…hehehe.

    Comment #1234 by arnol — Friday, February 15, 2008 @ 17:45

  75. Puasa adalah wajib untuk melatih mengelola hawa nafsu :mrgreen: begitu ajaran semua agama
    kalau puasa kudu berbuka pake kurma apa mungkin itu cuma pesan sponsor aja :smile: ngacir dulu ah ada (iklan) yang mau lewat

    Comment #1292 by tomy — Monday, March 3, 2008 @ 11:30

 

Give Comment





 


:smile: :grin: :lol: :wink: :cool: :oops: :mrgreen: :???: :sad: :cry: :roll: :shock: :eek: :neutral: :razz: :mad: :evil: :twisted: :!: :?: :arrow: :idea:
 

• Just click ONCE. If your comment doesn't show up immediately, it MAY be moderated.

• Line breaks automatically. To set new paragraph, hit [enter] TWO times.

• Your e-mail address will not be displayed in comments to prevent unwanted mail invading your e-mail account.

• Some HTML codes is allowed : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

 

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites