Oleh Alfathri Adlin, anggota Forum Studi Kebudayaan ITB, editor Jalasutra dan Pustaka Prabajati.
Kemacetan yang semakin parah, sedotan rutinitas kerja yang monoton dan melelahkan, serta interaksi antar manusia yang tidak ramah. Orang harus berangkat kerja sewaktu masih subuh, agar tidak terjebak macet. Sesampainya di kantor, mereka bekerja. Ketika waktu pulang tiba, banyak yang memilih shalat maghrib di kantor, atau mampir dulu di berbagai tempat hiburan, agar bisa menghindari kemacetan. Sesampainya di rumah, badan sudah terlalu lelah untuk menikmati waktu senggang dengan kembali kepada diri. Bahkan di akhir pekan, mereka cenderung “pergi keluar dari diri”, menuju perangkap eksterioritas yang dipenuhi imaji dan ilusi.
APA kiranya yang terbayangkan saat kita disodori kata “waktu senggang”? Pergi berlibur? Jalan-jalan sambil belanja di mal dan factory outlet? Pergi menonton ke bioskop? Bertamasya? Silahkan bayangkan sendiri kegiatan “waktu senggang” lainnya yang lazim bagi Anda.
Namun, perhatikan lebih seksama, saat ini terlihat bahwa bayangan kita tentang waktu senggang lebih terkait dengan rekreasi. Rasanya nyaris tidak pernah “waktu senggang” dikaitkan lagi dengan –reflektivitas dan kontemplasi–. Sebagaimana disinyalir Bambang Sugiharto, di waktu senggang manusia kontemporer kini cenderung “pergi, ke luar dari diri, menuju perangkap-perangkap eksterior”, bepergian ke tempat-tempat yang disebutkan di atas.
(selanjutnya…)