Suluk .:. Bayangan Sekeping Cermin…™

Tuesday, June 21, 2005

Mampukah SQ Menyentuh Aspek Esoteris Agama : Sebuah Apresiasi Kritis terhadap Spiritual Quotience

Oleh Tri Boedi Hermawan, Yayasan Paramartha.

 

Sebagai sebuah produk keingin tahuan manusia Barat Modern untuk mengungkap misteri hakikat kemanusiaan —khususnya kecerdasannya —, SQ memberikan kesegaran baru di tengah-tengah pendekatan sains yang selama ini memisahkan diri dari perspektif agama. Bukti-bukti saintifik dan kajian-kajian kemanusiaan versi agama-agama Timur menjadikan menjadikan SQ seolah mampu mengharmoniskan persete ruan sains versus agama. Dengan menunjukkan hakikat kemanusiaan versi Esoteris Islam, Barat Pramodern, dan Barat Modern, kita dapat menun jukkan keberatan atas klaim di atas.

PADA pertengahan tahun 2000 dunia pendidikan dan psikologi kita dihenyakkan dengan temuan Barat Modern tentang ukuran kecerdasan manusia yang terbaru, yang mereka sebut SQ, Spiritual Intelligence. Maraknya diskusi tentang SQ tersebut tak pelak lagi ikut melibatkan para tokoh agama, termasuk ulama Islam, hal ini disebabkan penggunaan istilah Spiritual—yang biasanya sangat kental muatan keagamaannya—yang disematkan dalam ukuran kecerdasan tersebut. Benarkah istilah spiritual yang dimaksud oleh tokoh-tokoh SQ semakna dengan pemaknaan versi esoteris agama-agama? Aspek kemanusiaan apakah yang diukur dalam SQ? Apakah ada keterkaitan SQ dengan ukuran-ukuran tashawwuf dalam Islam tentang kesempurnaan manusia?

(selanjutnya…)

Ulasan Kritis terhadap Model-model Kecerdasan Berbasis Neuroscience : IQ, EQ, dan SQ

Oleh Lucky G. Adhipurna, Yayasan Paramartha

Model-model kecerdasan yang kini dikembangkan dalam dunia psikologi mendasarkan argumen-argumennya pada temuan-temuan ilmiah dari studi dan penelitian neuroscience. Mulai dari model kecerdasan konvensional (IQ), kecerdasan emosional (EQ), hingga yang mengklaim diri sebagai model kecerdasan ultimat: kecerdasan spiritual (SQ), seluruhnya masih menjelaskan kesadaran manusia dengan segenap aspek-aspeknya sebagai proses-proses yang secara esensial berlangsung pada jaringan syaraf. Meski jaringan syaraf pusat menampakkan gejala-gejala aktivitas kesadaran manusia secara dominan, namun sekedar mereduksi entitas kesadaran ke dalam proses-proses syaraf tersebut, hanya akan memastikan hilangnya peluang untuk menjelaskan struktur kesadaran manusia secara utuh dan fundamental. Pendekatan alternatif selain model-model neuroscience terhadap gejala-gejala kesadaran ini antara lain diperoleh melalui teori-teori kognisi kontemporer yang berbeda dengan pendekatan sebelumnya dalam hal penekanannya terhadap proses hidup secara keseluruhan, alih-alih memusatkan perhatian terhadap jaringan syaraf pusat saja. Pendekatan ini mengkarakterisasi diri manusia dalam struktur-struktur sistem kompleks metasistemik dengan sifat-sifat emergent yang nampak sebagai gejala-gejala kecerdasan.

 

I. Pendahuluan

Studi dan penelitian tentang kecerdasan dalam psikologi modern pada dasarnya termotivasi untuk memenuhi keperluan-keperluan praktis yang terkait dengan dunia pendidikan/pekerjaan/kehidupan sehari-hari; yakni untuk memahami, mengukur, mengklasifikasi, mengelola serta memanfaatkan aspek-aspek kecerdasan individu dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam konteks ini, kecerdasan dimaknai–sama seperti maknanya dalam bahasa sehari-hari–sebagai kemampuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan praktis (problem-solving capacity).
(selanjutnya…)

Struktur Insan dalam Al-Qur’an : Apa yang Tersentuh Oleh Psikologi Analitik, dan Status Kecerdasan Spiritual (SQ)

Oleh Zamzam A. Jamaluddin T dan Tri Boedi Hermawan, Yayasan Paramartha

Terbatasnya pengetahuan para teoritikus kepribadian Barat tentang struktur internal manusia telah melahirkan banyak mazhab kepribadian. Kerangka keilmiahan telah membatasi mereka dalam proses analisis dan sintesis konsepsi kepribadian manusia seutuhnya. Carl Gustav Jung melakukan terobosan dalam membangun psikologi analitiknya, ia melibatkan data-data mitologi dan simbol-simbol agama ke dalam kerangka analisis ilmiahnya. Dalam alur ini, Kecerdasan Spiritual (SQ) dalam proses perumusannya tidak sekadar meninjau keparalelan antara produk saintifik Barat dengan fenomena mistik Timur, tapi tampak memaksakan melakukan interpretasi atas fenomena metafisik spiritual secara fisika dan sains neural, dan ini melahirkan sejumlah paradoks. Paper ini membahas tentang struktur internal manusia berdasarkan kerangka acuan Al-Qur’an, kemudian akan dilihat persoalan apa yang tersentuh oleh konsepsi individuasi Jung dan status SQ dalam peta ini.

 

1. Pendahuluan

Terumuskannya sejumlah teori kepribadian merupakan cermin dari upaya ilmiah manusia untuk memahami dirinya sendiri secara menyeluruh. Dewasa ini dikenal tiga teori utama yang satu dengan yang lainnya berbeda, yakni teori kepribadian Psikoanalisa (Freud), teori kepribadian Behaviorisme (Skinner), dan teori kepribadian Humanistik (Maslow)[1]. Istilah kepribadian (personality) memiliki banyak arti, ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian, dan pengukurannya. Di antara para psikolog belum ada kesepakatan tentang arti dan definisi “kepribadian”, sehingga banyaknya definisi kepribadian sebanyak ahli yang mencoba merumuskannya. Melihat asal katanya, personality itu sendiri berasal dari kata latin persona yang berarti topeng.
(selanjutnya…)

eXTReMe Tracker
'SULUK .:. BAYANGAN SEKEPING CERMIN ™' © 2006 by Herry Mardian  |  Seluruh isi situs ini ada di bawah lisensi Creative Commons License.
Dilarang mengutip untuk tujuan komersial (termasuk buku), atau tanpa mencantumkan sumber, nama penulis, dan link ke sumber tulisan.
Indonesia Top Blog Religion Blogs - Blog Top Sites