Memahami Nama ‘Hu’/'Huwa’: Dia Yang Tak Bisa Diliputi Nama
Herry Mardian, Yayasan Paramartha.
A. Sebutan Tuhan
Sahabat-sahabat, kadang kita terlalu cepat ‘memagari diri’ dari istilah-istilah yang kita anggap tidak berada dalam domain yang sama dengan agama kita. Terlalu cepat ‘mengkafirkan’. Bukan mengkafirkan orang lain, tapi mengkafirkan bahasa (lain). Dengan memagari diri seperti ini, apalagi dengan didahului prasangka, maka dengan sendirinya kita akan semakin sulit saja memahami hikmah kebenaran yang Dia tebarkan di mana-mana.
Padahal, dalam Qur’an pun Allah menjelaskan bahwa beragam bahasa adalah tanda dari-Nya juga.
“Dan diantara ayat-ayatnya ialah menciptakan langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi orang-orang berilmu (’Alimiin).” Q.S. 30 : 22.
Jika ada orang menyebut tuhannya sebagai Yehovah, Eloh, Eloheim, atau Adonai, mekanisme dalam pikiran kita mendadak seperti mencipta imaji-imaji bahwa ada banyak tuhan yang sedang berjejer, sesuai urutan sesembahan yang ada sepanjang masa. Ada tuhan yang disebut Yehovah, Eloheim, Jahveh, Brahma, Manitou, Zeus, Allah, Tuhan Alah, dan lain sebagainya. Sedangkan yang kita sembah adalah yang disebut Allah, yang lainnya bukan, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuhan kita dan agama kita. Pokoknya thoghut, atau kafir.
Benarkah begitu? Bukankah Tuhan hanya satu? Bukankah ‘Laa ilaaha Ila’Llah’ artinya tiada Tuhan selain Allah? Wallahu ‘alam, meski saya mengerti bahwa Tuhan hanya satu, tapi saya belum mengetahui secara total makna lahiriyah maupun batiniyah dari kalimat syahadat itu. Tapi setidaknya, bukankah cara berfikir yang seperti tadi juga berarti bahwa tanpa sadar pikiran kita telah menyejajarkan Dia dengan selain-Nya? Atau, secara halus dan tersamar sekali, itu artinya kita masih mengakui bahwa ada banyak entitas dalam satu himpunan tuhan, dan Allah adalah salah satu dari yang ada dalam himpunan itu. Bukankah itu keterlaluan?
Istilah ‘Allah’ sudah ada sejak sebelum Al-Qur’an turun. Sebelum junjungan kita Rasulullah menerima wahyunya yang pertama, bangsa Arab sudah menggunakan kata- kata ‘demi Allah’ jika mengucapkan sumpah. Hanya saja, mereka juga sering menyebut nama patung-patung mereka, ‘demi Lata’ atau ‘demi Uzza’, ‘demi punggung istriku’, atau bahkan ‘demi kuburan ibuku’, dalam sumpah mereka.
Kapan istilah ‘Allah’ pertama kali dikenal manusia? Tidak tahu persis. Diperkirakan tidak akan jauh dari periode kemunculan agama Islam yang dibawa Rasulullah di tanah Arab. Tapi apakah berarti, pada periode sebelum itu, Allah diam saja di langit sana, dan tidak memperkenalkan diri-Nya? Rasanya kok tidak demikian ya. Saya suka bertanya-tanya, misalnya dengan nama apa Allah mengenalkan diri-Nya pada nabi Ya’kub as dan nabi Musa as, nabi bangsa Bani Israil? Karena pada kenyataannya, bangsa yahudi sekarang tidak menyebut nama-Nya dengan sebutan ‘Allah’ yang sesuai dengan bahasa Arab.
Kitab suci dari Allah yang kita kenal ada empat: Taurat, Zabur, Injil, dan kitab penutup dan penyempurna semuanya, Al-Qur’an. Taurat, atau Torah, turun kepada Nabi Musa as. Karena Musa adalah orang Bani Israil, tentu kitab yang turun pun berbahasa mereka, Ibrani. Demikian pula Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Semua turun dan disampaikan dengan bahasa penerimanya.
Jadi, apakah salah jika orang yang kebetulan beragama lain, menyebut nama Allah dengan nama yang turun pada bahasa kitab mereka? Apakah itu Tuhan yang lain? Belum tentu. Sekali lagi, kita tidak boleh terlalu cepat ‘mengkafir-kafirkan’, termasuk mengkafirkan bahasa dan istilah.
Ada banyak sekali irisan kemiripan bahasa-bahasa agama dalam sejarah. Sebagai contoh, nama ‘Allah’, sangat mirip dengan ‘Eloh’. Dalam kitab-kitab Ibrani, Tuhan disebut sebagai ‘Eloheim’. Dari asal kata ini, kita mengerti misalnya arti kata ‘betlehem.’ Dari asal katanya, Bethel dan Eloheim. ‘Bethel’ bermakna rumah, dan ‘Eloheim’ adalah Allah. Rumah Allah. Jika demikian, apa bedanya kata ‘Betlehem’ dengan ‘Baytullah’?
Juga ‘Yehova’ atau ‘Yahwe’, sangat mirip dengan ‘Ya Huwa’, Wahai Dia (yang tak bernama). Yang agak ‘mencurigakan’, adalah inti ajaran Socrates, ‘Gnothi Seauthon’, yang artinya adalah ‘Kenalilah Dirimu.’ Dari segi makna, ini sangat mirip dengan inti hadits yang sering diulang-ulang oleh para sahabat Rasulullah maupun para sufi terkemuka, ‘man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu,’ mereka yang ‘arif tentang dirinya, akan ‘arif pula tentang Rabb nya.’ Esensinya sangat mirip: mengenal diri. Dan sebuah fakta yang tak kalah menariknya, sejarah mencatat bahwa Socrates adalah guru dari Plato, Plato guru dari Aristoteles, dan Aristoteles adalah guru dari Alexander of Macedon. Sosok yang terakhir ini oleh sebagian ahli tafsir disamakan dengan Iskandar Dzulqarnayn, sosok panglima yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua tuhan sama saja, yang berbeda hanya namanya. Atau dewa pada tiang totem yang disembah bangsa indian apache adalah Allah juga. Bukan begitu. Saya hanya mengatakan bahwa kita sebaiknya jangan terlalu ‘alergi’ dengan kata-kata agamis dari agama lain. Kita harus berhati-hati sekali untuk ‘mengkafirkan’ istilah. Sebab kalau ternyata salah, maka artinya kita ‘mengkafirkan’ sebuah hikmah atau sebuah tanda dari-Nya. Maka kita akan semakin jauh saja dari kebenaran.
Bukankah Allah pasti menyebarkan jejak-Nya di mana-mana, sepanjang zaman? Dan jangan berfikir bahwa Allah hanya pernah dan hanya mau ‘muncul’ di agama kita saja. Ini berarti kita, sebagai makhluk, berani-berani menempatkan Allah dalam sebuah himpunan, ke sebuah konsep di dalam kepala kita. Himpunan deretan tuhan, atau himpunan kelompok agama.
Allah adalah Tuhan. La Ilaha Ilallah. Dia ada di luar himpunan apapun. Dia tak beragama, dan tidak memeluk agama apapun. Karena itu, kita jangan berfikir, baik sadar maupun tidak, bahwa Allah ‘beragama Islam’.
Agama diciptakan-Nya sebagai jalan untuk memahami-Nya, memahami kehidupan, dan memahami diri ini. Segala sesuatu Dia ciptakan dan Dia akhiri. Maka Allah adalah sumber dan akhir segalanya. Dua asma- Nya adalah ‘Al-Awwal’ dan ‘Al-Akhir’. Ini pun sebuah kebetulan yang menarik, karena bangsa Yunani kuno, bangsanya Socrates dan Plato, eyang guru dari Alexander tadi, juga menyebut salah satu nama yang dimiliki Tuhan mereka sebagai ‘Alpha Omega’, berarti ‘Yang Awal dan Yang Akhir’ (Alpha = Alif = huruf awal dalam alfabet yunani dan arab, simbol ‘awal’; sedangkan Omega = huruf terakhir dalam alfabet yunani, simbol ‘akhir’). Kemiripan yang sangat menarik, ya?
B. Asma-asma Allah.
Allah, adalah sebuah zat, sebuah entitas, yang tertinggi. Tak terbandingkan, tak terukur, tak terperi. Lalu apakah kita, sebagai makhluk, memungkinkan untuk menempatkan Dia ke dalam kepala kita, menaruhnya ke dalam sebuah konsep ‘nama’? Tentu tidak. Dia, secara utuh, secara menyeluruh, secara real, sesungguhnya tak bernama. Tak ada apapun yang bisa membungkus-Nya, termasuk sebuah nama.
Lalu untuk apakah, atau nama-nama siapakah, yang berjumlah sembilan puluh sembilan sebagaimana diperkenalkan dalam Al-Qur’an, dan disusun sebagai ‘asma’ul husna’? Nah, itu adalah bukti begitu penyayangnya Dia pada makhluknya yang satu ini, manusia.
Penjelasannya begini. Dia Yang Tertinggi jelas tak mungkin dibungkus atau terliputi oleh apapun, termasuk sebuah nama. Tapi Dia bersedia ‘menurunkan derajat-Nya’ demi supaya lebih dimengerti oleh manusia. Maka Dia memperkenalkan diri-Nya, bagi mereka yang ingin mengenal-Nya di tahap awal, dengan memisalkan dirinya dengan nama-nama sifat manusia. Memisalkan diri-Nya dengan nama-nama yang memungkinkan untuk dideskripsikan dalam bahasa manusia.
Ambil contoh, Ar-Rahmaan (Maha Pengasih) atau Ar-Rahiim (Maha Penyayang). Kita bisa memahami makna dua kata ini, karena nama sifat-sifat ini, pengasih dan penyayang, adalah nama sifat yang juga ada pada manusia. Tapi dari segi makna, kedua kata ini dalam memperkenalkan nama sifat-Nya sebenarnya telah mengalami degradasi makna yang amat sangat.
Maha Pengasih, atau Ar-Rahmaan, adalah ‘hanya’ bahasa manusia yang paling memungkinkan untuk menggambarkan salah satu sifat-Nya. Tapi kedalaman makna istilah ini telah berkurang jauh sekali, karena Dia, yang Tak Terperi, memisalkan diri-Nya dengan istilah manusia yang jelas tak memadai untuk melukiskan diri-Nya yang tak terbatas. Dalam asma’ul husna, misalkan istilah ‘Ar-Rahim’, sebenarnya ‘hanya’ merupakan sebuah istilah yang masih memungkinkan untuk bisa terpahami oleh manusia. Sifat Penyayang-Nya yang asli, yang real, yang tidak bisa dimisalkan dengan bahasa manusia, adalah jauh, jauh, jauh lebih penyayang lagi, melebihi apa yang tergambar pada sepotong kata ‘Ar-Rahim’.
Demikian pula untuk ke-98 asma asma Allah yang lain. Semua nama-nama tersebut, sebenarnya mengalami degradasi makna yang sangat jauh dari aslinya, demi supaya terpahami oleh kita, manusia. Sifatnya yang asli, tak terkira jauhnya melebihi apa yang mampu tergambarkan oleh sepotong kata dalam bahasa kita, manusia.
Allah telah berkenan ‘merendahkan diri-Nya’ ke dalam nama sifat-sifat manusia, yang jauh, jauh lebih rendah dari kedudukan-Nya yang asli. Ia bersedia dipanggil dengan bahasa kita. Ini sebuah bukti kasihsayang-Nya yang amat sangat. Bisakah kita membayangkan, misalnya ada seorang raja yang kerajaannya mencakup lima benua, lalu bersedia turun berjalan di pasar kumuh dan mau dipanggil dengan bahasa pasar, seperti ‘Lu’, ‘Sia’, atau ‘Kowe’? Raja tentu akan sangat murka. Tapi Dia, Allah, tidak. Meskipun Dia Maha Tinggi kedudukannya, tapi Dia bahkan bersedia memperkenalkan diri-Nya lebih dahulu (!), dan membahasakan diri-Nya dengan bahasa manusia, dan mencontohkan asma-Nya dengan sifat manusia.
‘Dia’ yang asli, sesungguhnya tidak bernama. Lalu istilah ‘Allah’ itu apa? Istilah itu ‘hanyalah’ bagian dari asma’ul husna, pada urutan yang pertama.
Istilah ‘Allah’, menurut seorang ahli hikmah, sebenarnya sebuah simbol juga. Menurutnya, istilah ‘Allah’, yang terdiri dari:
‘alif’, ‘lam’, ‘lam’ dan ‘ha’,
sesungguhnya merupakan singkatan dari kata bahasa Arab:
‘Al/Alif - li - li - hu/huwa’.

‘Al’ dalam bahasa Arab bermakna kata ganti tertentu, maknanya sama seperti ‘The’ dalam bahasa Inggris, atau seperti ‘El’ dalam bahasa Ibrani dan bahasa Spanyol. Maknanya, katakanlah, ’sesuatu’. Huruf ‘Alif’ bermakna ’sesuatu yang tegak’, ‘Allah’, atau bisa juga ‘yang mengawali’, mirip seperti alpha dalam aksara Yunani. Kata ‘Li’ dalam bahasa Arab bermakna ‘bagi sesuatu’, dan dalam lafaz ‘Allah’ kata ini diulang dua kali. Sedangkan ‘hu’ atau ‘huwa’ bermakna ‘Dia’.
Jadi lafaz ‘Allah’, kata yang di dalam Al-Qur’an paling sering dipakai-Nya untuk menyebut diri-Nya, sebenarnya sama sekali tidak mencakup keseluruhan zat-Nya. Lafaz ‘Allah’ sebagai simbol, sebenarnya justru mempertegas bahwa ‘Dia’ adalah tak bernama. Mengapa demikian? Karena jika makna ini dibaca secara keseluruhan, maka “Al, li, li, hu” kurang lebih maknanya adalah ‘Sesuatu, yang baginya diperuntukkan, dan sesuatu ini diperuntukkan, untuk Dia.” Jadi artinya secara sederhana adalah, ‘(simbol) ini diperuntukkan, dan permisalan ini diperuntukkan, untuk Dia (yang tak bernama).”
Dia yang asli, sebagai zat (entitas), sama sekali tak bisa diliputi oleh sebuah nama.
C. Hadits Rasulullah yang mengandung simbol serupa.
Kalau kita teliti dalam memperhatikan hadits berikut ini, kita akan mengerti bahwa Rasulullah bukan orang yang berkata dengan ‘pendapatnya sendiri’. Orang dalam tingkatan maqam seperti Rasulullan saw., tentulah setiap tindak tanduk dan perkataanya sudah sepenuhnya dalam bimbingan Allah swt. Tampak dari demikian akuratnya simbol-simbol yang digunakan, meskipun jika kita baca secara sepintas hadits ini sangatlah sederhana dan tidak bermakna dalam. Hanya kalau kita teliti, betapa dalam dan akuratnya simbol yang Beliau gunakan dalam kata- katanya.
Kita lihat hadits berikut ini:
Diriwayatkan dari riwayat Abu Hurairah ra.:
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat?”
Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama?”
Para sahabat menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.”
Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan?”
Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.”
Rasulullah saw. bersabda, “Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia kelak mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala.”
[H. R. Muslim no. 267]
Sepintas, hadits ini hanya berisi tentang melihat Allah di hari kiamat. Tapi kalau kita teliti lebih jauh perumpamaan yang digunakan dengan kacamata ilmu astronomi yang pada saat Rasul mengatakan hadits tersebut ilmu ini belum semaju sekarang, sebenarnya hadits ini juga menjelaskan bahwa ada bagian dari ‘Dia’ yang tak akan bisa kita kenali. Kita cermati perumpamaan bulan purnama yang dipakai beliau dalam hadits ini.
Sebagaimana kita tahu, pada saat bulan purnama di langit malam yang cerah, kita bisa melihat bulan ’seluruhnya’. Kata seluruhnya ini saya beri tanda kutip, karena memang ’seluruhnya’ itu semu. Kita melihat –seakan-akan– bulan tampak seluruhnya dari mata kita. Kita, saat itu, seakan-akan bisa ‘mengenal’ bulan seluruhnya.
Nah, di zaman modern ini, kita tentu mengetahui bahwa bulan adalah sebuah ’satelit,’ sebuah planet kecil yang mengelilingi bumi. Periode waktu rotasi bulan, sama persis dengan periode lamanya bulan mengelilingi bumi. Jadi, permukaan bulan yang menghadap bumi setiap saat adalah sisi yang sama persis, yang itu-itu saja. Tidak berubah.
Demikian pula, ada sisi lain di balik bulan yang akan selalu tidak tampak dari bumi, yang setiap saat akan selalu membelakangi bumi, tidak akan pernah terlihat dari bumi. Dengan kata lain, jika kita berdiri di sisi bulan yang terlihat dari bumi, maka meski bulan berotasi sambil terus mengorbit mengelilingi bumi, kita akan selalu terlihat dari bumi. Sebaliknya, jika kita berdiri di sisi bulan yang tidak terlihat dari bumi, maka kita tidak akan pernah terlihat dari bumi pula.
Gambar jelasnya seperti ini:

Inilah sebabnya, sejak zaman manusia pertama ada hingga sekarang, permukaan bulan yang tampak dari bumi kelihatannya tak pernah berubah, karena sisi yang menghadap bumi senantiasa merupakan sisi yang sama.
Di hadits ini, Rasul memisalkan Allah sebagai bulan purnama. Bulan, sebagaimana telah dijelaskan tadi, hanya ada satu sisi yang bisa terlihat oleh kita. Jadi, secara tersirat dalam hadits tadi, Rasulullah juga menjelaskan bahwa sesempurna- sempurnanya pengenalan seseorang akan Allah (seperti orang yang telah mencapai maqam para sahabat Beliau itu), sebenarnya barulah satu sisi dari Dia saja. Sisi yang memang Dia hadapkan sepenuhnya kepada manusia. Sisi inilah yang dalam bahasa agama disebut sebagai “Wajah-Nya.”
Tapi sampai kapan pun, akan tetap ada sisi lain dari Dia yang tidak akan pernah terpahami oleh manusia (karena Dia sesungguhnya Maha Tak Terbatas). Dan keseluruhan ‘Dia’ secara utuh, yang bisa dikenali dan yang tidak, dalam bahasa agama disebut “Zat-Nya,” atau entitas-Nya, secara keseluruhan.
Jadi sekarang kita bisa lebih memahami, jika dalam Al-Qur’an atau doa yang diajarkan Rasulullah mengandung kata-kata ‘wajah Allah’ atau ‘wajah-Nya (wajhahu)‘, maka itu bukan berarti bahwa Dia memiliki wajah di depan kepala seperti kita. Itu maknanya adalah, konteks ‘Dia’ dalam kalimat itu adalah pada sisi yang masih bisa kita kenali. Sedangkan Zat-Nya yang utuh tidak akan pernah bisa kenali.
Mengenai zat-Nya, Al-Qur’an sendiri cukup menerangkan seperti ini:
“…laysa kamitslihi syay’un”
“… dan tiada sesuatupun yang bisa dijadikan permisalan untuk Dia.” (QS. 42 : 11)
Rasul melarang manusia memikirkan zat-Nya, dalam sabdanya, “Berfikirlah kalian tentang makhluk Allah, dan jangan sekali-kali berfikir tentang zat-Nya, sebab kalian akan binasa.” Bahkan Beliau sendiri pun mengakui bahwa dirinya tidak memahami ‘Dia’ dalam konteks zat, sebab dalam sabdanya Beliau menjelaskan, “sesungguhnya aku adalah orang yang bodoh dalam ihwal zat Tuhanku.”
Kembali pada contoh bulan di atas. Bulan, sesuai periode edarnya, akan tampak dari bumi bermacam-macam bentuknya, mulai dari bulan hitam (bulan tak tampak), bulan hilal, bulan sabit, bulan setengah, hingga bulan purnama.
Sebenarnya demikian pula pengenalan manusia kepada Allah ta’ala. Ada yang tidak mengenal sama sekali (bulan hitam), ada yang pengenalannya setipis hilal, ada yang pengenalannya seperti bulan setengah, dan ada pula yang pengenalannya terhadap Allah telah ‘purnama’. Namun demikian, sebagai zat tetap saja Dia tidak akan pernah terpahami sepenuhnya oleh manusia, karena Dia adalah Maha Tak Terbatas.

Dari sini saja, kita bisa mengerti bahwa faham panteisme, atau menyatunya Tuhan dan manusia sebagaimana yang dituduhkan kepada kaum sufi, adalah tidak tepat. Tentu mustahil sesuatu yang tak terbatas bisa terlingkupi oleh sesuatu yang terbatas.
Agaknya yang dituduhkan pada kaum sufi sebagai panteisme atau penyatuan, sebenarnya yang terjadi adalah ’sirna kediriannya’. Contohnya seperti cahaya lilin yang akan lenyap cahayanya jika diletakkan di bawah cahaya matahari. Ini masih perlu kita kaji lebih lanjut. Atau paling tidak, agaknya tidak semua sufi meyakini panteisme. Seperti kata teman saya: “Sufi, pantheisme? Sufi yang mana dulu, nih?”
Sekarang, dari cara Rasulullah memberikan contoh pada dalam hadits di atas, kita bisa lebih mengerti kira-kira sedalam apa akurasi hikmah dari kata-kata seseorang jika telah ada dalam tingkatan maqam seperti junjungan kita Rasulullah Muhammad saw. Tentu beliau tidak asal ambil contoh saja, seperti ketika kita sedang berusaha menerangkan sesuatu kepada orang lain. Sekarang semakin jelas pula bahwa segala sesuatu dari diri Beliau telah ditetapkan dalam bimbingan Allah ta’ala, bahkan sampai hal ’sepele’ seperti mengambil contoh yang tepat ketika menerangkan sebuah persoalan.
Juga sebagaimana hadits Rasulullah tadi, segala sesuatu dalam ciptaan-Nya pun tidaklah semata-mata hanya sebagaimana yang tampak dari luar. Allah tentu tidaklah sesederhana itu. Seperti hadits tadi, segala sesuatu juga mengandung makna batin. Alam semesta, bulan, bintang, batu, hewan, tumbuhan, manusia, syariat (ada syariat lahir dan tentu ada syariat batin), dan lain sebagainya. Sedalam apa seseorang melihat maknanya, tentu sangat tergantung pada kesucian qalbnya, sarana untuk menerima ilmu dari-Nya.
Kini kita bisa sedikit lebih mengerti pula, seperti apa kira-kira kesucian qalb Rasulullah saw, jika kata-kata Beliau mampu menyederhanakan kandungan makna yang sedalam itu (itupun baru yang bisa kita ungkapkan) dalam kesederhanaan simbol-simbol yang sangat akurat.
Kalau Al-Qur’an? Lebih tak bisa kita bayangkan lagi seperti apa sesungguhnya kedalaman kandungan makna Al-Qur’an.
Semoga bermanfaat,
Herry Mardian
http://suluk.blogsome.com
—
Untuk Bambang Setyadi, Kang Kuswandani dan Mas Nuaim, thanks for the ideas! Semoga menjadi amal soleh.



Saya kenal kak Herry dari waktu kuliah dulu. Membaca web ini, jadi menyadari betapa indahnya cara Allah mentransformasi seorang hambaNya. Terus berkarya ya kak. Ditunggu … Oh ya, tadinya saya berharap ada kategori “Film” di sini :)
Comment #59 by Tari — Sunday, February 19, 2006 @ 13:17
Assalamu’alaikum Wr..Wb..
Salam kenal buat Mas Herry Mardian isi website ini bagus banget dan saya senang bisa mendapatkan pengetahun dari sini.
Semoga Allah senatiasa memberikan kesehatan serta keluasan ilmu buat Mas Herry agar bisa terus berkarya..
Wassalam,
Anto
Comment #62 by Purbanto — Monday, February 20, 2006 @ 15:04
Wa alaikumus Salaam Wr Wb
Terimakasih banyak Ms Anto, salam kenal juga.. Terimakasih banyak doanya, semoga Allah juga menganugerahkan yang sama kepada Mas Anto.
Wassalaam,
Herry
Comment #63 by Herry — Monday, February 20, 2006 @ 17:29
Assalamu`alaikum Wr.Wb.
Salam Kenal Untuk Abangku Banh Herry,
Inilah yang ana cari selama ini, tetntang website yang bicara soal ini, salut buat Bang Herri, semoga Alloh selalu menjaga Banh herri sehingga dapat terus berkarya, dan Insya Alloh Ilmu bang Herri ini bisa ana dakwahkan ke teman-teman yang lain dan semoga Alloh menjadikan suatu amalan yang akan terus mengalir dan menjadi amalan yang akan membawa kita kesyurgaNya. amiiin
Terima Kasih Bang Herry
Comment #82 by Insan Kamil — Wednesday, March 1, 2006 @ 13:52
Salam kenal juga, terima kasih banyak…
Comment #87 by Herry — Thursday, March 2, 2006 @ 15:19
terima kasih juga, ilmu di laman web ini sgt memberi manfaat + mencambahkan pemikiran. Semoga sahabat terus diberi hidayah dan buah fikiran utk terus berkarya dan di kongsi dgn teman2.
sahabat2 dari Malaysia juga dpt merasa manfaatnya, iAllah
Comment #149 by anuar — Tuesday, April 11, 2006 @ 23:58
dalam berbicara tauhid harus dibedakan antara dzat, sifat, dan asma. karena kalau tidak dibedakan akan kacau. sebagai contoh ketika seseorang mengartikan al-Rahman dalam ayat “Ar-Rahamnu alal ‘Arsyistawa” sebagai dzat. menjadi sangat fatal.
sedikit ngasi masukan saya setuju bahwa Allah bukan nama dzat karena ism Allah adalah isim sifat uluhiyyah. lillahi dzat walaisat kadzawatina. walidzati ismu al-a’dzom la ya’lamuha illa al-waris al-muhammadi. walidzadi sifatun wahua sifatul uluhiyyah. walisshifati ismun wahua ALLAH.
Comment #252 by al-Burhamy — Sunday, April 23, 2006 @ 23:06
Untuk Al-Burhamy diatas, bisa tak diterjemahkan ertinya?
“lillahi dzat walaisat kadzawatina. walidzati ismu al-a’dzom la ya’lamuha illa al-waris al-muhammadi. walidzadi sifatun wahua sifatul uluhiyyah. walisshifati ismun wahua ALLAH.”
Terima kasih.Wassalam
Comment #310 by shafik — Thursday, June 22, 2006 @ 12:41
lillahi dzat = kepada Allah, zat
walaisat = dan kecuali
kadzawatina = …. (?)
walidzati ismu al-a’dzom = dan kepada zat nama yang besar
la ya’lamuha illa = Tidak mengetahuinya kecuali
al-waris al-muhammadi = sang pewaris yang terpuji (mungkin merujuk Nabi Muhammad)
walidzadi sifatun = dan kepada zat (bukan dzad kayaknya) sifat
wahua sifatul uluhiyyah = dan ia sifat uluhiyah
walisshifati ismun = dan kepada sifat nama
wahua ALLAH = dan Dia Allah
Comment #313 by Imam — Thursday, June 22, 2006 @ 21:28
“lillahi dzat walaisat kadzawatina.
Walidzati ismu al-a’dzom la ya’lamuha illa al-waris al-muhammadi.
Walidzadi sifatun wahua sifatul uluhiyyah.
walisshifati ismun wahua ALLAH.”
Allah mempunyai zat dan tidak seperti zat-zat kita.
Dan zat itu mempunyai nama agung yang tidak mengetahuinya kecuali pewaris Muhammad.
Dan zat itu mempunyai sifat dan ia adalah sifat uluhiyah (keilahian).
Dan sifat itu mempunyai nama yakni Allah.
Comment #321 by Nuaim — Friday, June 23, 2006 @ 15:29
Subhanalloh, Alhamdulillah, Astaghfirullohal’adziim,
Semoga Alloh menjadikan dik Herry sebagai hamba-Nya yang disucikan, amiin.
Ditunggu terus karya-karyanya, semoga akan menjadi amal shalih bagi dik Herry, amiin.
Terima kasih
Comment #407 by dodi — Wednesday, October 11, 2006 @ 11:51
La ilaha Ilallah, walhamdulillahi rabbil alamin.
Doa yang sama saya haturkan untuk mas dodi, juga untuk para saudaranya… semoga kita semua dituntun-Nya untuk memahami keagungan-Nya dan dijadikan takjub kepada-Nya.
Comment #408 by Herry — Wednesday, October 11, 2006 @ 15:14
Aduh Her…ente abis ngisep apa sih bisa sampai dapat pencerahan seperti ini….saya mau juga dong…
Thanks for sharing the knowledge! God bless…
Comment #496 by Rachmat Ardiyanto — Sunday, December 24, 2006 @ 13:58
hehe
ngisep O2 mat, like everyone else! With a little caffeine dope.
No problem mate. Take care!
Comment #498 by Herry — Tuesday, December 26, 2006 @ 20:40
betul mas Herry, bahwa Allah adalah salah satu nama dari suatu Zat Mutlak atau Wajibul Wujud, sebutan Tuhan bagi orang Arab. Orang Yahudi menyebutNya Eloheim. Orang Hindu menyebutnya Hyang Widi. Orang Jawa menyebutnya Gusti atau Pangeran, dst.
Ada kelompok yang berfaham agama sangat sempit (biasanya kelompok fundamentalis) menganggap hanya nama Allah saja yang benar. Selain itu “syirik”.
Mereka perlu banyak membaca tulisan-tulisan semacam ini.
Maju terus mas !
TM
Comment #513 by T Mulyadi — Wednesday, January 3, 2007 @ 15:06
Luar biasa mas Herry, salam kenal ya!
Seseorang yang namanya cuma ‘Herry’, tapi bisa mengulas nama Tuhan yang tidak terbatas secara sederhana. Aku yang masih buta tentang Tuhan pun bisa memahami dengan mudah.
Trims mas Hery atas lecutan tulisannya. Lanjutkan tulisan anda hingga terdengar oleh nama-nama insan lain yang belum mengenal nama Tuhan.
Comment #603 by Falestien — Friday, March 16, 2007 @ 12:38
Alhamdulillah, salam kenal juga…
Terima kasih telah berkunjung dan membacanya… Juga untuk mas T. Mulyadi, salam kenal !
Comment #604 by Herry — Friday, March 16, 2007 @ 13:06
makasi ya , atas informasinya . hehehe ..
Comment #657 by michele — Thursday, April 5, 2007 @ 12:42
:D makasih kembali…
Comment #660 by Herry — Thursday, April 5, 2007 @ 22:06
Tolong info alamat YM-nya dong….sy ingin diskusi langsung , biar lebih memehami lagi…!! thnk’s –.
Comment #672 by ghozali muchtar — Saturday, April 14, 2007 @ 21:28
Bismillahirrahmaanirrahiim, dengan menyebut nama Allah. Berarti, dengan mengucapkan bismillah tersebut, kita belum menyebut nama-Nya yang sebenarnya. Begitukah maksudnya? Jadi, siapa dong nama Allah yang sebenarnya (Nama zat-Nya, bukan sifat)? Teman saya bilang, ada nama yang lain dari Asmaul Husna. Itu disebut nama zat atau nama yang keseratus. Malah, ada lagi yang katanya nama ke-101. Bagi orang tasawuf, katanya itu yang disebut zikir sir (rahasia)? Gimana mas, betul nggak
Comment #675 by ronald — Monday, April 16, 2007 @ 20:14
saya tidak membaca seluruhnya tapi sebenarnya saya tertarik dengan bacaan ini,maklum di tempat kerja …….
saya hanya berharap mudah22an catatan ini ada mamfaatnya bagi perjuangan islam sehinga islam akan kembali ke muaranya seprtia dulu ada di puncak kejayaanya di mana orang mendengar nama islam saja sudah bergetar amien ya robbal alamien salam dai saya untuk pemuja Alloh dan rosulnya:
Comment #681 by nier — Tuesday, April 17, 2007 @ 20:13
شكرااااااااااااااااااا
Comment #689 by www.alwaha.com — Friday, April 20, 2007 @ 14:51
These comments have been invaluable to me as is this whole site. I thank you for your comment.
Comment #704 by Rosie — Monday, April 30, 2007 @ 21:39
berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi..
assalamualaikumWr.Wb
Comment #726 by inresto — Friday, May 18, 2007 @ 05:17
bunga tak kembang lantaran hujan yang banyak…
tubuh tak tegak lantaran tulang dan daging….
keadaan berubah, sebab kehendak menjemput, yang dijemput…
tak semua durian berbau, namun bau durian pasti adanya…,
belajar, mendatangkan tahu, menerapkannya mendatangkan keyakinan dari pengetahuan, keyakinan yang tegak mendatangkan ilmu, ilmu mendatangkan agama..agama mendatangkan ketaatan yang ridha dan diridhai….
jangan berputus asa, jalan terbuka dan banyak tersedia, bagi tiap diri yang hendak menempuhnya…
yang menemukan jalan tak usah merasa menemukannya sendiri…semua tertuntun dari kitab yang nyata…yang dibawa oleh Al-haq, yang terpercaya…
hatilah ruang pertemuannya, yang hanya dapat dirasa, namun tak dapat diraba…, jika kau cari sulit kau temukan, lakukan saja apapun kegiatanmu dengan rasa yang penuh kesenangan dan kasih sayang, dan merindu kepada Dia yang kau rindu, semoga cintakan menyembul dan merengkuhmu dalam pelukan indahnya…, kau akan kelepek-kelepek termabuk dalam kasih yang berada pada tiap tatapanmu yang menatapkanmu padaNYA….yang amat sangat mencintaimu…
tak usah bayak bertanya dengan lisanmu, cukup fikirmu mencari dari apapun yang ada…yang membawa pelita yang terang sehingga bercahaya ruang yang berilmu…, tempat bersemayamnya Sang Ilmu…..
Comment #728 by zal — Saturday, May 19, 2007 @ 11:52
artikelnya bagus, maaf saya minta izin utk ambil sebagian yang penting utk referensi buku saya, yang saya ambail cerita ttg Allah huwa nya..semoga kebaikan anda dibalas oleh Allah swt. wasalam - ambar setiadi-
Comment #782 by ambar setiadi — Saturday, June 16, 2007 @ 11:11
Assalamualaikum wR wB, salam kenal. Saya juga sering “curiga'’ dgn banyaknya kebetulan-kebetulan yang seperti benang merah diantara orang-orang yang berpikir tentang penciptaan bumi dan langit (termasuk diantaranya para filsuf dan nabi). Sepertinya “Dia” sengaja menampilkan diriNya dalam tampilan yang bisa dipahami manusia tapi mendekati manusia denan keintiman yang berbeda. Saya tidak berani mengatakan Al-Halajj itu benar, tapi juga tak bisa menyalahkannya untuk mengatakan dirinya bersatu dgn Tuhan. Karena cara Dia menampakkan diri mungkin sama, tapi bagaimana Dia mengakrabkan diri dengan mahlukNya, saya pikir berbeda. Saya ingat hadis Qudsi yang mengungkapkan bahwa Dia adalah khazanah terembunyi dan Ia menciptakan mahluk untuk mengenalnya. Seperti apa Ia memperkenalkan diri ? saya pikir setiap mahluk punya kesan yanberbeda, masing-masing. Wallahu a’lam.
WassalamualaikumwR wB
Comment #818 by temon — Saturday, June 30, 2007 @ 17:10
@temon, jika mencurigai, jangan mencurigai kalau yang dicurigai itu tidak ada, tapi curgakanlah hatimu bahwa yang dicurigai itu ada…:
Comment #821 by zal — Monday, July 2, 2007 @ 18:22
Hati-hati akan intervensi Dajjal dalam penulisan, Semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah.
Selamat dan terus berkarya yang mengupas eksistensi Ilmu Agama terhadap Bangsa Indonesia.
Comment #932 by indra — Saturday, August 4, 2007 @ 16:10
Dari segi orang awam seperti saya rasanya ‘kan Allah SWT berfirman bahwa Dia lebih dekat dari (urat leher) kita sendiri? Bahwa kita ditiupkan Ruh (ciptaan) Nya berdasarkan Sifat-Sifatnya yang 99 ke dalam manusia dalam derajat manusia tentunya. Dan itulah fitrah kita. Kalau kita melihat, bukan mata kita yang melihat ‘pun bukan otak kita yang melihat tapi kan “kita” jadi siapa kita?
Comment #1012 by Dwipa — Tuesday, September 4, 2007 @ 18:16
thank’s mas Wahyu , atas reply nya
Comment #1013 by amir — Wednesday, September 5, 2007 @ 11:28
Comment #1024 by huu — Tuesday, September 11, 2007 @ 21:46
Comment #1025 by huu — Tuesday, September 11, 2007 @ 21:51
Aku sampe merinding lho baca tulisan ini….
Comment #1064 by eva — Tuesday, September 25, 2007 @ 10:34
Aku biasa aja tuh gak merinding
Comment #1196 by Ery — Tuesday, January 22, 2008 @ 10:07
Assalamu’alaikum WWB
Terus terang kami sangat terkesan dengan isi dari artikel tersebut.
Oleh karena itu, kami berniat untuk me-repost (memposting ulang) tulisan tersebut di blog pribadi saya (http://maximalprime.wordpress.com) dengan harapan bisa memperluas dakwah Islam ke teman-teman lainnya, karena saya yakin masih banyak teman-teman di luar sana yang sedang mencari pencerahan (seperti saya).
Selain merepost tulisan tersebut, saya juga berniat mengutip salah satu komentar yang ada pada tulisan tersebut. Awalnya saya pengen “izin” langsung dari yang memberikan komentar, tapi yang ngasih komentar ternyata gak ada alamat yang lengkap sehingga tidak bisa saya hubungi. Jika ternyata yang punya komentar “singgah” lagi ke blog Bapak, mohon dikasih tau ke dia kalo komentarnya saya kutip ya Pak. (Takutnya nanti malah jadi “urusan” di alam selanjutnya… hehehe..)
Atas izin repostnya saya ucapkan ribuan terima kasih, dan semoga selalu diberikan limpahan Kasih Sayang-Nya. Amiinnn…!!! (saya tunggu balasan emailnya).
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh!
Hormat kami,
Maxx d’nubi
(budiarno)
Comment #1207 by maxx — Sunday, January 27, 2008 @ 23:12
Wa alaikum salaam, wr wb
Monggo wae mas, kalok mo repost dan dikutip
. Akad dari saya cuma minta link yang jelas di sana, yang menunjukkan sumber tulisan ini. Insya Allah kalau hak tulisan ini telah terpenuhi, maka tidak ada yang terzalimi dan tidak ada acara tuntut-menuntut di ‘alam sana’ nanti
Terima kasih banyak..
Comment #1209 by Herry — Monday, January 28, 2008 @ 16:40
Allahu Akbar… Asma-Sifat-Afal-Dzat…
Comment #1284 by Iftahlana — Sunday, March 2, 2008 @ 22:05
ismulhaq.com
Comment #1475 by Girang Permata Gusti — Sunday, April 27, 2008 @ 11:07
komentar mas herry bagus banget…… skalian mo nanya nih, mas herry biasa bikin buku gak ?
Comment #1564 by wadah nun — Friday, May 30, 2008 @ 16:46
Comment #1573 by adjipamungkas — Sunday, June 1, 2008 @ 00:49
Bismillah Alhamdulillah..
Semoga Yang Memberi Petunjuk mencapai kepada pendaki yang memohon (suluk).
Salam buat Mas Herry. Teruskan berkarya. Rasanya saya telah ‘dibawa’ ke situs ini untuk mendapatkan sesuatu. Saya telah menemuinya. Syukur. Terimakasih Mas.
Comment #1641 by Irwan Mahpoel — Monday, June 30, 2008 @ 03:22