<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Pengertian &#8216;Ulil-Albaab&#8217;</title>
	<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/</link>
	<description>Herry Mardian's site: Kumpulan artikel, renungan, tulisan, dan jurnal tentang Allah, jati diri, makna Al-Qur'an, makna agama dan makna hidup.</description>
	<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 16:25:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: wawan</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1507</link>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 21:48:48 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1507</guid>
					<description>terimah kasih atas tanggapannya kang adji....saya asli makassar tapi tidak dimakassar skarang. Setelah merenung ada suatu pertanyaan lagi yang muncul yaitu pengetahuan, pemahaman dan pengenalan. Kalau pengetahuan, dengan membaca artikel ini saya bisa tau, dengan merenung n bertanya sebab akibat saya jadi paham tapi pengenalan gimana? saya akan kenal sesorang kalau saya pernah bertemu dengan orang itu atau setidaknya tau betul seperti apa dia. Saat dia muncul dengan yakin saya jawab dialah oranya. Dari tahap pemahaman saya masih belum paham maksud dari kang herry n mas adji mengenai yang disuruh mengenal siapa n dan dikenali siapa serta yang akan bertanggung jawab kelak siapa?  </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>terimah kasih atas tanggapannya kang adji&#8230;.saya asli makassar tapi tidak dimakassar skarang. Setelah merenung ada suatu pertanyaan lagi yang muncul yaitu pengetahuan, pemahaman dan pengenalan. Kalau pengetahuan, dengan membaca artikel ini saya bisa tau, dengan merenung n bertanya sebab akibat saya jadi paham tapi pengenalan gimana? saya akan kenal sesorang kalau saya pernah bertemu dengan orang itu atau setidaknya tau betul seperti apa dia. Saat dia muncul dengan yakin saya jawab dialah oranya. Dari tahap pemahaman saya masih belum paham maksud dari kang herry n mas adji mengenai yang disuruh mengenal siapa n dan dikenali siapa serta yang akan bertanggung jawab kelak siapa?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Ahmad</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1495</link>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 19:40:28 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1495</guid>
					<description>Terima Kasih mas adji atas sarannya:smile:, simple sarannya tapi sangat dalam arti nya....
Mudah2an Allah selalu merahmati hamba-hambaNya, Amin...:smile:</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Terima Kasih mas adji atas sarannya <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':smile:' class='wp-smiley' /> , simple sarannya tapi sangat dalam arti nya&#8230;.<br />
Mudah2an Allah selalu merahmati hamba-hambaNya, Amin&#8230; <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':smile:' class='wp-smiley' />
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: adjipamungkas</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1490</link>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 22:37:23 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1490</guid>
					<description>:cry: 
Pada dasarnya saya juga, masih sering terbelit &quot; hawa dan syahwat &quot;.
Yah... spendek pengetahuan saya sih...kadang bukan hanya Allah saja yang membolak balik kan hati tetapi kita sendiri yang gak bisa mengendalikan ke dua &quot; oknum &quot; tadi sehingga hati kita jadi jungkir-balik antara taat dan ingkar kepada-Nya.
Yang penting adalah semangat Taubat, om !..trus mohon rahmat pertolongan Allah.
kembali ke QUR'AN:!:
Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:21) maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi. (QS. 2:64) Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja. (QS. 4:83) dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari kekafiran. (QS. 10:86).:mrgreen:


</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p> <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_cry.gif' alt=':cry:' class='wp-smiley' /><br />
Pada dasarnya saya juga, masih sering terbelit &#8221; hawa dan syahwat &#8220;.<br />
Yah&#8230; spendek pengetahuan saya sih&#8230;kadang bukan hanya Allah saja yang membolak balik kan hati tetapi kita sendiri yang gak bisa mengendalikan ke dua &#8221; oknum &#8221; tadi sehingga hati kita jadi jungkir-balik antara taat dan ingkar kepada-Nya.<br />
Yang penting adalah semangat Taubat, om !..trus mohon rahmat pertolongan Allah.<br />
kembali ke QUR&#8217;AN <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_exclaim.gif' alt=':!:' class='wp-smiley' /><br />
Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:21) maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi. (QS. 2:64) Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja. (QS. 4:83) dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari kekafiran. (QS. 10:86). <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Ahmad</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1485</link>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 21:19:46 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1485</guid>
					<description>Mas Herry, saya mau menanyakan beberapa hal, mungkin pertanyaannya sangat tidak berbobot buat mas herry yang notabennya sudah berada &quot;diatas&quot;.:smile: Saya masuk agama Islam karena keturunan, tapi alhamdulillah sekarang (20 th) saya mengerti beberapa hakikat manusia berada di jagad bumi ini. Saya mau nanya, kenapa di dalam hati saya selalu ada pergolakan hebat antara mengabdi kepada Allah dan ingkar kembali kepadaNya, maksud saya adakalanya saya (alhamdulillah) bisa bener2 mengabdi tapi terkadang tidak bertahan lama, saya selalu kalah dalam pergulatan melawan godaaan makhluk jahanam,:oops: dan setelah itu saya menyesali kenapa g bisa ngalahin hawa nafsu. Saya akui saya masih jauh dr kata zuhud, tp saya pingin sekali bener2 beriman padaNya. Kenapa Allah membolak-balikkan hati hambanya ya mas??
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, dan klo tidak keberatan dan ada waktu untuk membalasnya bisa langsung dikirim ke alamat e-mail saya g mas??
de_noey2k5@yahoo.com
Mudah-mudahan Allah memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi hamba-hambaNya, Amin.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Mas Herry, saya mau menanyakan beberapa hal, mungkin pertanyaannya sangat tidak berbobot buat mas herry yang notabennya sudah berada &#8220;diatas&#8221;. <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':smile:' class='wp-smiley' />  Saya masuk agama Islam karena keturunan, tapi alhamdulillah sekarang (20 th) saya mengerti beberapa hakikat manusia berada di jagad bumi ini. Saya mau nanya, kenapa di dalam hati saya selalu ada pergolakan hebat antara mengabdi kepada Allah dan ingkar kembali kepadaNya, maksud saya adakalanya saya (alhamdulillah) bisa bener2 mengabdi tapi terkadang tidak bertahan lama, saya selalu kalah dalam pergulatan melawan godaaan makhluk jahanam, <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_redface.gif' alt=':oops:' class='wp-smiley' />  dan setelah itu saya menyesali kenapa g bisa ngalahin hawa nafsu. Saya akui saya masih jauh dr kata zuhud, tp saya pingin sekali bener2 beriman padaNya. Kenapa Allah membolak-balikkan hati hambanya ya mas??<br />
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, dan klo tidak keberatan dan ada waktu untuk membalasnya bisa langsung dikirim ke alamat e-mail saya g mas??<br />
<a href="mailto:de_noey2k5@yahoo.com">de_noey2k5@yahoo.com</a><br />
Mudah-mudahan Allah memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi hamba-hambaNya, Amin.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: adjipamungkas</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1484</link>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 18:43:49 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1484</guid>
					<description>Ijin kan saya ikut nimbrung kang hery...:cool:

hehehe, wawan suku bugis apa makassar ? silahkan kalau mau diskusi ke Kajian Bina Qalbu Makassar (binaqalbu@gmail.com atau  http://binaqalbu.blogsome.com).

Yang wawan kemukakan falsafah “Se’reji Tau Rupa Tauji Jai” spendek pengetahuan saya bisa bermakna &quot;satu orang tapi per perangai (sifat dan watak serta tingkah laku)banyak atau berbagai rupa&quot;.:roll:

Mengenai jiwa...saya, wawan, ataupun mas hery tentu berbeda &quot; rupa, wujud, qualitas bahkan derajat kedudukannya di hadapan Allah &quot; tergantung tingkat keimanan dan ketaqwaan masing masing.

Silahkan lihat Al Qur'an “Dan tiada satu pun dari kami melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu (maqamuum ma’aluum), dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf” (QS Ash Shaaffaat [37]: 164 – 165).

Jadi pendapat &quot;awam&quot; bahwa di hadapan Allah semua sama tidak dapat di generalisasi begitu saja.:!:
</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Ijin kan saya ikut nimbrung kang hery&#8230; <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_cool.gif' alt=':cool:' class='wp-smiley' /> </p>
	<p>hehehe, wawan suku bugis apa makassar ? silahkan kalau mau diskusi ke Kajian Bina Qalbu Makassar (binaqalbu@gmail.com atau  <a href='http://binaqalbu.blogsome.com' rel='nofollow'>http://binaqalbu.blogsome.com</a>).</p>
	<p>Yang wawan kemukakan falsafah “Se’reji Tau Rupa Tauji Jai” spendek pengetahuan saya bisa bermakna &#8220;satu orang tapi per perangai (sifat dan watak serta tingkah laku)banyak atau berbagai rupa&#8221;. <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
	<p>Mengenai jiwa&#8230;saya, wawan, ataupun mas hery tentu berbeda &#8221; rupa, wujud, qualitas bahkan derajat kedudukannya di hadapan Allah &#8221; tergantung tingkat keimanan dan ketaqwaan masing masing.</p>
	<p>Silahkan lihat Al Qur&#8217;an “Dan tiada satu pun dari kami melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu (maqamuum ma’aluum), dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf” (QS Ash Shaaffaat [37]: 164 – 165).</p>
	<p>Jadi pendapat &#8220;awam&#8221; bahwa di hadapan Allah semua sama tidak dapat di generalisasi begitu saja. <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_exclaim.gif' alt=':!:' class='wp-smiley' />
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: wawan</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1483</link>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 21:13:21 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1483</guid>
					<description>Bang herry, kalau jiwa saya dengan jiwa bang herry sama tidak?.....
Saya sering dengar dikampung saya kata2 seperti ini dalam bahasa aslinya &quot;Se'reji Tau Rupa Tauji Jai&quot; -&amp;gt; Se'reji = cuman satu, Tau = manusia, Rupa Tauji Jai = Wajah manusia yang banyak. </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Bang herry, kalau jiwa saya dengan jiwa bang herry sama tidak?&#8230;..<br />
Saya sering dengar dikampung saya kata2 seperti ini dalam bahasa aslinya &#8220;Se&#8217;reji Tau Rupa Tauji Jai&#8221; -&gt; Se&#8217;reji = cuman satu, Tau = manusia, Rupa Tauji Jai = Wajah manusia yang banyak.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Herry</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1482</link>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 13:00:11 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1482</guid>
					<description>Diri yang sebenarnya itu jiwa. Kita diperintah untuk mengenal 'diri yang sejati' ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Diri yang sebenarnya itu jiwa. Kita diperintah untuk mengenal &#8216;diri yang sejati&#8217; ini.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: wawan</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1481</link>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 00:02:47 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-1481</guid>
					<description>Bang hery, Yang disuruh dikenal apakah jiwa atau yang diperintah untuk mengenal adalah jiwa?..........Berkaitan dengan &quot;diri yang sebenarnya&quot;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Bang hery, Yang disuruh dikenal apakah jiwa atau yang diperintah untuk mengenal adalah jiwa?&#8230;&#8230;&#8230;.Berkaitan dengan &#8220;diri yang sebenarnya&#8221;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Herry</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-829</link>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2007 19:14:30 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-829</guid>
					<description>&lt;em&gt;Wa alaikum salaam wr wb.&lt;/em&gt;

Tergantung dasar terminologi yang dipakai. Tapi pengertian itu berbeda, karena jasad tidak sama dengan &lt;em&gt;nafs&lt;/em&gt;.

Kalau dalam pengertian awam/umum, istilah &lt;em&gt;'nafs'&lt;/em&gt; disamakan dengan 'diri'. Tapi dalam tasawuf, &lt;em&gt;nafs&lt;/em&gt; adalah &lt;em&gt;'jiwa',&lt;/em&gt; bukan diri. Komponen yang membentuk manusia utuh ada tiga: jasad, jiwa &lt;em&gt;(nafs)&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;ruh&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Nafs&lt;/em&gt; berbeda dengan &lt;em&gt;hawa-nafsu&lt;/em&gt;, hawa nafsu adalah 'hawa-nya nafs', semacam &lt;em&gt;by-product &lt;/em&gt;dari penyatuan &lt;em&gt;nafs&lt;/em&gt; dan jasad.

Pengertian umum, &lt;em&gt;Tazkiatul jasad&lt;/em&gt; lebih dekat kepada thaharah (wudhu, dll). &lt;em&gt;Tazkiyatun-Nafs&lt;/em&gt; mencakup jasad, sekaligus jiwa. Jadi penyucian 'diri', lahir dan batin. 

Dalam tasawuf, &lt;em&gt;tazkiatun-nafs &lt;/em&gt;adalah 'penyucian jiwa', melakukan disiplin-disiplin untuk menyucikan jiwa. </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p><em>Wa alaikum salaam wr wb.</em></p>
	<p>Tergantung dasar terminologi yang dipakai. Tapi pengertian itu berbeda, karena jasad tidak sama dengan <em>nafs</em>.</p>
	<p>Kalau dalam pengertian awam/umum, istilah <em>&#8216;nafs&#8217;</em> disamakan dengan &#8216;diri&#8217;. Tapi dalam tasawuf, <em>nafs</em> adalah <em>&#8216;jiwa&#8217;,</em> bukan diri. Komponen yang membentuk manusia utuh ada tiga: jasad, jiwa <em>(nafs)</em> dan <em>ruh</em>. <em>Nafs</em> berbeda dengan <em>hawa-nafsu</em>, hawa nafsu adalah &#8216;hawa-nya nafs&#8217;, semacam <em>by-product </em>dari penyatuan <em>nafs</em> dan jasad.</p>
	<p>Pengertian umum, <em>Tazkiatul jasad</em> lebih dekat kepada thaharah (wudhu, dll). <em>Tazkiyatun-Nafs</em> mencakup jasad, sekaligus jiwa. Jadi penyucian &#8216;diri&#8217;, lahir dan batin. </p>
	<p>Dalam tasawuf, <em>tazkiatun-nafs </em>adalah &#8216;penyucian jiwa&#8217;, melakukan disiplin-disiplin untuk menyucikan jiwa.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: homsiyah</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-820</link>
		<pubDate>Mon, 02 Jul 2007 13:22:36 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-820</guid>
					<description>Assalamu' alaikum wr. wb
 saya adalah mahaiswa jurusan sejarah peradaban islam di IAIN sunan ampel. sekarang saya lagi mengerjakan skripsi yang berhubungan dengan tasawuf yaitu mengenai tazkiayat jasad( penyucian anggota tubuh) seprti mata, telinga dll akn tetapi saya bingung apakah pengertian taskiyat al-jasad itu sama dengan tazkiyat an-nafs?</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Assalamu&#8217; alaikum wr. wb<br />
 saya adalah mahaiswa jurusan sejarah peradaban islam di IAIN sunan ampel. sekarang saya lagi mengerjakan skripsi yang berhubungan dengan tasawuf yaitu mengenai tazkiayat jasad( penyucian anggota tubuh) seprti mata, telinga dll akn tetapi saya bingung apakah pengertian taskiyat al-jasad itu sama dengan tazkiyat an-nafs?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: ronald</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-674</link>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2007 20:05:58 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-674</guid>
					<description>kalau ruhul qudus?? Apakah semua orang punya? Ataukah, semua orang punya tetapi hanya sebatas potensi yang perlu diaktifkan? Nah, kalo emang gitu, gimana dong supaya aktif?</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>kalau ruhul qudus?? Apakah semua orang punya? Ataukah, semua orang punya tetapi hanya sebatas potensi yang perlu diaktifkan? Nah, kalo emang gitu, gimana dong supaya aktif?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: ade n</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-662</link>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2007 15:58:51 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-662</guid>
					<description>allaahuakbar</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>allaahuakbar
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: kuswandani</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-348</link>
		<pubDate>Tue, 11 Jul 2006 02:52:26 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-348</guid>
					<description>saya coba ikutan jawab nih. mudah-mudahan ini membantu meringankan beban kebingungan mas G.

secara pribadi saya mulai mencoba melihat terjemahan ayat agak lebih kritis, karena di beberapa ayat tertentu kadang tidak diterjemahkan apa adanya, tapi diungkapkan dengan makna lain, tapi malah tidak tepat maksudnya.

istilah &lt;em&gt;nafs&lt;/em&gt; dalam ayat-ayat bagi saya itu tetap konsisten bermakna soul=jiwa. untuk nafsu, dalam pengertian umum, lebih tepat diistilahkan dengan &lt;em&gt;hawa&lt;/em&gt;, atau kemudian kita mengenalnya dengan &lt;em&gt;hawa nafsu&lt;/em&gt; (QS 25:43, 45:23)

karena itulah pemahaman kita tentang 12:53 akan lebih terbuka, yang dalam ayat tersebut menjelaskan tentang kondisi/kualitas jiwa seseorang yang dipenuhi oleh keburukan demi keburukan,  yang dalam istilah tradisi tasawuf dikenal dengan tingkat maqam paling rendah.

tingkat kedua adalah &lt;em&gt;nafs lawwamah&lt;/em&gt; (QS 75:2) sebuah kondisi jiwa yang terkadang berbuat dosa, tapi juga terkadang berbuat baik.

tingkat tertinggi manusia adalah, tatkala jiwanya adalah &lt;em&gt;nafs muthmainnah&lt;/em&gt;, (QS 89:27) itu yang dimaksud dengan jiwa yang diridlai Rabb.

sedangkan &lt;em&gt;syahwat&lt;/em&gt;, bisa di lihat di QS 3:14, akan ditemukan di teks arab aslinya istilah syahwat tersbut dan apa saya yang dikenai istilah tersbut, namun diterjemahannya hanya dituliskan &quot;keinginan&quot; saja, 

untuk lebih lengkapnya, mari kita tunggu uraian kang herry, tentang struktur insannya. 

wallahu a'lam bish-shawab.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>saya coba ikutan jawab nih. mudah-mudahan ini membantu meringankan beban kebingungan mas G.</p>
	<p>secara pribadi saya mulai mencoba melihat terjemahan ayat agak lebih kritis, karena di beberapa ayat tertentu kadang tidak diterjemahkan apa adanya, tapi diungkapkan dengan makna lain, tapi malah tidak tepat maksudnya.</p>
	<p>istilah <em>nafs</em> dalam ayat-ayat bagi saya itu tetap konsisten bermakna soul=jiwa. untuk nafsu, dalam pengertian umum, lebih tepat diistilahkan dengan <em>hawa</em>, atau kemudian kita mengenalnya dengan <em>hawa nafsu</em> (QS 25:43, 45:23)</p>
	<p>karena itulah pemahaman kita tentang 12:53 akan lebih terbuka, yang dalam ayat tersebut menjelaskan tentang kondisi/kualitas jiwa seseorang yang dipenuhi oleh keburukan demi keburukan,  yang dalam istilah tradisi tasawuf dikenal dengan tingkat maqam paling rendah.</p>
	<p>tingkat kedua adalah <em>nafs lawwamah</em> (QS 75:2) sebuah kondisi jiwa yang terkadang berbuat dosa, tapi juga terkadang berbuat baik.</p>
	<p>tingkat tertinggi manusia adalah, tatkala jiwanya adalah <em>nafs muthmainnah</em>, (QS 89:27) itu yang dimaksud dengan jiwa yang diridlai Rabb.</p>
	<p>sedangkan <em>syahwat</em>, bisa di lihat di QS 3:14, akan ditemukan di teks arab aslinya istilah syahwat tersbut dan apa saya yang dikenai istilah tersbut, namun diterjemahannya hanya dituliskan &#8220;keinginan&#8221; saja, </p>
	<p>untuk lebih lengkapnya, mari kita tunggu uraian kang herry, tentang struktur insannya. </p>
	<p>wallahu a&#8217;lam bish-shawab.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Herry</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-346</link>
		<pubDate>Fri, 07 Jul 2006 02:14:29 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-346</guid>
					<description>Kayaknya perlu tulisan sendiri yeuh.. :) Nanti saya bikin tulisan baru 'struktur insan' deh... tapi paling cepet saya baru bisa mulai nulis lagi hari senin.. sabar yah om.

Makasih banget pertanyaannya.. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Kayaknya perlu tulisan sendiri yeuh.. <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Nanti saya bikin tulisan baru &#8217;struktur insan&#8217; deh&#8230; tapi paling cepet saya baru bisa mulai nulis lagi hari senin.. sabar yah om.</p>
	<p>Makasih banget pertanyaannya.. <img src='http://suluk.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: G</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-345</link>
		<pubDate>Fri, 07 Jul 2006 01:52:34 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-345</guid>
					<description>Kang, 
Saya dah baca yang struktur insani, dan baca yang ini jadi pengen nanya.. apakah Nafs yang dibicarakan itu adalah - Nun Fa Sin - ? Kalau iya Nafs dibeberapa Surat ada yang berbunyi Nafss seperti yang Kang Heri utarakan di postingan ini, namun ada juga yang berbunyi sebagai nafsu (keinginan untuk melakukan hal yang tidak baik)  dari (QS 12:53). 
Masih di Ayat tsb, Nafs pun ada yang berarti Nafs jelek (Nafsu) ada Nafs yang diridhoi Rabb. Apakah nafsu yang diridhoi rabb itu adalah sama dengan Jiwa??  apakah hasrat untuk berbuat baik/keinginan untuk berbuat baik itu adalah Nafsu yang diridhoi itu? ataukah Niat baik itu sama dengan &quot;perasaan&quot; yang dimiliki Sang Jiwa?
Terus agak OOT si tapi masih menyangkut si (QS 12:53) kenapa  Syin Ha Wau Ta (Nafsu Birahi) begitu ekslusif sehingga dibedakan dengan Nafs yang NAFSU?? 

Ahh banyak banget... dari satu ayat saja  pertanyaan saya banyak banget, maaf yah...</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Kang,<br />
Saya dah baca yang struktur insani, dan baca yang ini jadi pengen nanya.. apakah Nafs yang dibicarakan itu adalah - Nun Fa Sin - ? Kalau iya Nafs dibeberapa Surat ada yang berbunyi Nafss seperti yang Kang Heri utarakan di postingan ini, namun ada juga yang berbunyi sebagai nafsu (keinginan untuk melakukan hal yang tidak baik)  dari (QS 12:53).<br />
Masih di Ayat tsb, Nafs pun ada yang berarti Nafs jelek (Nafsu) ada Nafs yang diridhoi Rabb. Apakah nafsu yang diridhoi rabb itu adalah sama dengan Jiwa??  apakah hasrat untuk berbuat baik/keinginan untuk berbuat baik itu adalah Nafsu yang diridhoi itu? ataukah Niat baik itu sama dengan &#8220;perasaan&#8221; yang dimiliki Sang Jiwa?<br />
Terus agak OOT si tapi masih menyangkut si (QS 12:53) kenapa  Syin Ha Wau Ta (Nafsu Birahi) begitu ekslusif sehingga dibedakan dengan Nafs yang NAFSU?? </p>
	<p>Ahh banyak banget&#8230; dari satu ayat saja  pertanyaan saya banyak banget, maaf yah&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Herry</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-344</link>
		<pubDate>Thu, 06 Jul 2006 23:13:47 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-344</guid>
					<description>&lt;em&gt;Wa 'alaikum Salaam Wr Wb.&lt;/em&gt;

HATI NURANI

Yang disebut 'nurani' itu, Om Genzi, adalah 'rembesan' dari apa yang dirasakan oleh qalb-nya jiwa kita yang terasa hingga ke level jasad kita sekarang. 

Contoh, kita bisa saja ingin mengambil uang di kantor, tapi entah gimana, ada sesuatu dalam hati kita yang membuat kita tidak ingin melakukannya. Ini karena pada dasarnya nafs kita tidak ingin kita melakukannya, dan ketidak-inginan itu kita rasakan hingga ke level jasad kita ini. Inilah namanya nurani. Nurani adalah setitik rembesan qalb yang naik ke perasaan kita. Kadang kita bisa tiba-tiba terharu, tiba-tiba ingin shalat, tanpa sebab. Ini bisa jadi adalah apa yang dirasakan oleh jiwa kita, somehow, saking inginnya si jiwa akan hal itu karena selama ini kita tidak pernah memperhatikan kebutuhan 'makanan' jiwa itu, maka terasa hingga ke jasad kita. 

Tidak semua orang masih hidup nuraninya. Ini karena semakin seseorang mengabaikan nuraninya sendiri, semakin lama kita menjadi tuli dengan nurani kita sendiri. Sebagaimana anak kita, jika kita selalu mengabaikan pendapat maupun kebutuhannya, lama-kelamaan anak kita akan 'mati rasa' dan tidak perduli lagi.

Nurani belum sampai ke fu'ad, atau 'aql. Nurani baru 'perasaan sang nafs' (dalam tanda kutip), belum sampai ke nafs yang mampu berfikir dan memberi pertimbangan. Itupun hanya setitik yang merembes hingga ke jasad kita. Tapi belajar mendengarkan nurani kita sendiri adalah langkah awal untuk hidup benar. Walaupun demikian, nurani belum bisa dijadikan panduan karena nurani masih sangat tersamar diantara keinginan hawa nafsu/syahwat dalam diri kita. 

Ibaratnya, jika kita adalah seorang guru SD dan satu kelas yang kita pimpin ada 48 orang murid. Nurani hanya satu orang, diantara semuanya, dan 47 orang lainnya adalah hawa nafsu dan syahwat. Ketika semua berbicara bersama, kita masih samar membedakan mana dari nurani dan mana yang bukan. Hanya kadang ketika syahwat dan hawa nafsu kita sedang melemah, kita bisa mendengar nurani dengan agak jelas.

Jadi, kurang tepat kalau yang Om Genzi bilang tadi, bahwa mengetahui adalah dengan nurani. Nurani belum sampai level 'mengetahui'. Nurani baru merasakan indikasi, 'kayaknya salah nih'... tapi kita belum bisa membuktikan (baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain) salahnya di mana.

Kita harus belajar mengidentifikasi mana suara nurani, mana yang bukan.. karena nurani sumbernya dari 'jeritan' jiwa kita yang ingin didengar. Sayang sebagian besar orang mengabaikan nuraninya sendiri hingga akhirnya nuraninya tidak lagi bersuara, bahkan hilang terkubur dalam dosa-dosa. 

Gambar jelasnya seperti di bawah ini. Gambar ini adalah penyederhanaan, dan bukan berarti bahwa &lt;em&gt;qalb&lt;/em&gt; sama dengan nurani. Sekali lagi, nurani adalah 'rembesan' apa yang dirasakan qalb yang sampai ke level jasad kita.


&lt;center&gt;&lt;img src=&quot;/images/nurani.jpg&quot; alt=&quot;Nurani&quot; /&gt;&lt;/center&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p><em>Wa &#8216;alaikum Salaam Wr Wb.</em></p>
	<p>HATI NURANI</p>
	<p>Yang disebut &#8216;nurani&#8217; itu, Om Genzi, adalah &#8216;rembesan&#8217; dari apa yang dirasakan oleh qalb-nya jiwa kita yang terasa hingga ke level jasad kita sekarang. </p>
	<p>Contoh, kita bisa saja ingin mengambil uang di kantor, tapi entah gimana, ada sesuatu dalam hati kita yang membuat kita tidak ingin melakukannya. Ini karena pada dasarnya nafs kita tidak ingin kita melakukannya, dan ketidak-inginan itu kita rasakan hingga ke level jasad kita ini. Inilah namanya nurani. Nurani adalah setitik rembesan qalb yang naik ke perasaan kita. Kadang kita bisa tiba-tiba terharu, tiba-tiba ingin shalat, tanpa sebab. Ini bisa jadi adalah apa yang dirasakan oleh jiwa kita, somehow, saking inginnya si jiwa akan hal itu karena selama ini kita tidak pernah memperhatikan kebutuhan &#8216;makanan&#8217; jiwa itu, maka terasa hingga ke jasad kita. </p>
	<p>Tidak semua orang masih hidup nuraninya. Ini karena semakin seseorang mengabaikan nuraninya sendiri, semakin lama kita menjadi tuli dengan nurani kita sendiri. Sebagaimana anak kita, jika kita selalu mengabaikan pendapat maupun kebutuhannya, lama-kelamaan anak kita akan &#8216;mati rasa&#8217; dan tidak perduli lagi.</p>
	<p>Nurani belum sampai ke fu&#8217;ad, atau &#8216;aql. Nurani baru &#8216;perasaan sang nafs&#8217; (dalam tanda kutip), belum sampai ke nafs yang mampu berfikir dan memberi pertimbangan. Itupun hanya setitik yang merembes hingga ke jasad kita. Tapi belajar mendengarkan nurani kita sendiri adalah langkah awal untuk hidup benar. Walaupun demikian, nurani belum bisa dijadikan panduan karena nurani masih sangat tersamar diantara keinginan hawa nafsu/syahwat dalam diri kita. </p>
	<p>Ibaratnya, jika kita adalah seorang guru SD dan satu kelas yang kita pimpin ada 48 orang murid. Nurani hanya satu orang, diantara semuanya, dan 47 orang lainnya adalah hawa nafsu dan syahwat. Ketika semua berbicara bersama, kita masih samar membedakan mana dari nurani dan mana yang bukan. Hanya kadang ketika syahwat dan hawa nafsu kita sedang melemah, kita bisa mendengar nurani dengan agak jelas.</p>
	<p>Jadi, kurang tepat kalau yang Om Genzi bilang tadi, bahwa mengetahui adalah dengan nurani. Nurani belum sampai level &#8216;mengetahui&#8217;. Nurani baru merasakan indikasi, &#8216;kayaknya salah nih&#8217;&#8230; tapi kita belum bisa membuktikan (baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain) salahnya di mana.</p>
	<p>Kita harus belajar mengidentifikasi mana suara nurani, mana yang bukan.. karena nurani sumbernya dari &#8216;jeritan&#8217; jiwa kita yang ingin didengar. Sayang sebagian besar orang mengabaikan nuraninya sendiri hingga akhirnya nuraninya tidak lagi bersuara, bahkan hilang terkubur dalam dosa-dosa. </p>
	<p>Gambar jelasnya seperti di bawah ini. Gambar ini adalah penyederhanaan, dan bukan berarti bahwa <em>qalb</em> sama dengan nurani. Sekali lagi, nurani adalah &#8216;rembesan&#8217; apa yang dirasakan qalb yang sampai ke level jasad kita.</p>
	<p><center><img src="/images/nurani.jpg" alt="Nurani" /></center>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: G</title>
		<link>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-343</link>
		<pubDate>Thu, 06 Jul 2006 19:14:42 +0100</pubDate>
		<guid>http://suluk.blogsome.com/2006/06/08/pengertian-ulil-albaab/#comment-343</guid>
					<description>Assalamualaikum Kang Her, 
Kadang kita suka mengetahui bahwa perbuatan A adalah salah, namun kita suka melakukannya (nafsu) , nah selama ini saya berfikir bahawa  &quot;mengetahui&quot; ini adalah nurani.  

lalu apakah nurani itu? apakah dia Akal (dg K) atau Aql (dengan Q), atau kah Fua'd yang terpengaruhi?? karena sring kita secara berjehidupan menenggelamkan nurani demi berlayar dengan aman di samudera kehidupan ini?

Mohom pencerahan
Wassalam
G
</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Assalamualaikum Kang Her,<br />
Kadang kita suka mengetahui bahwa perbuatan A adalah salah, namun kita suka melakukannya (nafsu) , nah selama ini saya berfikir bahawa  &#8220;mengetahui&#8221; ini adalah nurani.  </p>
	<p>lalu apakah nurani itu? apakah dia Akal (dg K) atau Aql (dengan Q), atau kah Fua&#8217;d yang terpengaruhi?? karena sring kita secara berjehidupan menenggelamkan nurani demi berlayar dengan aman di samudera kehidupan ini?</p>
	<p>Mohom pencerahan<br />
Wassalam<br />
G
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
