Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Thursday, June 22, 2006

‘The Oracle’ : Sebuah Analogi Sederhana Untuk Memahami Sang Mursyid

Oleh Muhammad Sigit (Yayasan Paramartha), 1999.

‘The Oracle’ dalam ‘The Matrix I’. Ini bukan nama perusahaan software. Ini adalah nama seorang wanita tua di dunia Matrix. Ia hanyalah seorang tukang masak kue, gemuk, berkulit hitam, perokok, tingal di sebuah apartemen kelas bawah dan memiliki beberapa murid anak kecil. Di film itu pun, ia hanya muncul sekali. Dengan percakapan yang sederhana, dan mengalir begitu saja. Sama sekali tidak tampak kelebihan dalam dirinya. Tapi dialah sosok ‘mursyid’ di film ini.

Saya terus terang agak heran, bagaimana film ini bisa bercerita demikian detil. Termasuk penggambaran sosok mursyid yang lumayan akurat analoginya. Analogi for beginners ini bisa digunakan sebagai ilustrasi bila kita ingin mengetahui, seperti apa sih Mursyid itu, bagaimana dia membimbing kita, dan sebagainya.
(selanjutnya…)

Friday, June 16, 2006

Potret Kehariinian

Oleh Herry Mardian.

photoframe

SIANG tadi, ibu menghampiriku di tempat aku biasa bekerja. Wajahnya agak miris. Di tangannya ada tiga koran: Kompas, Republika dan Koran Tempo, koran langganan kami setiap hari.

“Coba lihat ini. Kamu sudah baca?” katanya.

Tidak biasa-biasanya ibu mendatangiku hanya untuk membicarakan sesuatu yang tertulis di koran. Pasti berita itu adalah berita yang benar-benar ‘mengganggunya’.
(selanjutnya…)

Friday, June 9, 2006

Menghakimi Orang Lain dan Ketidakbersyukuran

Berikut ini nasihat dari seseorang yang sering memberi nasihat kepada saya. Ia menyampaikannya dalam konteks ketidakbersyukuran manusia, dan kecenderungan manusia untuk menghakimi orang lain.

Ini kisah yang pernah terjadi pada seorang wali. Suatu ketika ia melihat seekor kucing di dekatnya. Kucing ini, bulunya kering dan rontok di sana sini… pendek kata, buruk rupanya.

Lalu terlintas kata-kata di hati sang wali, “Buruk sekali kucing ini..”
(selanjutnya…)

Thursday, June 8, 2006

Pengertian ‘Ulil-Albaab’

Herry Mardian, Yayasan Paramartha

Kata ‘ulil-albaab’, secara awam sering diterjemahkan sebagai ‘orang yang berakal’ atau ‘orang yang berfikir’. Pengertian ini tidak salah, tapi mungkin sudah saatnya kita memahami arti kata ‘ulil-albaab’ dengan lebih presisi lagi, sehingga setiap kata ‘ulil-albaab’ yang kita baca dalam Al-Qur’an akan menjadi lebih berbunyi dan bermakna lagi di dalam hati kita.

Sebagai contoh, kita lihat dua ayat dari firman Allah berikut ini:

12:111

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi) terdapat pengajaran bagi ‘ulil-albaab (diterjemahkan menjadi: bagi orang-orang yang berakal)…” Q.S. [12] : 111

13:19

“Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah ‘ulul-albaab (diterjemahkan: orang-orang yang berakal) saja yang dapat mengambil pelajaran.” Q.S. [13] : 19.

(selanjutnya…)

Mursyid, Salik, dan Thariqah.

Alfathri Adlin (direktur PICTS, editor penerbit Jalasutra) dan Herry Mardian (Ed.)

Sebiji buncis meronta dan terus melompat
hingga hampir melampaui bibir kuali
di mana ia tengah direbus di atas api.

“Kenapa kau lakukan ini padaku?”

Dengan sendok kayunya,
Sang Juru Masak mementungnya jatuh kembali.

“Jangan coba-coba melompat keluar.
Kau kira aku sedang menyiksamu?
Aku memberimu cita rasa!
Sehingga kau layak bersanding dengan rempah dan nasi
untuk menjadi gelora kehidupan dalam diri seseorang.

Ingatlah saat-saat kau nikmati regukan air hujan di kebun.
Saat itu ada untuk saat ini!”

Pertama, keindahan. Lalu kenikmatan,
kemudian kehidupan baru yang mendidih akan muncul.
Setelah itu, Sang Sahabat akan punya sesuatu yang enak untuk dimakan.

Pada saatnya, buncis akan berkata pada Sang Juru Masak,
“Rebuslah aku lagi. Hajar aku dengan sendok adukan,
karena aku tak bisa melakukannya sendirian.

Aku seperti gajah yang melamun menerawang
tentang taman di Hindustan yang dulu kutinggalkan,
dan tidak memperhatikan pawang pengendali arah jalan.
Engkaulah pemasakku, pawangku, jalanku menuju cita rasa kesejatian.
Aku suka caramu membuat masakan.”

“Dulu aku pun seperti engkau,
masih hijau dari atas tanah. Lalu aku direbus matang dalam waktu,
direbus matang dalam jasad. Dua rebusan yang dahsyat.

Jiwa binatang dalam diriku tumbuh kuat.
Kukendalikan dia dengan latihan,
lalu aku direbus lagi, dan direbus lagi.
Pada satu titik aku melampaui itu semua,

dan menjadi gurumu.1

Seorang Mursyid yang sejati, yang menerima perintah khusus dari Allah untuk menjadi guru bagi para pejalan sufi, bisa tampil dengan berbagai macam wajah. Ada kalanya ia tampak lembut dan sabar, begitu mudah dipahami. Ada kalanya pula ia tampil dengan galak dan keras, begitu membingungkan dan sulit dipahami.

Seorang mursyid akan mendidik murid-muridnya untuk belajar mengendalikan seluruh bala tentara hawa nafsu dan syahwatnya, untuk mengenal segala macam aspek yang ada dalam diri masing-masing, dan untuk memunculkan potensi dirinya yang sesungguhnya. Potensi yang diletakkan Allah dalam qalb masing-masing manusia ketika ia dijadikan.
(selanjutnya…)

Friday, June 2, 2006

Kakek Peniup Seruling Bambu

seruling bambu

kulihat engkau berjalan dibalut malam. perlahan, berteman butiran hujan. seruling bambu tak pernah berlalu. topi lusuh berceloteh tentang peluh. badan ringkih dililit kain lusuh.

lalu kau dudukkan tubuhmu di bawah temaram lampu sebuah jalan. coba hilangkan letih yang memakan kaki, menusuk menggigit hingga ke nadi.
(selanjutnya…)

Kerinduan III

dermaga tua

engkau duduk di atas dermaga tua. memeluk kaki erat dan memandangku tanpa suara, tanpa kata. hanya tatap lembutmu yang berbicara, menyapa hatiku yang tlah lama memendam rindu.

debur ombak bermain berkejaran di depan kita, seakan ingin menggoda kita berdua, yang tengah tenggelam dalam kebingungan kata. buih-buih yang tersisa di bebatuan karang bercerita tentang hati dan cinta yang saling menjaga.
(selanjutnya…)

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites